Bertemu

7.2K 480 1

"Angga, tolong kamu pimpin dulu meeting hari ini, sudah dipersiapkan kan?"

"Sudah pak Rian, nanti setengah jam lagi dimulai."

Sudah pasti yang namanya Rian itu selalu sibuk, contoh saja hari ini, hari sabtu. Memang perusahaan ini berbeda. Hari sabtu tetap ada jam kerja, karena justru hari sabtu ini lah saat dimana orang beramai-ramai untuk konsultasi mengenai konstruksi dan lain sebagainya. Hari ini Rian harus pergi ke Bandung, meninjau proyek yang di pegang oleh Haris salah satu arsitek muda berbakat yang dimiliki HarsCorp.

"Yo ikut gue!" seru Rian sambil menepuk punggung Dio.

"Hah? Kemana? Kerjaan gue belum beres." Sanggah Dio sambil merapikan kertas yang berserakan.

"Udah tinggal dulu. Besok kan bisa lembur." Jawab Rian dengan santainya.

"Gak ah. Yang lain aja deh, sumpah kerjaan gue numpuk Yan."

"Besok gue yang kerjain kerjaan lo."

"Hah? Serius Yan? Wah ini nih yang perlu dilestarikan. Okelah kemanapun siap pakboss!"

"Tapi lo yang nyetir." Sambil membalikkan badan dan mengacungkan telunjuk ke depan wajah Dio.

Akhirnya mereka menuju ke Bandung, mereka memang tidak terbiasa menggunakan supir. Karena bagi Rian, selama masih bisa mengatasi sendiri kenapa harus orang lain?

Setelah hampir satu jam lamanya berada dalam kemacetan, mereka memutuskan untuk rehat sejenak di rest area sambil minum kopi untuk menghilangkan rasa kantuk. Dio berjalan menuju arah toilet dan tak disangka ia menemukan sosok yang ia kenali dulu ketika masih SMA sedang akan memasuki area restorasi rest area.

"Shanaya?"

Gadis manis berkerudung itu menoleh ke arah Dio, Shanaya Panorami (21). Iya gadis itu dulu adik kelas Dio, mereka itu sekolah di yayasan Globe Muslim School. Sewaktu Naya SMP ia sangat terkenal karena salah satu teman Dio menyukai gadis itu, jadilah para pentolan SMA kenal dengan gadis manis yang sekarang berkerudung itu.

"Mas Dio ya?" Dengan senyuman yang merekah sambil berhati-hati takut kalau ternyata salah orang.

"Iya. Yaampun Naya. Kamu udah beda banget loh, tambah cantik ya ukhti."

"Apaan sih lebay deh mas Dio. Apakabar mas? Lama banget ga ketemu sekarang udah keliatan wibawa nya ya? Haha"

'Yaampun ini cewe masih ramah aja dari dulu' batin Dio.

"Jelas dong, kan sekarang udah berduit hehe. Becanda Nay." "Eh bentar ya aku mau ke toilet dulu udah kebelet nih."

Naya tersenyum geli melihat tingkah konyol seniornya itu. Asal kalian tahu, Naya ini cewe yang biasa-biasa saja, nothing special tapi dia ini entah kenapa punya inner beauty yang terpancar dari kepribadiannya, senyumnya manis ditambah kumis tipis, kulitnya putih bersih dan matanya cantik bulu matanya lentik. Lengkap sudah kecantikan naya yang apa adanya ini, apalagi sekarang ia berhijab lelaki manapun akan meleleh ketika melihat senyumannya.

Shanaya melangkahkan kakinya menuju meja berisi kursi empat orang. Ia menduduki salah satu kursi dan disusul dengan ayah dan ibunya. Naya yang terlihat bosan mengeluarkan smartphone nya untuk sekedar membuka media sosial. Tak lama kemudian pesanan makanan mereka datang dan tak lama juga Dio tiba-tiba menghampiri meja Naya.

"Assalamualaikum pak haji dan bu haji!" Seru Dio membuyarkan konsentrasi mereka bertiga. Kedua orang tua Naya menunjukkan raut wajah kebingungan tapi Naya justru tertawa melihat Dio yang sok akrab. Dio menjulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan kedua orang tua Naya.

"Bapak sama Ibu pasti lupa siapa saya..."

"Ini mas Dio, Yah Bu." Naya menjelaskan sambil tersenyum.

"Ooh nak Dio, Ya Allah saya pikir siapa tadi. Sudah berubah ya sekarang." Senyum merekah terpasang di wajah Ibu Naya karena mengingat sosok Dio.

"Sudah jadi orang sukses ya sekarang?" Sahut Ayah Anaya dengan sedikit senyuman.

Dari kejauhan Rian yang sedari tadi menangkap kelakuan Dio terhadap tiga orang di meja ujung. 'Ngapain itu monyet satu?' Tanyanya dalam hati. Pada saat ia bertanya-tanya dalam hati saat itu pula Dio berjalan mendekat kearah meja Rian.

"Ngapain sih lo?" Selidik Rian.

"Habis silaturahmi sama mantan calon gebetan yang gak kesampean." Sambil menyeruput kopinya.

"Udah calon, mantan, tapi ga kesampean. Payah."

"Kalo dulu Dika ga deketin Naya dulu, pasti gue juga dapetin dia. Tapi berhubung gue anaknya mengalah jadi ya yaudah."

"Sadar diri mas, udah punya tunangan sekarang!" Sambil menoyor kepala Dio.

"Anisa, aku cuma becanda kok sayang." Sambil mengeluarkan gaya memohon.

"Lebay lo!" Seru Rian sambil tertawa melihat Dio.

Keduanya tampak enggan untuk memulai perjalanan yang melelahkan. Iya melelahkan karena jalanan yang sangat macet, mengingat hari ini weekend. Setelah bercakap-cakap, Rian melihat seorang gadis berjalan menuju ke arah meja nya. Manis, satu kata yang terlintar di pikiran Rian.

"Mas Dio." Suara lembut Naya mampu menolehkan pandangan Dio yang awalnya melihat parkiran menjadi menuju ke Naya.

"Eh, Shanaya.." sambil membenarkan duduknya agar lebih tegap.

"Naya duluan ya, salam buat temen-temen mas yang dulu suka gangguin Naya."

"Termasuk Dika ga?" Seraya menggoda Naya.

Naya tau perkataan Dio itu hanya bercanda, ia hanya tersenyum karena otaknya sedang kembali mengingat masa lalu.

"Eh Nay, kenalin ini boss ku Rian. Rian kenalin ini Naya adek kelasku." Sambil mempersilahkan keduanya untuk berjabat tangan dan saling memperkenalkan diri.

"Naya."

"Rian."

Rian merasakan getaran yang aneh ketika berjabat tangan dengan gadis itu, ada perasaan nyaman ketika melihat senyumnya dan ada perasaan berdesir di dadanya. Yang entah apa itu artinya Rian tidak tahu. Yang jelas, sejak Naya melakukan obrolan dengan Dio. Rian menelisik setiap inci wajah gadis itu, yang tanpa disadari Rian ternyata Dio melihat tatapan itu.

"Loh bapak sama ibu mana Nay?" Tanya Dio

"Lagi ke toilet mas. Yaudah Naya mau ke mobil dulu ya mas." Pamitnya sambil menyalami keduanya disertai dengan senyuman hangat. Dan tanpa sadar mata Rian mengikuti arah kepergian gadis itu.

"Eheem!" Dio yang menyadari hal itu berdehem yang disengaja untuk membuyarkan Rian.

"Kenapa lo? Keselek?" Jawab Rian sambil mengarahkan kembali pandangan ke lawan bicaranya.

"Lo kemaren bilang kan, kalo orang yang tepat itu bakal datang diwaktu yang tepat? Nah, gue rasa Naya itu jawabannya."

Rian tidak mengerti apa maksudnya, karena yang Rian tau dia hanya mengagumi gadis itu yang apa adanya.

"Udah gausah pura-pura bingung. Serahin sama Dionard Pasha!" Sambil menepuk dadanya sendiri dengan gaya bangga.

"Ngaco mulu. Udah yuk jalan ntar ga sampe-sampe."

Keduanya meninggalkan restorasi rest area menuju mobil mewah milik Rian. Mobil mewah itu berdiam diantara kemacetan yang melanda. Melelahkan memang, namun karena ini sudah menjadi tanggung jawab pekerjaan mereka terutama Rian.

RumahTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang