ʕ •ᴥ• ʔ maniak kebersihan [1]

4.5K 788 30
                                                  

hai hai ~ aku balik lagi bawa bonchap nuy
semoga tidak pada muak ya karena akhir-akhir ini aku keranjingan update mumpung gak ada ujian :)

jangan lupa komen yang banyak biar aku semangat ^^



- - -



mungkin ada sekitar lima belas menit aku mondar-mandir ngitarin ruang tamu. sesekali aku ngeluarin kertas-kertas yang udah aku satuin di paper holder. meskipun udah aku coba cari dan kertas itu enggak aku temuin.

duh, ke mana sih? sumpah, ngeselin banget! gimana bisa aku tenang kalo rangkuman 3 bab tentang kerajaan hindu-buddha yang aku garap semalam suntuk itu enggak ketemu?

akhir-akhir ini aku emang sibuk memperdalam ilmu sejarah karena pihak bimbel masih belum nemuin tutor pengganti pak daniel, guru sejarah yang mengundurkan diri karena udah keterima kerja di pertamina. 

aku dimintai tolong karena dulunya jurusanku IPS. aku langsung ngangguk dan enggak mikir dua kali waktu pak jonghyun—staff kepegawaian bimbel—minta aku jadi guru pengganti sementara. lagipula aku seneng belajar sejarah, kan sejarah adalah senjata suatu bangsa untuk membuktikan pada dunia bahwa dulunya mereka pernah berada dalam masa kejayaan. 

"dek, kamu enggak tidur?" tanya mas minhyun yang baru aja dari dapur buat minum.

"mas lihat rangkuman aku enggak?" bukannya menjawab pertanyaan suamiku, aku malah tetap berkutat dengan kebingungan, sambil setengah hati percaya bahwa kertas yang udah kayak surat wasiat itu akan segera ketemu.

"eh? rangkuman apa?" mas minhyun memicingkan mata, keliatan jelas banget kalo dia enggak tahu apa-apa soal itu. huft.

"rangkuman yang aku tulis di kertas folio bergaris, pake tinta biru." aku mendeskripsikan wujud dari benda yang dari tadi aku cari.

"kemarin mas beres-beres... tapi kertas-kertasnya adek udah mas amanin kok, coba dicari lagi."

"bentar, yang mas buang itu apa aja?" tanyaku. entah kenapa perasaanku mulai enggak enak.

"bungkus makanan sama kertas-kertas yang lecek."

JDEEEERR

aku langsung ngerasa kayak lagi disambar petir.

"mas minhyuuuunn!!!" aku memekik sekenceng-kencengnya sambil meremas rambut. panik.

"loh, kenapa?" suamiku itu nampak kebingungan karena aku tiba-tiba aja menjerit.

"kertas rangkuman aku bentuknya udah lecek karena berkali-kali aku stipo!!!" ucapku masih tetap dengan nada menggebu.

"lah??? ya maaf, kirain udah enggak berguna." 

kakiku langsung lemes. sumpah aku bener-bener shock ketika tau ternyata kertas rangkuman itu udah dibuang sama mas minhyun. kerja kerasku... dedikasiku... kenapa harus dibuang, padahal aku udah nyatet lengkap mulai dari masa pemerintahan kudungga sampai runtuhnya kekuasaan majapahit yang disebabkan perkembangan agama islam di pesisir pantai.

terkadang hobi rajin bersih-bersih yang dimiliki mas minhyun itu enggak selalu menguntungkan. contohnya seperti kejadian yang baru aja aku alamin.

aku sekuat tenaga menahan tangisku supaya enggak pecah di hadapan mas minhyun. aku kesel banget sama dia. tapi kalo aku nunjukin kekecewaanku, nanti mas minhyun malah makin merasa bersalah dan sedih.

mas minhyun menghampiri aku yang masih berdiri di sebelah sofa. kemudian aku ngerasain kedua lenganku dicengkeram olehnya. 

"maafin mas ya sayang..." kata mas minhyun seraya berusaha mendongakkan kepalaku dengan ujung jarinya. ia menatap mataku yang udah berkaca-kaca. ah, meskipun udah berusaha diem, ternyata susah banget nyembunyiin kalo aku emang bener-bener sedih.

tapi aku enggak mau lama-lama bertatapan kayak gini, nanti yang ada air mataku malah ngalir deres. akhirnya aku nunduk lagi dan merengkuh pinggang mas minhyun, membenamkan kepalaku di dada bidangnya tanpa berkata apa-apa. aku ngerasain usapan lembut tangan mas minhyun di ubun-ubunku dan sesekali ia mendaratkan kecupan lembut di sana.

"apa perlu mas bikinin kamu rangkumannya biar kamu enggak usah capek-capek nulis lagi?" tawar mas minhyun. 

mendengar itu, aku pun langsung melepas pelukanku dan mendongakkan kepala, kebetulan mataku udah enggak berkaca-kaca lagi setelah ngerasain kehangatan pelukan mas minhyun. "enggak usah, ini salah aku kok karena naruh apa-apa sembarangan."

enggak tahu kenapa, padahal tadi aku kesel banget sama mas minhyun, tapi sekarang mau ngomel aja aku enggak tega dan malah jadi nyalahin diriku sendiri. 

"ya udah, nanti mas coba cariin buku sejarah yang praktis dan pembahasannya enggak bertele-tele. kan jadi kayak rangkuman tuh." 

aku tersenyum, merasa bahagia dan terenyuh atas sikap tanggung jawab yang ditunjukkan suamiku itu. "iya mas, makasih ya..."

"sama-sama, sayang..."

---

lama nih enggak nulis pake POV tania, jadi kangen hehehe
part 2 coming soon, ditunggu aja ya :)


Toy Shop • minhyun [✔]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang