RUMAH RAKIT

23 0 0

Jauh dari rumah

apa bisa kupegang?

Bintang dan gelombang air

atau jejak matahari

jangan pula jauh dari-Nya

sebab Ia pencipta segala tapak...

Suara binatang malam di daratan menggelitik telinga Larasati. Bola matanya bergerak-gerak di balik kelopak.

Laras meringis kesakitan. Kepalanya seperti ditusuk seribu jarum. Angin lembut mengipasi mukanya. Samar didengarnya celoteh centil yang amat dikenalnya.

"Ih, Laras belum bangun juga?" celetuk Tatik prihatin.

"Belum. Masih krasan semaputnya," bisik Retno.

"Ssstt... kalian ini, temen sakit jangan dirasani to!" sahut Iin kesal.

Laras mengerang. Protes. Ia sakit kepala dan tidak mampu membuka mata. Ketakutan mulai menghinggapinya.

Sementara tubuh Laras terasa terayun. Reflek ia membuka mata. Gempa?

"Naaah! Ras! Kamu sudah siuman!" Retno memukul paha Laras dengan kipas daun pandan.

"Syukur Alhamdulillah..." Tatik menggenggam tangan Laras dan tersenyum haru.

"Mau minum nggak, Ras?" Iin mengusap dahi Laras yang berpeluh.

Laras mengamati teman-teman ceweknya. Yang ditatap saling pandang.

"Kamu nggak amnesia kan, Ras? Kalo mau amnesia lagi, ntar kalo udah di Solo aja," Tatik memohon.

"Huss!" Retno menyikut Tatik sambil melotot.

Susah payah Laras membuka mulut untuk bicara. "Gempa?"

Ketiga temannya saling pandang.

"Bukan. Kita lagi di atas air. Inget kan? Kita ini di Jambi, nginep di rumah rakitnya Pak Udin," Iin membantu Laras yang ingin duduk. "Pelan-pelan..."

Laras menoleh ke jendela yang terbuka sedikit. Langit menghitam dan tampak titik cahaya di kejauhan. Lampu daratan.

Bau lembab kayu menyeruak. Laras merasakan dingin di permukaan lantai kayu.

"Ret, anterin pipis, yuk!" bisik Tatik.

"Pipis aja sendiri," Retno menatap heran.

"Nggak ada kamar mandinya," Tatik mengeluh. "Masa aku disuruh pipis di luar rumah, Ras?"

Laras tersenyum. Ingatannya normal lagi. Pusing masih terasa, tapi dilawannya dengan semangat.

"Keluar, yuk? Bantuin, ya?" Laras bersemangat lagi.

"Ret, anterin ya?" Tatik mengekor Retno yang memapah Laras.

Di ruang tengah, tampak Pak Udin, istri dan dua anak balitanya bercengkrama sambil menonton televisi. Bambang dan Bhaskoro ikut berbincang.

"Eh, mbak Laras! Sini, Mbak!" Bu Maryah, istri Pak Udin menyapa ramah.

Tatik menarik Retno keluar rumah untuk buang hajat.

"Udah baikan, Ras?" Bhaskoro merogoh sakunya. "Kamu pasti kangen sama mainanmu!"

Bhaskoro mengacungkan BlackBerry milik Laras dan Papa.

"Kok bisa ada di kamu?" tanya Laras lirih sambil menerima gadgetnya.

"Berisik. Bunyi mulu, jadi kumatikan," Bhaskoro menyahut kalem.

Backpacker SurpriseBaca cerita ini secara GRATIS!