DON'T CHAT WITH A STRANGER

18 0 0

Hati-hati saat bertemu

seseorang yang kau tak tahu

rupa, senyum dan sorot mata

apalagi sikap.

Karena lidah

tetap saja tanpa tulang!

Malam itu di kamar hotel kelas melati milik Bu Dhe, saudara jauh dari pihak mamanya, Larasati duduk di depan meja menghadapi laptopnya dengan berdebar. Ia tengah chating dengan mamanya, membicarakan "someone" yang diduganya papa.

"Someone" yang tahu beberapa bagian perjalanan hidupnya. Ia muncul di BlackBerry Messenger dan direct message beberapa akun jejaring sosial milik Laras. Seseorang yang menempatkan gambar coretan masa kecil Laras sebagai gambar profil, dan menyinggung tentang cerita Papa yang pernah ke Jambi.

Mama mengingatkan agar waspada, siapa tahu seseorang itu bukan Papa, atau hanya mengaku-aku. Laras harus hati-hati, dilarang terpisah dari rombongan. Mama menuliskan dengan tanda seru tiga buah. Itu artinya harus dituruti. Ya, Laras tahu itu.

Anehnya, seseorang itu tidak meninggalkan tanda di akun Papa, batin Laras heran bin pusing. Kepalanya berdenyut-denyut. Ia lupa minum obat rupanya. Vitamin bagi otak, begitu dokter menyebut obat yang harus diminumnya.

Gerakan Laras menuang air ke gelas dan sendawa setelah minum obat membangunkan Retno.

"Apaan sih, Ras? Udah malem nih, tidur! Besok kita kesiangan lagi!" Retno menguap dan menarik selimut, membuat Tatik dan Iin yang juga tidur sekasur ikut berebut selimut. Laras tersenyum meninggikan suhu AC. Ia mematikan laptop dan membereskan print out tiket online Jkt-Jambi untuk berenam.

Larasati berbaring di ekstra bed sambil menatap langit-langit. Memikirkan hidupnya yang rasanya rame kayak slogan iklan. Ia sadar, hidupnya mengalir begitu saja, kadang nikmat, rumit, ribet, lucu, enjoy dan ada juga saatnya susaaaaah banget. Itu harus dihadapinya sendiri. Meski ada Mama, tapi sebenarnya lebih banyak dia sendiri yang menyelesaikan. Sesekali Mama dan Eyang putri turun tangan, yang bagi Laras lebih berupa campur tangan. Tapi jika tidak, urusannya jadi lebih berat.

Sebagai remaja tanggung, anak bukan, dewasa belum, Laras cuma punya keberanian dan keyakinan. Berani karena dia punya bekal Tae Kwon Do, yakin karena dasar agama yang diajarkan Mama dan Eyang Putri amat mencengkeram batinnya. Di manapun, bagaimanapun, Allah tidak akan meninggalkan hamba-Nya, selama hamba itu berbuat baik. Karena itulah Laras berusaha berbuat baik terus. Meski kadang dia berantem, jahil, kurang ajar sedikit.

Laras memiringkan tubuhnya. Banyak orang berjasa dalam hidupnya. Salah satunya Darmanto. Ah, ya, kemana anak itu sekarang? Laras mengingatnya sambil tersenyum, hingga terbawa tidur.

***

"Wakakakaka!!" suara cempreng itu pecah seiring dengan timpukan benda empuk di muka Laras.

"Gile! Bangun, Ras! Iler dipiara!" Retno menciprati muka Laras dengan air minum. Laras gelagapan, dan baru sadar ia tidur dengan ngiler. Cepat-cepat dia masuk kamar mandi diiringi tawa teman-teman cewek.

"Awas kalo kalian bahas lagi masalah iler!" Laras nongol lagi dengan mulut penuh busa pasta gigi. Sikat giginya ditunjukkan ke teman-temannya. "Gak bakal gue tunjukin jalan!"

"Iya! Iya!" Iin mengangguk serius. Laras masuk kamar mandi. Teman-temannya tertawa ngakak tanpa suara.

"Gak pake suara juga gue tahu ente-ente pada ketawa!" seru Laras asal ngomong. Tak urung teman-temannya keder juga, mereka langsung diem.

Backpacker SurpriseBaca cerita ini secara GRATIS!