MALING SAKAW!

Mulai dari awal

Dari depan pintu, darah Laras hampir beku. Seorang lelaki dengan topeng di wajahnya menoleh dan ikut terperanjat. Berkas-berkas di tangannya dilempar begitu saja, langsung menyerang Laras.

Reflek Laras bertahan dan sempat memukul balik saat maling itu lengah. Ada yang aneh di pertarungan ini menurut batin Laras. Maling itu tidak begitu sigap, untuk ukuran badannya yang lebih besar dari Laras. Seolah dengan tenaga tersisa meladeni serangan.

Mendengar ribut-ribut di luar, Mama dan Simbok muncul. Laras tidak menghiraukan Mama dan Simbok yang masing-masing membawa sapu dan panci bertangkai. Anehnya, maling itu makin lemah. Sekali kesempatan, Simbok melayangkan pukulan telak ke kepala maling.

Bug!! Maling itu tersungkur. Simbok berteriak kegirangan. Mama terengah-engah mengusir kekagetan dan ketakutannya. Laras memeriksa maling itu, dan melepas topengnya. Alangkah kagetnya!

"Ini Respati, Ma!" Laras berseru heran. "Yang gangguin Laras di stasiun! Yang nyolong backpacknya Iin!"

Mama mendekat hati-hati. Meneliti wajah Respati.

"Dia punya tato, Ras!" desis Mama dengan wajah kaget.

Laras melongok. Iya, tato kecil berbentuk tengkorak. Apa istimewanya?

Simbok mencolok bahu Respati dengan gagang panci.

"Namung semaput nggih, Ndoro? Rak boten pejah, to?" Simbok memastikan maling itu masih hidup. Mama meyakinkan.

"Pak Satpam!" Laras bergegas ke pos penjagaan.

Di kolong meja, Pak Satpam meringkuk dengan tangan dan kaki terikat, sementara mulut ditutup lakban lebar. Ada luka berdarah di pelipisnya. Laras cepat-cepat menolongnya.

"Sumprit, Mbak Laras! Mau saya rebus itu maling!" Pak Satpam emosi sambil melepas ikatan. "Kepala saya dilempar batu! Kurang ajar! Dia naik dari pagar tetangga sebelah!"

Laras menyesali juga dinding tetangga di sekitarnya tinggi-tinggi, jadi keributan seperti itu tidak mudah terdengar.

Respati ditarik ke teras samping, tergeletak begitu saja. Laras memeriksa kantong baju dan celana panjangnya, menemukan beberapa lembar arsip milik Papa yang dicuri. Dibacainya lembaran yang digulung dan dilipat tak beraturan.

"Apa yang dia cari? Cuma catatan perjalanan Papa," bisik Laras.

Pak Satpam tampak tak tahan emosi dan mengguyurkan segayung air. Respati gelagapan. Tapi ia tak sanggup duduk. Badannya menggigil, matanya menyipit, raut mukanya keruh. Badannya sesekali mengejang. Ia menceracau.

"Dia kesetanan, itu, Ndoro.." bisik Simbok ngeri. Mama dan Laras mengawasi gerak-gerik Respati. Pak Satpam bengong setengah menyesal telah mengguyur.

"Kayak sakaw, Ma..." Laras menebak.

Mama mengangguk, "Iya, kita biarkan saja dulu. Pak, lepasin bajunya, ganti dengan yang kering! Habis itu, tetap awasi!"

Pak Satpam menghormat dan segera menjalankan perintah.

"Maling kayak begini, kok dikasih baju, Ndoro?" Pak Satpam menggumam tak mengerti.

"Dia itu sakit, Pak. Saya mau panggil dokter," Mama meyakinkan tak akan terjadi apa-apa. Laras mengikuti Mama ke ruang dalam. Simbok memilih menemani Pak Satpam sambil berjaga dengan pancinya.

Mama bergegas mengirim pesan pendek ke relasinya, dua orang dokter yang baik hati.

"Telepon aja sih, Ma.." usul Laras tak sabar. "Trus lapor ke polisi!"

Backpacker SurpriseBaca cerita ini secara GRATIS!