[1] Park Chanyeol

247 11 0

"MATI AKU!"

Serin lompat dari kasurnya terkejut ketika melihat jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi. Malang sekali nasibnya di semester ini, hampir semua kelas yang ia ambil mendapat jadwal kelas pagi sehingga ia hampir selalu terbangun kaget seperti ini. Ia langsung lari terbirit-birit menuju kamar mandi dan siap-siap secepat kilat. Suasana rumah pagi ini jadi riuh sekali karenanya.

"Biasaan sekali anak itu." kata ibunya sambil mengangkat roti dari alat pemanggang.

"Bu, aku pakai selai stroberi saja, ya." ujar Sehun senyam-senyum sok manis sambil menunjuk toples berwarna merah di dekat ibunya.

"Tidak boleh! Hari ini Ibu akan memberikan sarapan yang sangat bergizi untukmu." ia memasukkan telur orak-arik serta sayuran berisi tomat dan selada segar ke dalam roti panggang tersebut.

Sehun mendengus kesal, "Aah, selada itu– " ia merengek menggoyang-goyangkan tubuhnya. "-singkirkan selada itu, ah Ibu~ lagipula kenapa pagi ini harus sarapan sandwich? Memangnya kita bule?"

"Yah! Memangnya bule saja yang boleh sarapan sandwich?! Sana ngaca, kau pikir darimana kau bisa mendapatkan tubuh yang tinggi seperti itu? Tentu saja karena Ibu yang selalu rajin memberikan makanan sehat untukmu, tahu!" jawab ibunya bangga. "Lagipula kau ini kan sudah kelas tiga, aku harus memberi makan otakmu supaya bisa masuk universitas."

"Padahal aku memang dari sananya sudah dilahirkan tinggi dan tampan–" Sehun berbisik pelan sambil menjulurkan bibir bawahnya. Untung saja Ibunya tidak mendengar. "Hm... iya, deh." jawab Sehun akhirnya pasrah dengan tingkat kepercayaan diri yang luar biasa dari ibunya.

Tiba-tiba saja Serin datang dari belakang dan langsung menyambar segelas susu di meja dan menghabiskannya dengan terburu-buru.

"Ah! Nuna!!!" Sehun terperanjat sambil memegang dadanya terkejut sekali melihat sang kakak muncul secara tiba-tiba. Namun Serin, sang kakak hanya mendelik tidak merespon apa-apa.

Semenit kemudian Sehun menyudahi sarapannya. "Terima kasih untuk makanannya, Bu. Aku pergi dulu!" pamit Sehun yang sudah selesai dengan sarapannya dan langsung mengambil tas ranselnya menuju keluar rumah.

Serin masih melanjutkan sarapannya dengan terburu-buru. Tenggorokannya terasa begitu kering saat menelan makanan karena tenggorokannya belum sempat diisi setetespun air putih sejak bangun tidur tadi. Aah, kelas pagi sungguh menyebalkan. Aku jadi harus kerepotan seperti ini setiap pagi. Serin terus mengeluh dalam hatinya.

"Uhuk! Uhuk!"

Mendengar putrinya yang tersedak karena menelan makanan dengan terburu-buru, ibunya langsung menepuk-nepuk punggung Serin.

"Pelan-pelan saja makannya, kau tidak akan mati hanya karena datang terlambat."

Beberapa menit setelah kepergian Sehun, Serin segera menyelesaikan makanannya dan ikut menyusul pergi, "Aku juga pergi, Bu!" katanya cepat dan lari terburu-buru. Ibunya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah anak perempuannya itu.

Sesampainya di depan rumah, Serin bingung melihat Sehun masih berdiri di depan rumah dan bukannya segera berangkat ke sekolah. Ia melangkah mendekat kemudian sadar bahwa adiknya sedang berbicara dengan seorang pria tinggi yang wajahnya sangat familiar sedang duduk di atas sebuah motor sport.

"Park Chanyeol?"

Lelaki tinggi itu pun menoleh, "Oh, Serin-ah." sapanya tersenyum melihat sosok Serin.

Menyadari kakaknya yang datang, Sehun dengan terburu-buru langsung duduk di jok belakang motor Chanyeol. Lelaki Park itu ikut menoleh ke arah Sehun bingung.

Universe in His EyesTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang