Gue ga percaya kalo gue pacaran sama Agatha. Padahal semua mantan pacar gue ga bisa dibandingin sama Agatha. Dari mulai supermodel Victoria Secret, aktris sampe penyanyi internasional. Tapi gue udah tegasin kalo gue ga bisa hidup sama satu cewek. Jadi gue ga terikat sama Agatha. Mungkin gue kebanyakan nyabu sampe otak gue error.
Brian masih memandang kota jakarta di malam hari lewat jendela besar di kamarnya. Ia mengeluarkan handphone nya dan menelpon asisten pribadi nya yang langsung diangkat pada nada sambung ke dua.
"Bud, cariin pabrik obat sekarang. Gue mau beli!" Sambar Brian sebelum sang asisten mengucapkan kata "halo".
"Lo mabok ya boss?" Tanya suara disebrang sana. "Ini jam sebelas malem dan lo mau beli pabrik obat?! Mulai sinting lo boss! Emang nya selama ini ganja sama sabu belom cukup? Sekarang lo mau beli pabriknya?! Kesambet dimana si lo boss? Inget karir....."
Belom sempat sang asisten menyelesaikan kalimatnya Brian memotong dengan nada agak keras. "Bacot lu!! Bukan pabrik obat itu kampret! Pabrik obat beneran.. Obat-obat buat kesehatan. Otak lu mikir kejauhan oy!"
"Hah? Pa.. Pabrik obat? Beneran o.. obat gitu boss?" Tanya asisten nya terbata-bata.
"Iya.. Buat pacar gue.." Jawab Brian santai.
"......."
"Lu ga salah denger ko Budiiii.. Pacar baru gue minta dibeliin pabrik obat beneran.. Dia semacem scientist gitu lah, gue ga ngerti" lanjut Brian.
"Boss.. Ko pacar baru lo ga biasa ya? Biasanya kan pacar lo minta..."
"Dia kelinci baru gue. Puas?" Potong Brian.
"Boss.. Lo baik-baik aja kan? Gue ga tau musti seneng atau gimana?"
"Dan jangan sampe bokap nyokap gue tau soal kelinci gue yang ini." Potong Brian lalu memutus sambungan telpon nya tanpa mendengarkan tanggapan dari asisten nya.
Brian menarik nafas sedalam-dalam nya. Brian tidak berengsek begitu saja. Budi, asisten pribadinya adalah sahabat Brian sejak SMA dan tentu saja ia tau perkara "kelinci" apa yang membuat hidup Brian porak poranda.
Brian adalah anak yang cerdas. Ia menghabiskan 6 tahun masa sekolah dasarnya di inggris dan pindah ke Indonesia saat masuk SMP. Brian selalu menjadi nomer satu di kelasnya. Berbagai macam kejuaraan dibidang akademik dan non akademik ia ikuti dan menjadi juara. Sampai saat SMA, Brian memilih salah satu SMA negeri favorit di Jakarta. Brian yang kaya raya pun memutuskan mengganti mobil jemputan nya dari mobil super mewah, jadi mobil biasa setelah mengalami pergulatan panjang dengan Mama nya.
Kala itu, untuk pertama kalinya Brian merasa ia berada ditempat yang semestinya. Ia sangat bahagia dengan teman-teman barunya. Ia mulai dekat dengan Budi, salah satu juara olimpiade biologi tingkat nasional yang mendapat beasiswa di SMA tersebut kendati Ayahnya hanya seorang kuli bangunan. Selain Budi, ada Nania.
Nania adalah seorang gadis yang sangat mencintai berbagai macam bahasa. Ia pemenang Speech Contest tingkat Nasional. Orang tua nya adalah guru yang juga pegawai negeri sipil. Hobi Nania memakai pernak-pernik berbau kelinci ditambah perawakan tubuh Nania yang mungil dan berkulit putih membuatnya dijuluki White Rabbit oleh teman-teman nya. Ia adalah "kembang sekolah".
Kelas 2 SMA menjadi masa-masa bahagia untuk Brian. Ia memiliki 2 sahabat yang baik, Budi dan Nania. Prestasinya pun meningkat membuat nya terpilih menjadi siswa terbaik di sekolah itu. Tidak sampai disitu, Nania mengutarakan perasaan nya pada Brian. Membuat Brian makin melayang jauh terbang keatas.
Kelas 3 SMA, Brian dan Nania berjanji akan melanjutkan kuliahnya di Oxford University bersama-sama. Semua persiapan telah mereka lakukan. Budi juga turut membantu Nania agar beasiswa Nania ke inggris dapat di ACC. Budi sendiri sudah dapat undangan beasiswa dari Universitas Indonesia.
Setelah Ujian Nasional, semua nya berubah. Nania menjauh. Brian dan Budi berusaha keras untuk menghubungi Nania saat itu. Tetapi gagal. Brian membatalkan keberangkatan nya ke Inggris dan bersikeras menemui Nania. Nania bergeming, seolah menghilang ditelan bumi. Sampai ada sepucuk surat yang datang untuk Brian. Surat itu diantarkan langsung oleh Ibu nya Nania sambil berlinang air mata.
Untuk Brian tersayang.
Kalau kamu baca surat ini, artinya aku sudah tenang bersama Tuhan. Aku sakit. Aku terlalu sakit untuk memberitau kamu dan Budi kalau aku sakit. Kanker otak stadium 4 ini benar-benar membuatku kacau. Tapi tak apa, ini teguran juga untuk mu dan Budi kalau tak usah belajar terlalu serius. Kalian harus lebih menikmati hidup.
Brian, aku tak tau lagi harus bilang apa tapi aku mohon maafkan aku yang tidak bisa menepati janji ku. Oxford adalah impianku, impian kita! Tapi kanker ini benar-benar berengsek.. Haha
Mulai sekarang berjanjilah, kau akan menikmati hidup mu. Kau harus tunjukan pada kanker berengsek yang telah mengurungku di rumah sakit dan dengan telak mengalahkan ku, bahwa kau bisa lebih berengsek dari dirinya. Kumohon sekali lagi, keluarlah dari zona nyaman mu dan nikmatilah hidupmu, demi aku. Demi aku yang tak bisa menikmati hidupku.
Kau dan Budi ku larang keras untuk bersedih! Kumohon?
Dan Brian, kau luar biasa. Aku tak mungkin tak akan sempat mengatakan ini tapi kau sungguh tampan dan aku sangat suka mendengarmu bernyanyi. Aku harap kau tak usah malu-malu lagi saat bernyanyi... Dan Brian, maafkan aku.. Aku mencintaimu.
The white rabbit,
Nania
KAMU SEDANG MEMBACA
Posesif (Tamat)
ChickLitCerita cinta picisan tentang Agatha yang polos dan Brian yang kasar dan posesif. WARNING!!!! 1. Usia 18++ 2. Contain a lot of English 3. Baca sampe akhir, if you dare.. ? Ceritanya bersambung ke cerita baru berjudul: Harton Academy.
