Akhir Cerita Cinta

4.2K 267 0

Lagu itu membuat Naya kembali ke masa lalu. Naya merutuk kesal dalam hati bisa-bisanya Nandika sengaja memilih lagu ini untuk dinyanyikan. Kemudian lagu keempat atau yang terakhir yang nyanyikan justru mampu membuat rasa emotional Naya meninggi. Ia setegar mungkin untuk menahan tangisnya, ia sadar ia hanya sedang mengingat masa lalu bukan untuk menyesali dan ingin kembali.

Akhir Cerita Cinta - Glenn Fredly

Kini harus aku lewati
Sepi hariku tanpa dirimu lagi
Biarkan kini ku berdiri melawan waktu
Tuk melupakanmu
Walau pedih hati
Namun aku bertahan

Di akhir lagu, Naya memutuskan untuk pergi ke toilet. Awalnya Rian ingin mengantarkan namun Dio mencegahnya, Rian paham Naya membutuhkan waktu untuk dirinya sendiri. Memang khawatir, namun jika Rian posesif justru akan semakin merusak hati Naya saat ini.

Naya menangis sesenggukan, semakin tangisannya menderas semakin hilang pula rasa sakitnya mengenang cinta pertamanya. Naya tidak mau berlarut-larut dalam kesedihan, kini Naya sudah mengelap air mata dan menutupi bekar air matanya dengan bedak.

Keluar dari toilet wanita, dari lorong menuju ke ballroom seorang pria berjalan mengarah ke toilet laki-laki. Di lorong itu keduanya membisu, saling terdiam dan kemudian pria itu mendekat ke Naya. Kini Naya dan Dika sudah saling berhadapan.

"Selama ini aku salah, aku ninggalin semuanya tanpa aku bilang terlebih dahulu. Itu semua juga bukan kemauanku, aku dituntut untuk pergi. Kepergianku bukan tanpa alasan, ayah ibuku cerai ayahku jadi sosok yang sangat berbeda, ia mulai mabuk-mabukan pemarah hingga sering memukul ibu. Akhirnya untuk mengurangi kesakitan ibuku dan adikku, aku yang saat itu berubah menjadi sosok kepala keluarga memutuskan untuk memboyong ibu dan adikku ke jogja. Kita tinggal di kos yang sempit, aku harus kerja untuk menghidupi mereka, ibuku depresi adikku trauma, aku bener-bener stress waktu itu...

...mungkin kalau kamu dengar rumor kalau aku selingkuh aku narkoba, itu semua bohong. Iya memang aku bekerja sambilan di salah satu karaoke, tapi bukan berarti aku menyentuh barang haram seperti itu. Aku memang nakal, tapi aku ga se desperate itu menenggelamkan masa depanku sedangkan ibu dan adikku masih butuh aku."

Naya mendengarkan setiap kata yang terucap dari mulut Dika. Naya seolah tidak percaya, mengapa Naya selama ini begitu bodoh memutuskan sesuatu tanpa mencari tahu lebih dahulu. Naya seolah jatuh dalam jurang, andai saja Naya waktu itu peka dan tahu posisi sulit Dika pasti Naya tidak akan membiarkan Dika untuk kesulitan sendirian.

"Kenapa kamu ga kasih tau semuanya? Kenapa Nand?" Sambil menahan tangisannya.

"Karena aku sayang kamu Nay."

"Kamu bilang sayang? Kalau kamu emang sayang sama aku harusnya kamu membolehkan aku untuk bisa keluar dari masa sulitmu." Tangisan Naya semakin pecah, ia sudah tak mampu lagi untuk membendung tangisannya.

"Maaf Nay, aku memang sengaja tidak melibatkanmu dalam masalah ini. Aku rasa itu hal yang bodoh untuk berbagi kesengsaraan."

"Terus Ibu dan Anin?"

"Ibu sama Anin sekarang tinggal di jogja. Ibu udah bisa kembali kerja, Anin juga udah mulai sekolah lagi. Selama bertahun-tahun aku menghilang karena aku sedang menata kehidupanku dari nol lagi Nay, aku mati-matian untuk kerja part time sambil kuliah. Aku bahkan tidak sempat memikirkan diriku sendiri. Setelah aku sudah bisa menata kembali kehidupanku dan aku bisa kembali dengan the vroovy, aku ingin cari kamu. Sulit, sangat sulit. Sampai akhirnya aku bertemu dengan Anisa, pacar Dio. Aku memohon untuk meminta kontakmu, tapi kamu tidak menjawabnya. Dan yang paling aku sesali, ternyata kamu bukan rumahku lagi Nay. Kamu udah jadi rumah orang lain. Dan aku sadar kalau selama ini ternyata aku cuma ngontrak, bukan beli untuk jadi hak milik."

Tidak ada satupun kata terucap dari Naya selain tangisannya. Dika sangat merasa bersalah telah menyakiti perempuan yang sangat dicintainya. Andai saja ayah dan ibunya tidak bercerai pasti hubungannya dengan Naya akan berhasil.

"Nay, mungkin aku sampai saat ini menyesal karena aku datang terlambat untuk memintamu kembali. Tapi aku hanya ingin melepasmu agar aku semakin bisa untuk kembali seperti aku yang dulu. Izinkan aku untuk memelukmu sekali saja."

Naya tidak memberi jawaban apapun, ia terdiam membeku. Dan seketika memanas saat Nandika memeluk Naya, awalnya Naya memang tidak mau untuk membalas pelukan. Namun entah setan apa yang sedang lewat justru Naya membalasnya. Ada perasaan hangat masalalu yang singgah, namun hanya singgah saja karena sekarang hati Naya memang sudah sepenuhnya termiliki oleh orang lain.

Dan tanpa disadari, Rian yang sedari tadi ternyata melihat semuanya mendengar semuanya. Rian memang membiarkan rasa sakit dan cemburunya untuk malam itu saja agar tidak ada lagi malam-malam cemburu berikutnya. Ia membiarkan istrinya menangis dan dipeluk oleh seorang lelaki dari masalalu istrinya. Dari awal hingga akhir Rian menyaksikan semuanya, Rian memahami posisi keduanya yang sama-sama saling kehilangan pada saat itu.

Naya melepaskan pelukannya. "Maaf kalau selama ini aku ga pernah ada effort untuk cari kamu, maaf kalau selama ini selalu berprasangka buruk. Maaf selama ini aku bukan seseorang yang baik buat kamu. Tapi, posisinya sekarang berbeda. Aku bukan lagi buat kamu dan kamu juga bukan buatku. Aku ingin setelah malam ini kamu bisa melepas aku untuk bisa bahagia dengan pilihanku, begitupun aku akan melepasmu untuk bahagia dengan perempuan yang menjadi pilihanmu nanti. Kita sudah sama-sama dewasa. Sekarang, cari rumah baru buatmu. Karena kamu sepertinya kamu butuh rumah buat jadi tempat pulangmu."

Dengan ikhlas Dika tersenyum hangat kepada Naya. Rasanya lega setelah berbicara yang sejujurnya dengan seorang yang ia cari-cari selama ini.

"Aku menghargai suamimu Nay, aku menghargai semua yang sekarang menjadi masa depanmu. Salam untuk ayah ibu sama mba Raya. Aku pamit dulu. Makasih untuk semua waktunya dari kita masih pdkt sampai sekarang aku belajar banyak hal. Dan aku mencoba jntuk mensyukuri itu semua. Sekali lagi makasih Nay."

Naya hanya tersenyum seiring dengan kepergian Nandika yang menuju ke toilet lelaki. Naya kembali ke dalam ballroom sambil menutupi bagian bawah wajahnya dengan kerudungnya. Ia mengajak Rian untuk segera kembali ke kamar walaupun acaranya belum sepenuhnya selesai. Rian yang tidak lagi heran dan terkejut dengan tingkah Naya mencoba memaklumi. Rian menggandeng tangan Naya erat namun penuh kehangatan.

Mereka memasuki kamar. Naya menceritakan semuanya dan didengarkan oleh Rian dengan tegarnya.

"Tarimakasih udah jujur sama mas. Sebelum kamu mengatakannya mas udah denger semuanya yang kalian bicarain tadi di lorong menuju toilet."

"Mas lihat?"

"Lihat."

"Mas marah?"

"Mas memang marah, tapi mas sengaja untuk menghabiskan amarah pada malam itu juga biar malam-malam berikutnya tidak ada adegan drama seperti tadi lagi."

"Maafin Naya mas, Naya belum jadi istri yang patuh sama suami."

"Naya, masalalu memang tidak seharusnya untuk kamu ingat terus. Ada kalanya kamu mengingat tapi tidak terus-menerus. Yang penting sekarang kamu sudah sepenuhnya mengikhlaskan dia. Udah ya, jangan nangis lagi. Mas ga marah kok sama Naya."

Mereka berpelukan. Nyaman rasanya ketika memeluk seseorang yang dicintai dan mencintai kita. Malam itu malam terburuk sekaligus terindah. Terimakasih masalalu, darimu aku belajar untuk semakin mencintai masa depanku.

RumahTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang