MUSI MAKES ME HAPPY!

12 0 0

Sesekali

harus diluapkan kebahagiaan itu

berteriaklah

jika perlu

tapi lebih baik lagi

membaginya bersama yang lain...

Pagi buta Larasati dan rombongannya menggunakan travel menuju Palembang. Semula Laras ingin segera pulang ke Solo melalui jalan darat dari Jakarta. Uang sakunya mulai menipis untuk menalangi tiket teman-temannya.

Tapi Tante Trini dan relawan di Sudut Baca Bayung Pustaka, di Musi Banyu Asin, mengiming-imingi untuk mengunjungi Sungai Musi di jantung Palembang. Iin dan Tatik yang semula homesick berat jadi ngiler juga. Gantian mereka membujuk Laras untuk mau mampir sebentar di Palembang.

"Sehariiii aja, Raas..." Iin dan Tatik sama-sama mengedipkan mata di hadapan Laras. Membuatnya tak tahan untuk mengangguk.

Sontak semua temannya bersorak.

"Tapi kita tinggal di penginapan murah meriah ya!" Laras mengingatkan mereka sudah berada di ambang kantong kempes.

"Jangan kuatir, Ras, aku akan mengurangi makan!" seru Bambang sembari mengelus perut buncitnya.

Maka dini hari mereka bersiap, meski cuma mandi koboi. Di mobil, mereka melanjutkan tidur. Tahu-tahu pagi harinya sudah sampai di Palembang, langsung mencari penginapan murah meriah di dekat Masjid Agung.

Di kamar perempuan, Laras browsing tempat-tempat wisata di Palembang. Berhubung waktu yang mereka miliki hanya sehari sesuai perjanjian bersama, mereka memutuskan mengarungi Sungai Musi dan menikmati keindahan sepanjang tepiannya, dan berujung di Pulau Kemaro.

"Ada apaan di sana, Ret?" Iin bertanya sambil mengupas kacang kulit.

"Ada kelenteng, vihara gitu!" Retno sok tahu, padahal dia juga baru lihat-lihat halaman laptop Laras yang memunculkan hasil browsing wisata Palembang.

"Apa anehnya vihara? Di Solo juga ada kan, di Pasar Gede!" Tatik nimbrung.

"Nih, katanya, meskipun Sungai Musi pasang, pulau itu tetap kering, geto!" Laras menunjuk keterangan di monitor. "Kayaknya asik, soalnya untuk ke sana kita musti menyusuri Sungai Musi!"

"Pakai pelampung, nggak?" Tatik meringis, membayangkan tenggelam.

"Halaah! Backpacker kok takut air!" Laras setengah kesal menimpuk Tatik dengan kacang garing. Tatik membalas sambil tertawa-tawa.

"Eh! Ayo! Jam delapan, kita jalan!" Retno menengahi. "Laras! Tatik! Beresin dulu sampahnya!"

Pukul sembilan mereka sudah jalan ke tepian Sungai Musi. Setelah tawar-menawar dengan beberapa pemilik perahu motor, mereka mendapatkan harga cocok.

Jadilah petualangan ini disebut Bhaskoro sebagai 'Pelayaran Enam Sekawan Menyusuri Sungai Musi Menuju Pulau Kemaro'.

"Walah, dawane Bhas!" Iin tertawa. "Nyari nama itu yang keren, misalnya 'Enam Jagoan Versus Calo Perahu'!"

Mereka sama tertawa mengingat debat kusir dengan para calo. Sepanjang Sungai Musi mereka tengok kanan-kiri, dengan noraknya foto-foto narsis. Perahu juga sempat mampir ke pangkalan bensin di tepi sungai. Bambang sempat minta difoto di situ, di antara drum bensin. Teman-temannya meledek, tapi tidak dihiraukannya. Gayanya bermacam-macam, ada yang cool, atau konyol.

Backpacker SurpriseBaca cerita ini secara GRATIS!