DISANGKA MALING!

16 0 0

Jangan marah kalau disangka buruk

Barangkali kita memang begitu

Yang penting, tetaplah berusaha

Menjadi orang baik

Bahkan yang lebih baik.

Kereta ekonomi bergerak bagai ular, mengguncang-guncang tubuh penumpang dengan irama yang konstan. Sesekali pelan, ditingkah bunyi peluit besar. Mungkin dari sinilah bunyi 'tut-tut-tut' yang menempel di setiap ingatan tentang kereta api.

Laras duduk bersandar di jendela kaca, menikmati pantulan bayangan penumpang dan titik-titik lampu di gelap luar sana. Esok pagi ia akan sampai ke kota kelahirannya, Solo, kembali pada pelukan Mama, single parent yang amat mengerti jiwa Laras yang selalu ingin bepergian.

Pula kembali pada keriuhan sekolah, setelah liburan semester, berkumpul di sekolah bersama teman-teman rombongannya sekarang. Laras melirik pada teman-temannya yang duduk di sekitarnya, menemani hari-hari backpackingnya. Hampir semua berwajah kuyu, tapi sorot mata mereka terlihat lebih gembira.

"Eh, inget ya, jangan tidur semua, banyak copet! Jadi kita tidur bergiliran. Empat orang tidur, dua jaga, biar bisa ngobrol. Gantian, sampai besok," Laras mengingatkan.

"Wah, padahal ikke mau puas-puasin tidur," Tatik mengeluh.

"Ya udah, biarkan copet bertindak," Laras tertawa kecil. "Harus ada yang jaga. Itu aturannya," Laras menegaskan.

"Aku yang pertama... tidur!" Bambang bersiap dengan tampang manisnya. Bhaskoro yang duduk di sampingnya langsung main jitak, membuat Bambang membalasnya.

Laras dan Retno kebagian jaga di tengah malam. Sebenarnya Retno protes, tapi Laras membujuknya.

"Sudahlah, Ret, kita jadi punya pengalaman begadang..."

Retno tersenyum kecut. Tapi tetap manggut-manggut.

Tengah malam, Laras kebelet ingin pipis.

"Eh, gue ke toilet dulu. Nih, titip tas gue, jagain barang-barang kita. Jangan meleng, apapun yang terjadi, biar ada bule keren, jangan tergoda!" Laras tertawa meledek, sambil mengambil tisu basah dan sebungkus kecil panty liner.

"Iya, iya... sana, sebelum ngompol di sini!" ledek Retno.

Laras bergegas ke toilet, membuang hajat buang air kecil. Saat nongkrong, Laras sempat memikirkan, kenapa dia nggak bawa gadget. Biar tidak bosan kalau buang hajatnya agak lama, atau kalau ada apa-apa dia bisa kontak teman-temannya. Untuk mengambilkan tisu tambahan, misalnya. Atau membantu membukakan pintu toilet yang agak seret karena karat.

Laras ketawa sendiri memikirkan ide jahilnya. Tapi memang perlu kemana-mana bawa gadget di tempat menyendiri. Apalagi bising suara kereta. Kalau ada apa-apa, menjerit pun suara Laras nggak terdengar ke kursi teman-temannya.

"Ah, ngapain juga harus takut!" Laras membersihkan diri dengan tisu basah dan mengganti pantyliner, semacam pembalut tipis yang bisa dipakai sehari-hari. Dia merasa penting sekali, melakukan itu, untuk menjaga kebersihan organ reproduksi, apalagi di tempat seperti toilet umum, dengan air yang terbatas, di mana bakteri banyak tersebar.

Untunglah pintu toilet tidak susah dibuka. Di lorong luar pintu, ada dua orang lelaki berdiri diagonal. Tampak menunggu giliran ke toilet. Yang terdekat pintu sedang merokok, dan segera membuang rokoknya, dengan gelagat hendak masuk toilet. Lelaki lainnya menyandar di dinding dan menunduk.

Backpacker SurpriseBaca cerita ini secara GRATIS!