Part 12

2K 104 4

"Terkadang, pertemuan singkat lebih mengesankan daripada pertemuan berjam-jam namun membosankan. "

~~~

From : Karel
Taman bunga sekarang ya, Sye.

Sye tersenyum menerima sebuah pesan manis dari seseorang yang kini telah menjadi pemeran utama di hatinya. Tangannya meraih sebuah slingbag berwarna peach di atas meja belajarnya lalu bergegas turun ke lantai satu.

Perasaannya tak karuan saat ini. Di satu sisi ia merasa sangat senang akan hadirnya Karel. Namun di sisi lain ia juga penasaran dengan maksud Karel mengajaknya ke taman sore ini.

Tak sampai sepuluh menit, Sye sudah sampai di taman komplek rumahnya. Namun, ia tak melihat adanya Karel di sana. Apa mungkin Karel hanya ingin membodohinya? Ia segera menepis pikiran buruk itu dari otaknya.

Karena tak menemukan Karel di taman itu, Sye memutuskan untuk duduk di bangku taman yang berada tepat di tengah-tengah taman. Tangannya bertopang pada kedua pahanya. Dirasakannya udara segar dan riuhnya taman sore itu.

Tak sadar, waktu sudah menunjukkan pukul 17:15. Sudah sekitar satu jam Sye menunggu kehadiran Karel namun hasilnya tetap saja nihil. Sye memutuskan untuk pulang meski ia tak mendapat jawaban dari pesan yang Karel kirimkan.

Sye beranjak dari bangku taman itu. Namun, ketika tangannya menyentuh bangku taman itu ia merasakan ada sesuatu yang ditindih tangannya itu. Sye melihat benda itu dan terkejut dengan benda yang kini sudah ada dihadapannya. Lagi-lagi ada yang memberinya sebuah bucket bunga Candytuft untuknya. Entah siapa pengirimnya, siapa yang meletakkannya, dan entah siapa yang telah membuatnya sebahagia ini.

"Sorry, gue telat," ucap seorang cowok yang berada tepat di belakang Sye saat ini.

Sye membalikkan badannya dan ia melihat Karel yang sedang memegang sebuah paperbag yang entah apa isi di dalamnya.

"Karel?" Sye mengernyitkan keningnya karena melihat kehadiran seseorang yang dinantinya sedari tadi.

"Gue telat karena gue beli bunga itu dulu buat lo, lebih tepatnya buat orang yang sekarang udah jadi the one and only di sini," Karel memegang dadanya ketika mengucapkan bagian terakhirnya.

"Gue kira lo nggak bakalan dateng, Rel," Sye mengerucutkan bibirnya ketika mengucapkan kalimat yang tadinya akan membuat ia kecewa pada Karel.

Karel tersenyum manis mendengar perkataan Sye tadi. "Nih buat lo," disodorkannya paperbag yang sudah ada di genggamannya sedari tadi.

"Ini apa?" Sye bingung melihat paperbag yang Sye tak tahu apa isinya.

"Buka aja, tapi jangan sekarang. Lo boleh buka setelah lo sampe di rumah nanti," Karel mengantisipasi Sye dengan tatapan layaknya seorang detektif.

"Oke," Sye mengacungkan ibu jarinya seraya tersenyum khas miliknya.

♦♦♦

"Lo berdua mau ikut ke atas atau tunggu sini?" Faldo bertanya pada kedua sahabatnya yang sekarang berdiri sejajar dengannya.

"Gue tunggu sini aja deh sama Rey," Bisma mewakili jawaban dari sahabatnya yang sedari tadi asyik bermain gadgetnya.

"Ya udah, gue ke atas dulu." Faldo pergi meninggalkan kedua sahabatnya dengan meninggalkan sepiring makanan ringan untuk mengganjal perut mereka.

Dibantingnya kasar tubuhnya yang terasa sangat penat ke tempat tidur kingsize miliknya. Orang tua Faldo sedang pergi ke luar negeri karena urusan bisnis yang baru dengan relasi orang tuanya sehingga Rey dan Bisma memutuskan untuk menginap walau hanya semalam di rumah Faldo.

Love Is Miracle [COMPLETED]Read this story for FREE!