Awal Baru

2.9K 219 1

Kehidupan yang baru Naya lalui tanpa ada lagi bayang-bayang masalalu. Sudah sepenuhnya mengikhlaskan yang terjadi di masa lalu. Semakin hari ia semakin bersyukur telah melalui kehidupan yang sedikit dibumbui dengan drama, setidaknya ia lebih bisa menjadi manusia yang lebih bersabar dan mensyukuri segala yang terjadi.

-

Malam minggu ini, Naya dan Rian menyempatkan untuk mengunjungi rumah kedua orangtua Naya. Atmosfernya terasa nyaman, karena aemua berkumpul dalam satu ruang. Bapak, Ibu, Mba Raya serta suami dan anak-anaknya berkumpul. Penuh canda tawa yang menghangatkan suasana.

"Dek apa kamu ga mau cepet-cepet punya momongan tah?" suara Ibu mengalihkan fokus Naya dari kedua keponakannya yang sedang asyik bermain.

Bapak, Mas Bayu dan Rian sedang ada diteras sambil bercengkerama sembari minum kopi. Sedangkan Naya, Ibu dan Mba Raya sedang berada di ruang tv.

Mba Raya pun ikut angkat bicara mendengar pertanyaan ibu. "Nah iya Dek, masa belum pengen sih?"

Naya tersenyum lembut mendengar pertanyaan dari kedua wanita yang dicintainya. "Ya belum dikasih rezeki tah mau gimana? Yang penting kan masih berdoa sama berusaha, masa iya Naya mau sekarang besok langsung dikasih?" diselingi tawa Naya menjawabnya.

"Ya mbok sopo ngerti sesuk wes positif" canda mba Raya yang diikuti tertawa renyah dari mereka.

"Aminnnn" ibu dan Naya serempak meng-amin-kan.

Malam ini Naya dan Rian memang akan menginap dirumah orangtua Naya. Memasuki kembali kamar yang dulu Naya tempati sejak kecil hingga akhirnya ia dipinang oleh Rian. Maih terpasang rapih di meja foto-foto lawasnya, masih tersusun tapih juga buku-buku dimeja belajar yang menemani Naya. Yang berbeda hanya sudah tidak ada lagi baju yang penuh sesak didalam lemarinya.

Waktu sudah pukul 11 malam, Rian memasuki kamar dan mendapati Naya yang sedang tiduran sembari memainkan smartphone nya.

"Kok belum tidur Nay?" kata Rian sambil duduk di tepi kasur.

"Iya bentar lagi nonton youtube mas, bentar lagi tidur"

"Nay, tadi ditanyain apa aja sama ibu?"

Naya mengalihkan pandangannya kearah Rian. "Emang mas denger tadi?"

"Engga, makanya mas tanyaa"

"Ibu tanya, apa Naya masih belum mau punya momongan? gitu mas"

"Terus? kamu jawab apa?"

"Yaa belum dikasih rezeki"

"Yaudah, makanya kamu harus sering-sering berusaha."

"Akuuuuuuuuuuuu mulu....hmm"

Naya mematikan smartphonennya lalu hendak turun dari kasur untuk menaruh smartphonennya di meja rias. Sayangnya tangannya diraih oleh Rian sehingga ia tertahan disamping tubuh Rian. Tak segan Rian memeluk perempuannya itu dengan penuh rasa sayang. Naya membalas pelukan hangatnya. Rasanya semakin banyak bersyukur sudah mengirimkan Rian menjadi malaikat hatinya.

"Ih mas lepasin, mau naroh hp dulu, cuci muka terus tidur" rengek Naya.

Rian melepaskan pelukannya sambil tersenyum gemas.

Sekembalinya Naya ke kamar, Rian sudah dengan posisi tidurnya yang nyaman. Naya segera mematikan lampu dan segera tidur.

-

Pagi harinya, seperti biasa selalu sibuk dengan kegiatan memasak untuk sarapan minggu pagi. Hari ini Naya tampak paling tidak bersemangat untuk membantu menyiapkan sarapan, wajahnya pucat.

"Kenapa kamu? Sakit?" tanya Rian sambil mengua kepala Naya.

"Gatau, kaya pusing mual gaenak gitu badannya mas. Padahal semalem juga sehat-sehat aja. pas bangun malah gaenak badan"

"Minum teh anget dulu Dek" mba Raya mempersilahkan Naya meminum teh buatannya.

"Lagi 'isi' kali ini Dek." goda mba Raya yang hanya dibalas dengan senyuman dari Naya.

"Sek, coba check dulu nih." sambil memberi testpack untuk Naya.

"Lah mba orang aku gaenak badan malah diauruh cak cek cak cek. Engga ini gaenak badan masuk angin."

"Lah ya dicoba dulu sana."

Naya kali ini menjadi sangat penurut ke kakaknya itu. Ia menghambur ke kamar mandi dan mengecheck nya. Sedangkan Rian yang kini sedang mengelap mobilnya.

Keluar dari kamar mandi, Naya menghampiri mba Raya yang sedang meracik bumbu di meja makan.

"Piye dek hasilnya?" selisik mba Raya. Tak selang lama, terdengar suara mba Raya ke seluruh sudut rumah hingga halaman depan. "ALHAMDULILLAH!!"

Ibu dan Bapak yang baru saja sampai didepan rumah setelah dari pasar-pun mendengarnya. Bapak berteriak "Ada apa itu?! Kok suaranya sampe keluar?" sambil masuk ke area dapur sambil menenteng belanjaan ibu.

"Ini loh pak, Dek Naya positif hamil!!" dengan penuh kebahagiaan mba Raya mengatakannya kepada Bapak dan Ibu. Kemudian mereka memeluk Naya sambil bersyukur.

Rian yang sedang di halaman sambil mengelap mobil, mendengar kerubutan di area dapur akhirnya ia juga masuk. "Ada apa ini ribut-ribut? Sampe diluar suaranya loh"

"Ini, istrimu. Positif hamil." kata Bapak mendekat kearah Rian dan memeluk Rian yang mematung mendengarnya. Perasaan bahagia, terharu, bersyukur, campur aduk dengan segala kebahagiaan dan keterkejutan disaat yang bersamaan.

"Alhamdulillah......." Rian katakan sambil meneteskan air mata bahagia. Hidupnya akan semakin sempurna dengan keturunannya kelak. Ia mendekati Naya dan memeluknya dengan perasaan yang mendalam.

"Eh ada apa ini? Pagi-pagi kok pada peluk-pelukan didapur?" Mas Bayu, suami mba Raya yang baru saja bangun tidur dengan mata yang masih setengah sadar ia berjalan kearah dapur.

"Mau punya keponakan kamu Yu." kata ibu sambil tersenyum.

"Alhamdulillah, personel cucu ibu bapak bertambah berarti nih" mas Bayu sambil menepuk bahu Rian dan tersenyum.

Minggu pagi itu terasa sangat bahagia, ketika dikelilingi orang-orang tersayang dan ada hal yang membahagiakan terjadi. Semuanya terasa begitu sempurna.

Naya dan Rian, kini akan memulai kehidupan yang baru. Yang tanpa dihantui masalalu, dan yang terpenting. Mereka akan menjadi Rumah bagi anak-anaknya kelak. Tempat dimana anak-anak pulang dan berkeluh kesah nantinya. Hanya harapan yang baik agar kehidupan mereka semakin sempurna.

Dan ketika merasakan kenyamanan, kehangatan, keceriaan, kesedihan didalamnya. Maka hal itu akan selalu mempunyai tempat untuk mencurahkan segalanya. Dan inilah yang dinamakan, Rumah.

:)

-selesai-

RumahTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang