Kamu Rumahku

3.8K 349 2

Sudah tak kaget lagi ketika sabtu malam suara mobil mengarah ke halaman rumah Naya. Iya Rian, siapa lagi? Naya pun merasa sudah seperti jadwal mingguan untuk bertemu dengan seorang lelaki tampan itu. Namun kali ini agenda mereka berbeda, Naya diajak untuk makan malam dengan keluarga Rian, awalnya Naya menolak karena ya Naya memang belum masu se-serius itu dengan Rian, namun karena ada dalang dibalik rasa mau Naya ini yaitu ayah dan ibunya, maka dari itu Naya mengiyakan ajakan Rian.

Malam itu Naya sungguh cantik dengan pakaian berwarna hitam dan celana kulot berwarna cream ditambah dengan kerudung motif dengan warna senada. Satu kata yang terpikirkan oleh Rian. Cantik. Begitupun dengan Rian yang mengenakan polo shirt berwarna merah marun dan celana jeans yang casual. Keduanya serasi.

Mereka berpamitan kepada kedua orang tua Naya, mobil Rian semakin menjauh dari halaman rumah Naya menerobos rintik hujan dan jalanan yang sedikit lengang.

Memasuki kawasan perumahan elite, mobil Rian masuk ke halaman rumah bergaya eropa klasik. Megah. Terlihat salah satu daun pintu terbuka menandakan ada orang didalamnya. Rian memasuki rumahnya diikuti dengan Naya yang berjalan sekitar 2 meter dibelakangnya.

Naya disambut hangat oleh keluarga Rian, terlihat perempuan paruh baya berkerudung tanpa make up namun mampu memancarkan aura kecantikan, dan sebelahnya lelaki dengan rambut sedikit putih dengan kewibawaan terpancar oleh dirinya, terakhir kedua adik lelaki Rian yang masing-masing berumur 15 tahun dan 19 tahun. Naya merasakan kenyamanan berada didalam keluarga ini, karena mereka mampu menumpahkan segala kasih sayang yang memunculkan aura kehangatan.

Mereka memulai makan malam dengan obrolan riangan diantara mereka yang mampu menambah keakraban. Dalam fikiran Naya, jelas sekali keluarga ini sangat mementingkan komunikasi agar tetap hermonis. Tanpa sadar Naya tersenyum bahagia, bahagia karena bisa mengenal keluarga yang menginspirasi ini. Tanpa sadar pula Rian sesekali memandang Naya dengan perasaan bahagia. Sempurna.

Waktu sudah menunjukkan pukul 21.00. Sudah hampir dua jam Naya dirumah yang megah ini, dan sudah hampir dua jam pula Naya mengenal keluarga ini, dan sudah waktunya pula Naya untuk berpamitan pulang diantar oleh Rian.

"Sering-sering main kesini ya Nay." Ucap Ibu Rian sambil memeluk gadis cantik itu.

"InsyaAllah ibu nanti pasti Naya sempetin buat silaturahmi." Sambil mencium punggung tangan ibu Rian.

"Kalo gak ya kita yang nanti mampir kerumah Naya ya gak bu?" Ucap Ayah Rian yang di balas dengan anggukan ibu.

"Wah boleh om, ditunggu nanti sama bapak ibu dirumah. Kali gitu Naya pamit dulu ya om tante, salam juga buat Rio sama Rei. Assalamualaikum." Pamit Naya.

Rian dan Naya memasuki mobil, dan dalam sekejap saja mobil itu sudah meninggalkan halam rumah megah itu. Dalam perjalanan menuju pulang kerumah Naya hanya kebisuan diantara keduanya yang terdengar hanya suara lagu milik Senar Senja - Dialog Hujan.

Tanpa kata tanpa nada
Rintik hujan pun menafsirkan kedamaian
Hanya rasa hanya prasangka
yang terdengar di dalam Dialog Hujan

"Nay?" Suara Rian mampu memecahkan kebisuan diantara keduanya.

"Ya?" Sambil menoleh ke arah Rian yang sedang mengemudi.

"Kalau boleh nanya, Naya memang mau menikah di umur berapa?"

Hanya senyuman yang terpasang di wajah manis Naya. Rian heran dan bingung, apakah ada yang salah dengan pertanyaannya atau pertanyaan tentang menikah ini sangat sensitif untuk Naya? Rian hanya berharap ada jawaban lain bukan hanya sekedar senyuman.

"Kenapa mas Rian tanya begitu?"

"Eh? Gapapa kok cuma pengen tanya aja, ga dijawab juga gapapa Nay."

"Kalaupun besok ada yang ngelamar Naya, Naya juga bakalan menerima. Soalnya Naya dari kecil bukan seorang ambisius yang harus ada plan punya karier yang bagus baru menikah misalnya umur 25 keatas. Naya itu bukan seseorang seperti itu mas, justru bagi Naya kalo Naya membatasi umur Naya menikah itu sama aja menolak jodoh dari Allah. Misal nih, Naya udah ketemu sama seseorang yang pengen serius sama Naya diumur 20 tahun, tapi prinsip Naya menikah harus diatas 25 tahun. Jodoh itu bukan di tolak tapi diterima, dengan menerima itu nanti pasti bakalan ada rezeki yang lebih didatangkan mungkin dengan cara mereka bersama. Gitu mas."

"Panjang ga Nay."

"Hahaha lagian mas Rian tanya begituan, udah tau kalo Naya ini orangnya santai, kalo kerja ga dibatesin punya minimal pendidikan mungkin Naya udah kerja dari dulu mas. Punya uang banyak, menikmati hidup. Tapi sayangnya sekarang pendidikan itu cuma formalitas buat memperoleh suatu gelar buat pekerjaan. Sayang aja si."

"Sayang sama siapa?" Tanya Rian sambil menoleh ke arah Naya.

Keduanya tertawa sampai akhirnya Rian membuat keajaiban yang menurut Naya itu lebih seperti ledakan bom di hatinya. Bom yang mampu memecahkan kebahagiaan berkali-kali lipat.

"Kamu bilang, kalau besok ada yang melamar kamu mau menerima? Kalah begitu, kalau sekarang aku yang ngelamar kamu, boleh?"

Naya sungguh tidak percaya dengan perkataan Rian, benarkah secepat ini jodoh dipertemukan dengan cara yang tidak terduga mengingat pertama kali bertemu dengan Rian. Secepat ini kah Naya memulai masa depan dengan seseorang yang dikirim Tuhan?

Belum ada jawaban dari Naya yang masih terkejut dengan perkataan Rian. Rian menepikan mobilnya di pinggir jalan untuk mestabilkan rasa nerveusnya.

"Selama ini aku kehilangan arah Nay, aku butuh kamu buat jadi rumah untuk aku pulang."

Naya menangis terharu dan secara reflek memeluk lelaki disebelahnya itu, Rian membalas pelukan hangat Naya. Dengan lirih Naya menjawab "Pulanglah, karena Naya sudah menunggu."

Jawaban Naya sudah menafsirkan bahwa ia menerima lamaran dari Rian, walaupun tanpa cincin tapi setidaknya lamaran itu sudah terwujud dari permintaan Rian untuk menjadikan Naya sebagai rumahnya.

Sampai di rumah Naya, Rian menemui kedua orang tua Naya mengatakan maksud dan tujuannya untuk memiliki hubungan serius dengan Naya. Mendengar hal itu perasaan terharu terlihat dari keduanya. Ada perasaan lega dan bahagia melihat anak bungsunya menemukan seseorang yang tepat untuk menjadi calon bagian hidup Naya.

RumahTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang