CUPLIKAN

10.4K 669 93

    Indira mengernyit, dipandanganya jam dinding salon langgananya masih pukul setengah dua belas siang. Ada apa dengan Satria? Tak biasanya suaminya itu menelepon di jam-jam segini. Apalagi di tengah perjalanannya ke luar kota. Biasanya ponselnya akan berdering lewat jam sembilan malam.

“Sedang apa?” sahut Satria setelah Indira mengucapkan ‘hallo’.

“Refreshing, ke salon. Boleh kan?”

“Kok nyahutnya gitu?” tanya balik Satria, meski dia sudah terbiasa dengan nada-nada sarkastik yang dilontarkan Indira.

“Ini sindiran Mama kamu Satria. Seenggaknya aku harus jadi Ibu Rumah Tangga yang baik budi, secara kan cuma mengandalkan uang dari kamu.”

    Satria mendengus. “Aku sengaja luangin waktu nelepon gini. Dan, langsung mendapat kata sambutan yang nggak enak didenger. Kamu sengaja?”

    Indira melipat tangannya. “Nggak. Tapi, cuma mengingatkan aja kalau Mama kamu menjajah Ata dan Alan dua hari ini. Malam baru diantar pulang. Keuntungannya, aku bisa santai. Tapi kerugiannya, rumah jadi sepi.”

    Yang Indira dengar malah suara tawa Satria. “Jadi, gara-gara ini kamu uring-uringan?”

    “Hmm... Aku ganti model rambut boleh ya?”

    “Aku suka kamu rambut panjang.”

    Indira menipiskan bibir; menarik ponsel dari telinganya. “Nggak jadi potong Mbak, rapihin aja ujungnya,” bisiknya sebelum kembali mendekatkan ponsel ke telinga. “Nggak jadi potong rambut,” seru Indira mendengus kesal.

    “Jadi hari ini Alan sama Ata main ke rumah Mama lagi?”

    “Hari ini mereka menginap, besok libur. Mama udah minta izin, tapi dengan nada memerintah seperti biasanya. Diiming-imingi kolam renang anak kamu langsung semangat.”

    “Anak aku?”

    “Cucu Oma,” sambung Indira menirukan suara Ibu Mertuanya.

    Satria semakin terkekeh. “Nggak terima?”

    “Sebagai Ibu jelas nggak terima. Tapi, sebagai menantu nggak bisa apa-apa juga.”

    “Kenapa?”

    “Karena aku cinta anaknya!”

    Tawa Satria meledak. Indira tak tahu kalau di tempat lainnya Satria diam-diam tengah ditertawakan yang lainnya, karena tingkahnya yang seperti remaja baru kasmaran—mengusap rambut dengan wajah memerah. 

   
***
   
    Satria buru-buru masuk keluar dari taksi, dengan penerbangan paling cepat dia yakin bisa mengejar Indira yang kesepian di rumah. Di dalam kepalanya adegan saling menghangatkan mungkin akan berlangsung lama malam ini.

    Dikunci? Satria menekan bel berulang kali. Bi Rum, sudah seminggu yang lalu pulang kampung. Kemana Indira?

    Dengan cepat Satria menarik ponsel dari sakunya. “Kamu di mana?” tanya Satria tanpa salam.

    “Aku? Ya di Jakarta, memangnya di mana?”

    Satria meraup wajahnya. Berhadapan dengan Indira yang berpikiran logis sering kali membuatnya kewalahan. “Maksudku, aku sudah di depan rumah, kamu di mana sekarang?”

    “Malam ini aku nginap di tempat Mama. Kangen anak-anak, tapi anak-anak nggak mau pulang karena di iming-imingi kolam renang. Sebaiknya besok kita buat kolam renang sendiri di rumah.”

    Satria mengerang, permasalahannya bukan soal kolam renang! Tapi, dia yang tak tahan ingin bertemu Indira. Dan rencananya pulang secepat mungkin, bisa gagal total! “Kenapa nggak bilang ke aku kalau mau nginap di rumah Mama? Balik sekarang, aku nggak bisa masuk.”

    “Kenapa harus repot-repot. Kenapa nggak kamu yang datang ke—“

    “Aku kangen kamu Indira...” suara mendesis milik Satria ternyata tak memengaruhi Indira.

    “Ini balasan karena kamu ketawain aku tadi siang.”

    “Aku susul kamu, kita pulang.”

    “Sama anak-anak?”

    “Nggak, cuma kamu.”

    “Kok gitu?”

    “Hampir tiga tahun sejak Tata lahir kita tidur bertiga, dan harus mencuri waktu keluar kamar jika Tata terlelap. Kamu nggak pengin menikmati waktu berdua aja sama aku?”

    “Dasar gila,” desis Indira berbisik tahu dengan pasti arah pembicaraan suaminya.

    “Jangan malu-malu tapi mau. Aku yakin kamu sangat ‘mau’” Indira menahan diri untuk tidak mengeraskan suara di depan mertuanya. “Siapkan alasan ke Mama, aku menyusul sekarang!”

    Belum sempat Indira membalas sambungan telah terputus. 

*
*
*

Yuhuuu... segini aja ya cuplikannya 😉😉

Adegan ehem-ehem disimpan buat edisi buku aja ya (jgn percaya Lia ngk bisa bikin adegan begituan.. 😏😏) wkwkwkk.. Yg jelas full bonus part akan ada di buku.

Ini SP (self publish) jadi ngk ada di toko buku. Dan akan cetak sesuai pesanan aja.

Untuk info atau mau tanya2 bisa follow IG ku @liarasati

Okee.. Sampai jumpa di pengumuman selanjutnya.. 💋💋

 💋💋

Ups! Gambar ini tidak mengikuti Panduan Konten kami. Untuk melanjutkan publikasi, hapuslah gambar ini atau unggah gambar lain.
Revenge Baca cerita ini secara GRATIS!