CH 9 [Cancelled.]

69 4 3

Aku tidak ingin ke luar. Eomma dari tadi mengetuk-ngetuk pintu kamarku yang kukunci rapat-rapat.

Tok! Tok! Tok!

"Kyungri-ya! Buka pintunya! Ya! Ppalli!" Omelnya.

Andwae.

Kenapa aku punya perasaan kalau Minhyun akan memilihku?

Eottokhaji?

Driiing!! Telpon rumah di lantai bawah berbunyi. Ada yang mengangkatnya.

"Yeoboseyo? Ne. Hmm. Ah. Geurae. Ah, gwenchanayo. Lain kali masih bisa kok."

Hanya itu yang kudengar.

Ketukan pintu eomma berhenti.

Sepertinya appa sedang berbicara dengannya.

"Ya sudahlah. Mau diapakan lagi."

Di luar berubah sepi.

Heh?

Apakah rencana dinner ini batal?

Kalau iya, syukurlah.

Aku mengantuk.

Tidur ah.

[][][][][][][]

Mimpi itu lagi.

Tok! Tok!

"Kyungri-ya, buka pintunya."

"Nugu?"

"Seokjin."

Cklek.

Jin-oppa berdiri di depanku memakai seragam sekolah dan menenteng tas biru tua.

"Kau mau sekolah tidak?"

"Hm. Tapi kok sepi sih?"

"Eomma dan appa semalam harus pergi ke New York karena perusahaan tekstil ada masalah, Jadi dinner dengan keluarga Minhyun dan Haesung semalam dibatalkan."

Batal?

Yessss!

Terima kasih banyak pabrik tekstil.

Tanpamu aku hancuuuuur.

Hancuuuuuur.

Hancuuur.

Abaikan.

[][][][][][][]

Aku berjalan ke kelas sambil bersenandung girang mengetahui dinner itu batal.

Dinner yang di mana Minhyun akan memilihku atau Haesung.

Untuk sekarang aku bisa senang.

Tapi untuk nanti siapa yang tahu.

Heiiish.

"Hei." Sapa seseorang dari belakang.

Ternyata Sanghyun-sunbㅡ, eh, oppa maksudku.

"Oppa." Jawabku tersenyum.

"Kau girang banget."

"Hehee iya."

"Ini buatmu."

Eh?

"Tokki keychain?"

"Hmm. Joha?"

"Joha! Gomawo oppa!"

Dia tersenyum.

Ah.

KRIING! Bel perusak suasana yang kadang jadi penyelamat itu berbunyi.

Pelajaran Matematika lagi.

[][][][][][][]

"Kyungri-ya!!" Teriak Haesung dari lapangan pada saat aku berjalan ke pintu gerbang.

"Hmm?" 

"Kemarin aku lihat seseorang yang meㅡ."

"Sst! Banyak orang. Pelan-pelan ngomongnya." Bisikku membungkam mulutnya.

Aku melepas earphoneku yang sedang memainkan lagu Infinite- Last Romeo.

"M-mian, tapi kemarin aku lihat seseorang yang memasukkan sesuatu ke dalam lokermu."

"Heh?! Nugu?" Kagetku.

"Aku nggak lihat wajahnya tapi yang jelas dia itu yeoja dan rambutnya dikepang."

Heol.

Aku belum mengecek lokerku sejak 2 hari yang lalu.

"Haesungie. Aku harus mengecek lokerku dulu."

Aku berlari melawan arus pulang sekolah yang ramainya minta ampun.

Brak!

Minhyun tidak sengaja menabrakku hingga aku terjatuh.

Dia menatapku bersalah.

Lalu mengulurkan tangannya.

"Mianhae." Ujarnya.

Aku mengambil tangannya dan hanya terdiam sejenak.

Aku sekarang sudah tau dia disukai Jooyeon.

Dan Seyoung.

Jadi aku langsung berlari dan meninggalkannya saat aku mendengar suara Seyoung. Tapi aku tidak melihat ke belakangku.

"Oppa, musun illijyeo?"

Eh? 

Aku tidak salah dengar kan?

Terakhir aku bertemu Seyoung dia masih memanggil Minhyun dengan panggilan sunbae.

Andwaaaaeee.

Dia telah merusak persahabatan kami.

Hiiih.

[][][][][][][]

Kakiku menuntunku ke dalam ruang ganti yang lantainya terkena tumpahan minuman yang terlihat seperti jus.

Lantainya jadi lengket.

Hmm.

Yeoja yang rambutnya dikepang.

Bawa-bawa sebotol jus.

Agak ceroboh sepertinya.

Aku menghampiri lokerku dan memeriksanya.

Ada amplop warna biru muda.

Warna favoritku.

Isinya...

날 기억하지?

-S-

[][][][][][][]

A/N

Annyeong! Puff here!

Ini makin pendek yak.

Makin absurd pula.

Yang hangul di atas gugel translate ajah.

Jangan lupa pake tanda tanyanya.

-S- <--bukan emot, ceritanya inisial gitu.

Ditunggu Saran&Vomment!

Kalo ada yang baca ._.

Much Luv, Puff ;3

p.s. Double publisssh!! :3

My MemoriesBaca cerita ini secara GRATIS!