Awal

4.6K 265 2

Malam itu rasanya sudah tersampaikan, malam itu segala sesuatu yang Dika selama ini cari sudah diketemukan. Mungkin Dika belum sepenuhnya mengikhlaskan, tapi takut berdosa mencintai istri orang lain.

Selesai acara pada malam itu, Dika memutuskan untuk pergi ke kamar. Memutuskan untuk tidur lebih awal agar terhindar dari pertanyaan dari Ojan teman sekamarnya. Dika larut dalam pikiran-pikiran yang melayang, semakin ia larut semakin dalam ia masuk ke alam bawah sadar.

-

Pagi harinya, The Vroovy turun untuk pergi sarapan di restorasi hotel. Sudah banyak yang berada disana, mereka memilih untuk duduk menjadi satu meja. Sekedar mengobrol ngalor-ngidul. Dika melihat kearah pintu masuk dan terlihat sepasang manusia diikuti seorang lelaki dibelakangnya. Iya, mereka Rian, Naya dan Dio. Tidak ada sapaan ketika mereka bertatap muka. Terdengar dari telinga Dika, para karyawan termasuk Dio sedang menggoda sepasang manusia tadi.

"Tadi malem mas Rian, dicariin kemana aja ternyata udah ke kamar dulu. Emang dasar." Kata Angga sambil terkekeh diikuti yang lainnya.

"Biasa lah Ngga, penganten baru paling juga mau menunaikan kegiatan sunnah rosulnya." Timpal Dio.  Naya tidak terlihat berada diantara Rian, Dio dan Angga. Naya terduduk sambil menyantap makanannya dan sebelahnya terlihat Karin, mereka terlihat mengobrol diselingi tawa.

Selesai sarapan, pada saat itu pula The Vroovy pamit untuk pulang. Semua bersalaman termasuk Rian dan Dika, ada senyuman palsu diantara mereka namun mereka tidak mau menunjukkan hal itu didepan orang lain. Ya kalian tau persis lah bagaimana rasanya seorang suami melihat mantan kekasih istrinya yang tadi malam memeluk Naya, dan bagaimana seorang mantan kekasih bersalaman dengan suami mantan terindahnya. Namun semuanya terpecah ketika Dio akhirnya membuka percakapan.

"Ati-ati bro! Kabar-kabarin lagi kalo mau kumpul temen SMA." Sambil ber-tos ria dengan the Vroovy.

"Santuy Yo. Lo kan masuk grup, tar juga di agendakan." Kata Ojan dengan gaya sok kegantengannya.

"Weh Dik, lo jangan ilang-ilangan lagi. Ilang tapi tambah ganteng kan gue jadi iri." Disambut tawa dari semuanya.

"Bilang aja lo kangen gue Yo." Sahut Dika menghoda Dio.

Mereka semua masuk dalam settle-bus. Nandika siap untuk pergi dari sana dan meninggalkan masalalunya bersama dengan masa depannya. Nandika sadar bahwa selama ini ia terlalu percaya diri bahwa Naya akan kembali kepadanya. Nyatanya tidak, ada kalanya seseorang berubah untuk tidak lagi menunggu karena ia tidak mau menghabiskan waktunya.

Selama perjalanan Dika terlihat murung, disadari oleh teman-temannya. "Kenapa lo Dik? Ada masalah?" Tanya Hilmi sang gitarist.

"Engga, gapapa lagi gaenak badan aja."

Teman-temannya mencoba untuk memahami Dika yang sedang tidak ingin terganggu. Mereka melanjutkan nyanyian yang tidak terdengar indah mencoba untuk seakan tidak mau tau tentang Dika, ya karena Dika orangnya sentimen ketika ditanya tentang masalahnya.

Nandika mengambil earphone untuk mendengar lagu yang menenangkan.

Ku Kira Kau Rumah - Amigdala.

kau datang tatkala
sinar senjaku telah redup
dan pamit ketika
purnamaku penuh seutuhnya

kau yang singgah tapi tak sungguh
kau yang singgah tapi tak sungguh

ku kira kau rumah
nyatanya kau cuma aku sewa
dari tubuh seorang perempuan
yang memintamu untuk pulang

kau bukan rumah, kau bukan rumah
kau bukan rumah, kau bukan rumah

ku kira kau rumah
nyatanya kau cuma aku sewa
dari tubuh seorang perempuan
yang memintamu untuk pulang

kau bukan rumah, kau bukan rumah
kau bukan rumah, kau bukan rumah

kau bukan rumah, kau bukan rumah
kau bukan rumah, kau bukan rumah

-

Nandika menyadari bahwa ia harus mengawali semua kehidupan percintaannya. Benar kata Naya, ia harus mencari rumah baru untuk ditempati. Sedikit demi sedikit ada rasa termotivasi yang muncul dari dalam dirinya. Dika bersyukur mempunyai masalah yang berat, karena dari situlah ia mampu belajar banyak dan mampu menjalani kehidupan kedepannya lebih baik. Terimakasih Naya terimakasih waktunya.

RumahTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang