PERTEMUAN SENGIT

10 0 0

Saat kamu terjaga dini hari

luangkan waktu

untuk sekedar menengok langit

sekedar menyapa hari

bahwa kamu masih ada.

Pohon, bangunan dan jalanan tampak berlari. Kepulan debu menari di mana-mana.

Bus bandara Soetta yang mengangkut rombongan Larasati, merayap pelan menuju Stasiun Senen. Siang panas mulai menggelisahkan Larasati dan rombongan. Rasa lelah makin menggelayut, sementara perjalanan belum juga sampai di tujuan.

"Kita naik apa nanti, Ras?" tanya Tatik parau. Radang tenggorokan mulai menyerangnya.

"Kereta ekonomi," Laras menyodorkan sebotol air mineral. "Minum yang banyak biar rasanya mendingan."

Mereka tidak banyak bercakap selama perjalanan ke Stasiun Senen. Juga tidak tidur. Pandangan dilempar ke jalanan. Banyak hal yang mereka dapat selama backpacking bersama. Suka-duka membuat mereka jadi lebih dekat, senasib seperantauan.

Hingga tiba di Stasiun pun tak banyak yang mereka bincangkan. Setelah mendapat tiket, mereka merundingkan masalah waktu keberangkatan kereta yang masih lama. Retno mengusulkan untuk jalan-jalan di seputar Senen. Tatik dan Iin sontak setuju, tapi terdiam ketika ditanya backpack mereka mau dibawa?

"Nitip sama kamu dong, Bhas..." rengek Iin. "Kapan lagi coba, ke nJakarta?"

"Woo... kalau nitip ke aku, tak buang langsung!" Bhaskoro berseloroh jengkel. "Wis, aku arep turu, sik!"

Bhaskoro dan Bambang pun menggelar koran bekas yang mereka temukan banyak tergeletak di kursi peron. Mereka lalu menyimpan backpacknya di sisi dinding, memanjang pada sisi peron yang tidak berkursi. Laras pun mengikuti kedua teman lelakinya itu. Matanya sudah tidak tahan untuk mengatup.

"Mending kita tidur dulu, buat makan malam nanti kita cari yang murah meriah ya, di luar stasiun," Laras menata koran sambil menoleh ke Retno cs. "Kalian nggak mau tidur?"

Retno cs menggeleng yakin.

"Ya udah. Eh, semuanya, jagain backpack masing-masing, ya!" Laras bersiap untuk tidur. Bambang dan Bhaskoro sudah nyenyak duluan.

Laras melirik wajah teman-temannya. Perasaan haru muncul di hatinya. Muka mereka tampak lelah, tapi sepanjang yang diketahuinya, mereka menikmati petualangan bersama Laras. Hanya Tatik dan Iin agak takut-takut, melihat beberapa orang memperhatikan mereka.

Sebenarnya orang sama memperhatikan Retno yang ikut bernyanyi tanpa suara, dengan earphone melekat erat di kupingnya. Gaya Retno yang sedikit heboh, merem sambil mengacungkan tangan dan menggoyangkan kepala, mengikuti irama entah music apa!

Laras, Bambang, Bhaskoro tidur nyenyak di emper peron. Retno, Tatik dan Iin tampak lebih waspada. Sebenarnya backpack mereka lumayan aman, karena dijaga dengan meletakkannya di sisi dinding. Jadi kalau ada yang mau merampok juga harus melangkahi tubuh backpacker itu dulu.

Tapi tetap saja Retno cs gak bisa tidur tenang. Dengan alasan menjagai backpack, mereka memilih ngerumpi pengalaman selama backpacking. Sesekali tertawa terkekeh.

"Eh, kalian tahu nggak, pengalaman yang paling tegang itu, waktu lihatin Laras hampir jatuh ke sungai, waktu di rumah rakit!" Retno berkata serius. Tatik dan Iin ikut mengangguk serius.

"Tapi juga yang paling lucu! Inget nggak, tampangnya waktu menggelayut kayak koala?" Retno bertanya sambil memeragakan Laras memeluk batang balok titian. Tatik dan Iin tertawa tergelak.

Backpacker SurpriseBaca cerita ini secara GRATIS!