Adriansyah Harsono

14.6K 658 4

Kedua pria mengenakan setelan formal menuju ke ballroom hotel bintang lima. Adriansyah Harsono (28), pria berpostur tinggi dan atletis ini memiliki wajah yang menawan dilengkapi dengan kulit yang putih bersih hidung mancung dan mata yang tajam, maklum ia memiliki darah jawa-jerman. Yang satu lagi, Dionard Pasha (27), wajahnya manis hidungnya mancung memiliki alis tebal dan lesung pipit ketika tersenyum, tak kalah juga dengan Rian, Dio juga memiliki postur tubuh yang tinggi dan atletis. Kalau dilihat mereka ini benar-benar pria idaman para wanita, sudah tampan-mapan pula. Iya, mereka sekarang menjadi partner dalam menjalankan HarsCorp. HarsCorp merupakan perusahaan dibidang 'Konsultan Arsitek & Kontraktor' perusahaan ini menampung para arsitek dan kontraktor muda yang mampu mengembangkan pikirannya untuk bekerja secara maksimal. Maka dari itu Harsono Wijaya, yang merupakan ayah dari Adriansyah Harsono atau Rian mempercayakan perusahaan tersebut dipegang olehnya karena perlu ada sosok pemimpin yang baru dalam pembaruan.

"Yan, kok gue ikutan kesini sih?" Tanya Dio yang sedang mencoba mensejajarkan langkah Rian.

Rian tidak membalas pertanyaan dari sahabat nya itu. Ya mereka bersahabat semenjak Dio diterima di HarsCorp. Entah mengapa, Rian lebih nyambung untuk berbicara kepada Dio yang statusnya sebagai staf HRD. Lagi pula dalam berteman tidak memandang status kan? Begitupun Rian.

Keduanya memasuki Ballroom, disambut oleh para resepsionis dengan senyuman ramah. Keduanya kini menjadi sasaran mata para tamu yang hadir. Ya.. karena mereka salah-dua dari sekian banyak bapak-bapak yang datang.

Rian terlihat sangat berwibawa sambil berjabat tangan dengan 'senior' nya. Rian sangat menghormati mereka walaupun kini Rian menyandang status sebagai pimpinan organisasi keperusahaan.

Acara tersebut berjalan sekitar kurang lebih lima jam. Dimulai dari pukul 09.00-14.00 wib. Acara tersebut sangat menjamu para tamu dengan hidangan yang sangat lezat. Sayangnya, Dio dan Rian sama sekali tidak sempat untuk merasakannya. Mereka hanya sempat menyicipi segelas jus dan chicken karage.

"Yan, gila lo ya gue lima jam nemenin lo cuma makan itu doang? Wah sumpah demi lo gila men" sambil berjalan kearah pintu keluar untuk menunggu mobil yang dibawa oleh petugas hotel.

"Diem Yo, gue juga laper." Sambil memainkan smartphonenya.

"Ya terus lo ga ada usaha buat cari makan gitu?"

Mobilnya pun datang, keduanya memasuki mobil mercedes benz CLS-Class. Rian yang menguasai kemudinya dan diikuti Dio yang masuk dibagian penumpang depan.

"Yan, lo dengerin gue ga sih? Sumpah ini kepala gue udah pusing kelaperan."

"Diem nyet."

Setelah pertengkaran yang tidak bermutu mereka, Rian menepikan mobilnya di salah satu warung kaki lima 'Nasi Gudheg Bu Wati'. Bayangkan saja seorang yang bisa dikatakan presiden perusahaan ini menggunakan mobil mewah tapi mampir untuk membeli makan di kaki lima.

"Turun!" Perintah Rian sambil melepas seatbeltnya.

Mau tak mau Dio harus menuruti perintah bos-nya ini. Dengan perasaan kesal karena ia pikir akan makan di restoran disertai AC pasti lebih nikmat.

"Gila lo bener bener gila Yan, tau gini gue tadi ga ikut!"

