Dream

243 12 1
                                                  

Bangun, bernafas, beraktivitas, tidur, lantas bangun lagi adalah sederet agenda sederhana manusia di muka bumi. Bagi Chaewon, ia tak pernah menikmati bangun di pagi hari. Tak pernah bernafas lega meski dunia luas masih mampu membuatnya sesak. Tak ada gairah untuk sekedar menjalani aktivitas sama setiap harinya.

Namun, beginilah hidupnya. Membunuh rasa malas atau kemalasan sedikit demi sedikit mengikis mimpinya untuk tetap hidup. Mimpi yang sebenarnya tak berani untuk ia impikan. Membayangkannya saja ia takut.

Seperti menapak di atas jembatan yang hanya selebar helaian rambut. Sekali kau berani melangkah, jatuh ke dalam jurang yang terjal nan gelap adalah buah dari kenekatanmu.

Namun, secarik harapan berhasil ia dapat.

"Mimpilah setinggi langit, setinggi yang engkau bisa. Meski pun kau jatuh, engkau akan jatuh mengenai bintang-bintang." Soekarno.

Beberapa penggal kata berhasil membuat sesuatu dalam dirinya bergetar. Seperti mendapat energi penuh, sedikit demi sedikit ia mulai mengumpulkan keberanian untuk membangun mimpinya agar tetap kokoh.

Meski begitu, pikiran konyol selalu melintas di benaknya tak kala raga ringkihnya ingin merebah di kasurnya yang sempit dan sedikit keras. Ia berharap saat matanya terpejam, Tuhan tak memberi kesempatan untuk membukanya lagi.

Pikiran yang hanya akan tersemat di saat ia merasa lelah secara fisik mau pun mental.

Senja telah sepenuhnya menepi. Mega telah sepenuhnya mengabur. Bulan telah mengambil alih langit saat ini. Cahayanya temaram, tak seperti biasa. Gumpalan awan gelap nan tipis selalu melintas di depannya. Tak memberinya kesempatan bersinar dengan sempurna malam ini.

Meski Moon Chaewon merasa badannya tak sebugar biasanya, ia tetap keukeuh untuk kerja paruh waktu malam ini. Meski ibunya melarang, Chaewon tetap pada pendiriannya. Karena hanya ini satu-satunya jalan untuk mendapat sedikit lembaran uang.

Uang yang akan menopang agar mimpinya bukan sekedar khayalan. Ia ingin merealisasikannya meski beribu tetes peluh mengiringi langkahnya.

Dengan senyum terukir di bibirnya yang terlihat mengering, Chaewon melayani para pengunjung yang ingin makan tumis kerang atau menu lain yang tersedia di sini. Di kedai tempat ia bekerja. Kedai yang berada di ujung batas desa tempatnya tinggal.

"Selamat menikmati makananmu, Paman." ucapnya ramah setelah meletakkan pesanan pelanggan yang duduk di meja dekat tepian tenda.

"Terimakasih, Chaewon-ah." balas pria paruh baya yang memang telah mengenal Chaewon.

Selain kue beras, tumis kerang buatan bibi Jung adalah menu andalan di sini. Meski Chaewon sangat tak menyukai tumis kerang karena baunya mampu membuat kepalanya pening, ia tak mengeluh untuk membantu bibi Jung.

Selama tak merugikan, tidak ada alasan baginya. Toh, selain karena ia mengenal bibi Jung sejak kecil ia juga tak secara gratis menandaskan tenaganya di kedai ini.

"Chaewon-ah, kemari, Nak." panggil bibi Jung pada Chaewon yang masih sibuk mengelap meja.

"Iya, Bi." dengan riang Chaewon menghampiri bibi Jung.

"Aku menyisihkan sedikit untukmu. Makanlah dalam keadaan hangat. Bibi tahu kau sedang sakit." ucapnya memberikan seporsi bubur kacang merah yang telah terbungkus.

"Ah, terimakasih banyak. Jangan khawatir, aku baik-baik saja, Bi." kilahnya di sertai senyuman.

"Anak ini! Katakan sakit jika kau merasa sakit. Jangan bersikap seolah kau baik-baik saja." bibi Jung merasa geram dengan tabiat Chaewon yang keras kepala.

Two Hearts, One LoveWhere stories live. Discover now