[2] Byun Baekhyun

114 9 0

Chanyeol memarkirkan motor sportnya di depan gedung fakultas seni.

"Wah, kau benar-benar jahat, Park Chanyeol!" Serin melipat tangannya sambil memerhatikan Chanyeol yang sedang melepas atribut berkendaranya. "Bisa-bisanya kau tidak mengantarkan aku ke gedung fakultasku."

Ia terus mengomel karena biasanya Chanyeol akan menurunkan Serin di depan gedung kampusnya. Tapi entah kenapa si lelaki bertelinga lebar ini malah membawanya lebih jauh. Ia sudah hampir terlambat dan pria ini justru membuatnya harus berjalan lagi menuju gedung kampusnya.

Chanyeol hanya menatapnya datar. "Apa sih," ia memalingkan wajahnya sesaat sambil melepas sarung tangannya. Ia melihat sahabat perempuannya itu sedang berkacak pinggang di depannya. "kau ini manja sekali. Gedung kita kan bersebelahan, kau hanya tinggal jalan kaki sebentar. Ini masih pagi, jalan kaki itu sehat!"

Mereka berdua sebenarnya memang satu universitas, hanya saja mereka mengambil jurusan yang berbeda. Chanyeol merupakan mahasiswa jurusan seni di kampus, sedangkan Serin kuliah di jurusan sastra. Beruntung tadi Chanyeol berkendara agak ngebut sehingga Serin masih memiliki waktu sebelum kelas dimulai.

Melihat Serin sudah memasang wajah cemberut sepagi ini, akhirnya Chanyeol terpaksa mengiyakan perkataan gadis itu.

"Ya sudah, aku antar. Jalan kaki saja tapi, ya."

Baru beberapa meter mereka berjalan, tiba-tiba terdengar suara langkah orang sedang berlari ke arah mereka.

"Chingu-ya~" sebuah suara menyapa mereka dari arah belakang. Lalu pemilik suara itu datang dan merangkul leher Serin. Seorang pria.

"Serin-ah~" ujar manja pria itu sambil menempelkan pipinya ke pipinya Serin.

Pria itu adalah Byun Baekhyun. Tetangga Serin sejak kecil. Serin sudah berteman dengannya jauh sebelum ia bertemu Chanyeol. Orang tua mereka selalu berkata kalau Serin dan Baekhyun sudah seperti anak kembar, tidak bisa dipisah, kemana-mana selalu berdua. Jika salah satu dari mereka ada yang menangis, maka satunya lagi juga akan menangis.

Baekhyun selalu berkata bahwa seumur hidupnya ia tidak pernah bisa memiliki pacar dalam waktu yang lama karena kedekatannya dengan Serin. Tentunya itu salah Baekhyun sendiri karena ia selalu menempel pada Serin kemana-mana dan tidak pernah malu untuk bertingkah manja pada gadis itu di depan yang lain. Serin sudah sering muak dengan tingkah manja Baekhyun dan sungguh ingin memukulnya karena lelaki itu sering sekali menunjukkan aegyo-nya.

Kadang Serin berpikir lelaki ini mirip seperti permen karet, tapi ia sendiri juga tidak bisa jauh darinya. Mereka sama-sama saling membutuhkan. Bahkan saking dekatnya, waktu kecil mereka sudah sering mandi bersama. Karena itulah sampai mereka tumbuh dewasa, sama sekali tidak pernah ada perasaan malu satu sama lain di antara mereka berdua.

Namun setelah mereka masuk SMA, Baekhyun terpaksa harus pindah rumah karena keadaan keluarga Baekhyun yang sekarang sudah lebih baik dan ingin pindah ke rumah yang lebih besar. Waktu itu Serin tidak berhenti menangis selama berminggu-minggu setelah kepergian Baekhyun. Bayangkan, ia sudah menghabiskan seluruh hidupnya selalu bersama pria itu lalu tiba-tiba saja mereka harus terpisah. Walaupun rumah Baekhyun yang baru juga sebenarnya tidak terlalu jauh dari tempat tinggalnya yang lama, tapi tetap saja Serin merasa kehilangan.

Mereka sudah satu sekolah sejak SD. Bahkan saat mengetahui kalau Chanyeol, si pembuat masalah, ternyata adalah tetangganya juga, Baekhyun selalu mengawasi Serin, takut gadis itu akan diganggu. Namun setelah kenal, ternyata Chanyeol tidak seburuk itu juga. Karena Serin telah berhubungan baik dengan keduanya, otomatis Chanyeol dan Baekhyun ikut jadi berteman dekat juga sampai sekarang.

Hari ini pun mereka satu kampus, walaupun beda fakultas. Chanyeol dan Baekhyun di jurusan seni, sedangkan Serin memilih jurusan sastra. Mereka bertiga benar-benar mirip seperti buah salak karena kemana-mana selalu menempel bertiga.