Mereka memesan dua porsi nasi gudheg dan dua gelas es teh manis. Dio tak habis pikir, Rian yang dibesarkan oleh keluarga kaya raya tapi hatinya masih saja sederhana. 'Ini orang kok kaya ga ada kejelekannya sih' batin Dio.

"Kenapa lo?" Tanya Rian yang membuyarkan pikiran Dio.

"Gapapa, gue terharu aja lo masih mau makan di pinggir jalan."

"Lebay lo. Jangan bilang lo minta dinaikin gajinya."

"Nah kok lo peka sih? Tapi ya Yan, lo tuh kan udah punya segalanya, ganteng mapan rumah udah duit tinggal ambil, tapi gue heran kenapa lo masih jomblo juga ya? Apa jangan-jangan lo tuh......gay?"

Rian yang sedang menyantap makanannya tersedak mendengar pernyataan Dio dan memandang dengan tatapan terkejut.

"Goblok. YA GAK LAH!"

"Ya habis, lo tuh mencurigakan gitu loh. Kenapa sih lo tuh ga cari cewe aja lo tinggal pilih mana yang lo suka, cewe juga pasti bakal mau 100% sama lo Yan!"

"Ya gue juga lagi cari yang 'klik' Dio......bikin ilang selera makan gue aja lo."

"Sejak kapan lo cari cewe?"

"Sejak lo ngomong kalo gue dikira 'gay'!"

"Kan.. lo emang pinter sih mimpin perusahaan. Tapi lo bodoh kalo di hadepin persoalan cewe. Cemen banget sih lo."

Setelah adu mulut mereka mengenai perempuan, mereka kembali melanjutkan perjalanan ke kantor. Masih banyak pekerjaan yang harus diselesaikan oleh keduanya. Sayangnya, perjalanan tidak semulus yang diharapkan. Kemacetan selalu saja menjadi faktor utama dalam perjalanan. Sudah hampir satu jam mereka stuck ditempat.

"Yan, gue bicara serius. Emang lo ga pengen punya seseorang yang bisa jadi rumah buat lo?.."

"Yo, ini haru lagi sensitif jangan dibikin lebih sensitif karena bahasan lo."

"..gue belum selese ngomong jangan dipotong. Umur lo sekarang udah dikatakan matang, lo udah mapan, menurut gue lo tuh udah perfect. Coba lo pikirin lagi deh, ketika ke-perfect-an lo bisa lebih perfect dengan adanya seseorang yang bisa jadi rumah buat lo. Lets say, lo lebih terarah. Emang lo gamau bahagia punya seseorang yang bisa semangatin lo ketika lo pulang kantor ketika lo lagi bosen bahkan ketika lo sedang ada masalah. Seseorang itu perlu hadir dalam hidup lo sekarang Yan...."

"Iya gue paham."

Dio sengaja tak mau membuka mulut lagi. Karena ia tau kalau Rian pasti akan menanggapi dengan cueknya. Tapi kali ini sungguh berbeda karena Rian dengan terbukanya mengeluarkan isi hati kesepian yang ia rasakan.

"Gue lagi mencoba buat menemukan seseorang yang pas buat gue, apa yang lo katakan bener. Gue itu kehilangan arah gatau mesti pulang ke siapa, minimal gue bisa untuk sekedar berbagi cerita sama seseorang yang gue sayang, tapi selama ini gue ga pernah menemukan sesosok 'rumah' buat gue. Entah kenapa gue yakin, orang yang tepat itu akan datang diwaktu yang tepat. Mungkin Tuhan sekarang sedang menguji kesabaran gue buat nunggu seseorang yang tepat itu Yo."

Dio tak menanggapi perkataan Rian. Ia hanya termenung mendengar keresahan yang disarakan oleh sahabatnya itu, sungguh Dio tau persis rasanya sendiri, menjomblo selama setahun saja rasanya seperti tujuh tahun. Apalagi sahabatnya ini yang semenjak ditinggal menikah oleh mantannya. Sudah sakit ditambah sakit dengan kesendiriannya selama 6 tahun. Malangnya nasibmu Yan.

RumahTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang