Hold Me Tight

140 11 4
                                                  

Berharap secangkir kopi namun, nyatanya teh turut menemani kehadiran Moon Chaewon di rumah ini. Aroma khasnya dengan giat menggelitik indera penciumannya yang terasa gatal karena sedang flu. Asap yang mengepul menerpa wajah Chaewon manakala ia meniupnya sebelum beralih membasahi kerongkongan. Masih panas.

Beberapa biskuit jahe tertata rapi di atas piring putih dengan garis kecokelatan mengitarainya, sebagai pemanis. Ikut serta menemani sang Teh untuk Chaewon sentuh.

Dua hidangan yang pas menjadi kawan saat ini mengingat bagaimana udara di luar sana.

Musim semi segera berlalu. Tapi, udara di sini masih mampu membuat bulu kuduk berdiri. Mengingat daerah ini begitu pelosok di mana keadaan sekitar masih di kelilingi dengan pepohonan yang menjulang tinggi bukannya gedung pencakar langit. Tidak terlalu banyak aktifitas yang di jalani penduduknya selain bercocok tanam atau berlayar. Membuat udara malam mampu bersaing dengan hembusan angin di musim dingin.

"Aku seperti pernah melihatmu." ujar nenek Junki menelisik lebih dalam setiap lekuk wajah Chaewon.

Matanya yang terlindung oleh kacamata tua terlihat menyipit.

"Benarkah?"

Chaewon sedikit kikuk di pandang seperti itu. Ia tidak yakin pernah bertemu dengan wanita di hadapannya kini.

"Kau... bukankah kau puterinya Moon Daehan? Iya, kau puteri dari Moon Daehan. Apa aku benar?"

Nenek Song percaya diri karena mengingat wajah Chaewon yang begitu familiar baginya.

Chaewon sedikit terkejut di buatnya.

"Bagaimana Anda tahu?"

"Ah, ingatanku sangat baik rupanya. Kekeke~"

"Kau tidak mengingatku, Chaewon-ah?" lanjutnya lagi.

Chaewon memutar ulang memorinya. Mencoba menemukan wajah wanita paruh baya itu di masa lalu. Namun, nihil. Ia tidak mengingatnya.

"Maafkan saya." Chaewon merasa tidak enak hati karena tidak mengingatnya sama sekali.

Sang Nenek hanya tersenyum.

"Kita pernah bertemu sekali saat usiamu 7 tahun. Ayahmu salah satu buruh di perkebunanku dulu." ceritanya.

Dari yang Chaewon ingat, dulu memang ayahnya bekerja sebagai petani. Ya, sebelum sang Ayah beralih profesi menjadi pelaut. Profesi baru yang membuat ayahnya pergi untuk selamanya. Bahkan di usia Chaewon yang terbilang masih muda.

Raut wajahnya berubah murung. Binar di matanya perlahan menghilang.

~Flashback~

Hujan sering sekali datang. Raja langit senantiasa mengirimkan buliran bening nan dingin jatuh mengenai dasar bumi. Hanya sedikit memberi jeda lantas kembali membasahinya.

Malam itu, entah mengapa perasaan Shin Minjae merasa tidak enak. Hatinya resah tak beralas.

Angin berhembus sangat kencang. Suara guntur mengaung di luar sana. Mempertegas kehadirannya mengiringi sang Hujan. Kilauan petir menyambar salah satu pohon yang terlihat tua di hutan dekat pemukiman warga.

Aroma kehadiran sang Badai sudah terciduk oleh kita.

"Kau yakin akan pergi malam ini? Aku dengar akan ada badai." tanya Minjae dengan perasaan yang tak kunjung membaik.

"Tentu saja. Aku harus pergi mencari ikan lantas menjualnya untuk menghasilkan uang. Kita perlu makan, Sayang. Chaewon perlu makan." jawabnya seperti biasa.

"Bisakah kau tidak melaut untuk malam ini saja? Sejak kemarin aku merasa tidak enak hati, seperti... seperti akan terjadi hal buruk." ia mencoba mengutarakan isi hatinya.

Two Hearts, One LoveWhere stories live. Discover now