"Hentikan." ujar Serin mendorong kepala Baekhyun agar sedikit menjauh. Ia sudah sangat terbiasa dengan perlakuan sahabatnya yang satu ini. "Jangan bergelayutan padaku seperti itu terus, memangnya aku ini ibumu?"

"Apakah kau tidak rindu padaku? Aku iri dengan Chanyeol karena ia bisa menjemputmu tiap hari." Baekhyun kembali berbicara dengan nada imut. Chanyeol hanya melirik malas.

Serin melonggarkan lubang hidungnya kemudian berpura-pura hendak meninju Baekhyun. "Awh! Hentikan!" Serin bergidik setelah mendengar aegyo Baekhyun. Baekhyun tertawa geli melihat reaksi sahabatnya. Ia sungguh belum berubah.

"Hei, kau mau kemana?" tanya Baekhyun heran melihat Chanyeol mengikuti Serin. "Kau tidak kuliah?"

Chanyeol menunjuk Serin dengan kepalanya. "Aku mau mengantarnya dulu karena ia terus saja merengek minta diantar ke gedungnya."

"Hei, kapan aku merengek–".

"Aku ikut, ya!" Baekhyun langsung menyela Serin sebelum ia sempat menyelesaikan kalimatnya.

"Kalau gitu kau saja sana yang antar." kata Chanyeol datar.

"Hm-mm" Baekhyun menggeleng dan langsung memutar badannya agar berdiri di tengah. Kemudian merangkul lengan kedua sahabatnya itu dan mengajak mereka berlari.

"Ayo kita kesana sama-sama."

Baekhyun terus menggandeng kedua lengan sahabat kesayangannya itu sambil berjalan menuju gedung jurusan sastra. Kampus terlihat agak ramai karena masih pagi. Banyak mahasiswa juga berjalan ke arah yang sama dengan mereka. Beberapa di antaranya sudah ada yang berlari terburu-buru karena takut terlambat. Tapi ketiga sahabat ini justru santai-santai saja karena mereka masih memiliki waktu yang cukup untuk menikmati suasana kampus yang sibuk di pagi hari.

Beberapa mahasiswi melemparkan pandangan iri ke arah Serin. Mengapa tidak, ia dikelilingi dua pria populer di sampingnya. Mahasiswa jurusan seni di universitas ini memang sudah dikenal memiliki mahasiswa yang populer. Tak terkecuali Chanyeol dan Baekhyun.

Walaupun Chanyeol sebenarnya tidak sepopuler Baekhyun, tapi melihat tampangnya saja sudah membuat wanita manapun akan tepesona olehnya. Ia tinggi, tampan, dan memiliki ekspresi yang terkesan dingin, yang justru membuat wanita semakin ingin mengejarnya karena tenggelam oleh kharismanya. Sebaliknya, mahasiswa pria justru akan sedikit menghindarinya karena tidak ingin berurusan dengan Chanyeol. Kalau saja ada yang salah bicara atau salah bertindak, mereka bisa saja mendapat hadiah tinju dari Chanyeol.

Baekhyun lebih populer dibanding Chanyeol. Kalau Chanyeol sedikit ditakuti para mahasiswa pria, Baekhyun cenderung lebih disukai siapapun karena ia merupakan tipe yang hangat pada semua orang. Ia juga sudah dikenal sebagai Baekhyun si pemilik suara emas dari jurusan seni. Banyak mahasiswi yang mengantri untuk mendekati Baekhyun dan tak sedikit juga dari mereka ada yang salah menangkap respon Baekhyun karena ia selalu bersikap manis pada semua orang, sehingga ia juga tak jarang kerepotan sendiri dengan wanita-wanita itu.

Serin melepas gandengan Baekhyun karena mulai jengah diperhatikan seperti itu oleh orang-orang di sekitarnya.

"Wae?" Baekhyun menoleh dan kembali merangkul lengan Serin.

"Sampai sekarang pun aku masih merasa tidak nyaman setiap kali kau menunjukkan kedekatan denganku." ujar Serin tersenyum sambil menepuk lengan Baekhyun pelan.

"Masa, sih?" goda Baekhyun malah menempelkan pipinya di pipi Serin.

"Hentikan, bodoh." Serin menepak kepala Baekhyun tapi lelaki Byun itu tidak peduli. "Kau ini benar-benar, deh!"

Chanyeol yang gemas melihat kedua sahabatnya yang selalu lengket ke mana-mana ini akhirnya malah semakin merekatkan posisi kepala Serin dan Baekhyun. "Berisik! Menikah sajalah kalian!"

"SIREO!!! (ogah!)" mereka berdua langsung berteriak, yang mana langsung disambut tawa lepas dari Chanyeol.

Universe in His EyesBaca cerita ini secara GRATIS!