Poor Brian. Gue masih ga percaya kalo dia bisa jatuh cinta lagi setelah apa yang si Nania lakuin ke dia. Nania pura-pura mati. Gue dan Brian percaya kalo dia mati karna kanker otak stadium 4! Sampe 2 tahun lalu gue ketemu dia di Inggris dan rasanya kaya kesamber geledek disiang bolong. Gue cuma ga percaya Nania nerima uang dari Mama nya Brian supaya dia menjauh dari Brian. Nania merubah namanya jadi Nancy, dan sekarang jadi pengacara handal di kantor pengacara terkenal di Inggris. Terus gimana caranya gue ngasih tau Brian yang udah terlanjur porak poranda hidupnya tentang ini semua?! Gue putusin buat diem, gue udah ancem si Nania agar ga usah lagi muncul didepan Brian gimana pun caranya. Demi Brian.
Gue shock setengah mati saat Brian bilang dia punya "kelinci" baru, gue bener-bener takut itu Nania. Tapi dari penjelasan Brian, kaya nya itu bukan Nania sama sekali.
Budi merangkak bangun dari tempat tidurnya. Ia berjalan menuju dapur apartemen nya sambil menelpon.
"Tolong cariin pabrik obat yang mau dilepas.. Kalo ada langsung kasih tau saya........ Hah? Ada? Djoko Adhidarmo punya? Yang pengusaha itu kan? Mau lepas berapa? Make a deal! Gue beli sekarang juga!"
Budi memutus sambungan telpon nya sambil memijit pelipis nya. Ia adalah asisten Brian yang juga berfungsi sebagai pengganti Brian. Brian seharusnya memimpin hotel-hotel milik orang tuanya, tetapi Brian lebih tertarik menjadi penyanyi dan Budi harus menggantikan posisi Brian. Budi hampir akan melakukan apa saja untuk Brian, karena berkat Brian ia bisa menyekolahkan ke lima adiknya di luar negeri dan itu sudah lebih dari cukup.
Gue bener-bener harus ngebuat Brian jatuh cinta sama kelinci baru nya. Gue ga mau dia ketemu sama Nania dan jatuh lagi kepelukan nya. Siapa kelinci baru Brian? Sakti banget bisa bikin Brian bertekuk lutut. Tapi siapa pun dia, gue musti bikin mereka saling jatuh cinta.
Budi mengambil handpone nya lagi, menelpon Brian.
"Bri, gue udah dapet pabrik nya.. Cepet kan? Hehe, mau lo kasih kapan buat kelinci lo? Sekalian gue pengen ketemu ama orang nya, penasaran banget gue ama tu cewek.. Bisa-bisanya bikin lo nyari pabrik obat jam 11 malem."
***************************************
Saat mendapat beasiswa di SMA negeri favorit se jakarta rasanya seperti mimpi. Budi tinggal di rumah petak yang jauh dari kata layak. Ayah nya adalah seorang kuli bangunan, ibunya adalah seorang tukang cuci. Budi tinggal bersama ke lima adiknya di rumah kecil itu. Ayah dan ibu nya sudah berpesan bahwa mereka tak sanggup membiayai Budi untuk bersekolah lagi.
Semenjak berkenalan dengan Brian hidupnya berubah. Brian memberinya pekerjaan di rumahnya yang besar, untuk memotong rumput. Dari situ mereka semakin dekat. Budi harus menyaksikan bagaimana sahabatnya harus jatuh sejatuh-jatuhnya saat pacar nya Nania, meninggal dunia. Budi menjadi satu-satunya saksi bagaimana Brian melawan sekuat tenaga keinginan nya untuk mengakhiri hidup. Berbagai dokter kejiwaan dan psikiater silih berganti untuk menangani Brian tetapi nihil. Mengonsumsi obat-obatan dan melampiaskan nya dengan berhubungan sex mulai menjadi kebiasaan rutin Brian setiap hari.
Saat lulus SMA Budi kembali mendapat beasiswa dari Universitas Indonesia, ia mengambil jurusan Akuntansi. Untuk menambah penghasilan, Mamanya Brian menawarinya pekerjaan menjadi semacam asisten pribadi untuk Brian. Bertugas mengingatkan Brian untuk minum Obat, dan menyediakan telinga untuk mendengar keluh kesahnya. Percayalah, bertahun-tahun Budi hanya mendengar kata "Nania" dan "Nania" yang keluar dari mulut Brian.
Sampai suatu hari, Brian kembali memainkan piano nya. Menuangkan perasaan nya kedalam lagu. Budi merekam dan mengirimkan nya langsung ke perusahaan rekaman ternama di Indonesia. Karena semua lagunya berbahasa Inggris, perusahaan rekaman itu mengopernya ke salah satu studio musik di Hollywood dan semua itu berjalan dengan sangat cepat. Lagu ciptaan Brian yang berjudul "If I Were You" mendadak booming dan memenangkan berbagai macam penghargaan.
Setelah Brian terkenal, orang tua nya sangat marah. Karena Brian disiapkan untuk melanjutkan bisnis ayah nya. Budi kembali menjadi tameng. Ia meminta orang tua Brian tidak usah mengganggu Brian, sebagai gantinya, Budi siap untuk melaksanakan tugas Brian. Orang tua Brian pun setuju, mengingat kemampuan otak Budi tidak sembarangan. Budi mendapatkan hak 30% dari penghasilan bersih Brian dan itu bukan main banyaknya.
Semuanya berjalan mulus dan baik-baik saja. Walaupun ketergantungan Brian pada obat-obatan masih terus berlanjut. Sampai 2 tahun lalu, Budi tak sengaja bertemu dengan Nania di sebuah restoran mewah di London. Nania yang gelagapan akhirnya mengakui bahwa Mamanya Brian menentang hubungan nya dengan Brian dan memberikan nya uang dengan jumlah fantastic dan biaya bulanan selama kuliah jika Nania pergi meninggalkan Brian dan kuliah di Amerika. Nania dan seluruh keluarganya setuju. Nania dan keluarganya mengarang cerita yang dipercaya oleh hampir semua orang.
Budi reflek menampar Nania saat itu. Ia tak bisa mengucapkan sepatah katapun saat Nania selesai menjelaskan semuanya. Sebelum ia meninggalkan restoran itu, budi berkata
"Lo.. Jangan sampe gue apa lagi Brian liat muka lo. Lo udah mati dan sebaiknya lo tetep mati. Sekarang gue mungkin diem, tapi lain kali gue sendiri yang mastiin lo bakal kelar."
Setelah mengatakan hal itu, Budi meninggalkan Nania yang masih memanggil namanya dan mencoba meminta maaf.
KAMU SEDANG MEMBACA
Posesif (Tamat)
ChickLitCerita cinta picisan tentang Agatha yang polos dan Brian yang kasar dan posesif. WARNING!!!! 1. Usia 18++ 2. Contain a lot of English 3. Baca sampe akhir, if you dare.. ? Ceritanya bersambung ke cerita baru berjudul: Harton Academy.
