BANYAK CINTA BUAT LARAS

12 0 0

Coklat terasa manis

jika mengingatnya begitu

Coklat jadi pahit

jika hati pilu...

(saat Laras punya banyak stok coklat)

Tante Trini mengundang Laras dan kawan-kawan untuk mengunjungi basecampnya. Semula rombongan itu hendak langsung pulang ke Solo via Jakarta, tapi undangan Tante Trini yang sudah banyak membantu mereka selama di Musi Banyu Asin tidak enak ditolak.

"Berapa hari, Ras?" Iin yang sudah homesick cemberut.

"Paling dua harianlaah... atau malah sehari..." Laras membujuk sambil menyuap Iin dengan sebatang coklat lapis almond. Iin langsung mengangguk setuju sambil menyambar batang coklat merk SQ di tangan Laras.

"Eh, bagi dong!" Tatik segera menguber Iin yang sembunyi di kamar rumah rakit.

"Dasar, kayak nggak pernah makan coklat!" Bhaskoro menggelengkan kepala. Lalu bisik-bisik ke Laras, "Ada lagi, nggak?"

Laras menimpuk Bhaskoro dengan koran pagi, "Nggak ada lagi!"

Bhaskoro meringis lalu memburu coklat yang diumpetin Iin. Terdengar debat kusir di kamar, antara tiga pemburu coklat.

Esoknya mereka berpamitan dengan Pak Udin, Bu Maryah istrinya dan dua anak mereka. Tak urung air mata menitik di pipi para perempuan, mengingat kebersamaan mereka beberapa hari belakangan. Laras menyusut air mata dengan lengan bajunya.

"Jangan sungkan mampir lagi ke sini," pesan Bu Maryah sambil memeluk Laras erat. Laras mengangguk sambil menggigit bibir, menahan haru.

Di depan dua anak Pak Udin, Laras berjongkok dan mengangsurkan dua batang coklat merk SQ ukuran besar, isi kacang mede dan almond. Laras mengedipkan sebelah mata ke teman-temannya, yang menatap dengan mupeng alias muka pengen.

Mereka berjalan di jembatan kayu, yang sekarang ditambah beberapa balok oleh Pak Udin, khusus untuk tamu-tamunya, mengingat insiden Laras yang hampir jatuh ke air saat kedatangannya. Rombongan itupun dengan yakin melewati titian, menuju daratan.

Di tepi sungai, mereka melambaikan tangan ke keluarga Udin, meneriakkan ucapan terima kasih yang tulus, menyimpan baik-baik kenangan selama bersama.

Berhubung Tante Trini tidak dapat menjemput karena harus membuat laporan kegiatan, mereka naik angkutan umum, apalagi jalur yang harus ditempuh ke basecampnya sepanjang jalan raya Jalur Lintas Timur Sumatra, tanpa acara belok-belok gang segala.

"Eh, ada motor becak!" Laras berseru sambil mendekat. "Bang, tiga becak! Tapi yang satu saya yang pegang, ya!"

Pemilik becak motor bengong.

"Saya sewa motor Abang, tapi saya yang mengemudi, " Laras menjelaskan teknisnya. Dia akan sebecak dengan Tatik dan Iin, sementara pemilik motor naik becak motor dengan Bhaskoro. Bambang sebecak dengan Retno.

Orang-orang memperhatikan Laras yang nekad menjajal becak motor sebentar, lalu mengacungkan ibu jarinya, meyakinkan Tatik dan Iin.

"Ini ada asuransinya nggak?" Tatik mengomel sambil naik ke jok penumpang.

"Udah, sama Tuhan langsung diasuransikan!" Iin duduk di sebelah Tatik. "Kita terima nasib kita di tangan Bang Laras!"

Laras ngakak mendengarnya, "Jangan lupa berdoaaaa!" becak motor yang dikemudikannya melesat kencang, membuat beberapa pejalan kaki mengomel.

Backpacker SurpriseBaca cerita ini secara GRATIS!