Jungkook dan Jimin itu punya banyak perbedaan. Mulai dari Jimin yang lebih pendek darinya, Jimin yang lebih tua darinya, Jimin yang lebih jelek darinya oh, aku tak yakin untuk yang satu ini, Jimin yang lebih cerewet sampai Jimin yang lebih cengeng darinya.
Jimin menangis hampir untuk setiap hal bahkan hal sepele seperti saat Jungkook demam misalnya. Jimin akan menangis lalu mengoceh panjang lebar sampai akhirnya kembali menangis dan Jungkook hanya bisa tutup telinga.
Jungkook bingung. Entah Jimin yang terlalu cengeng atau justru Jungkook yang terlalu keras hatinya. Jungkook hampir tak pernah menangis selama dua puluh dua tahun perjalanan hidupnya di dunia. Yang Jungkook tahu, ia hanya pernah menangis dua kali selama hidupnya.
Pertama adalah saat ia pertama kali terlahir ke dunia. Itu pun Jungkook tahu lewat cerita dari ibunya dan kedua, saat Jungkook berusia lima belas tahun dan kehilangan seluruh anggota keluarganya. Jungkook menangis dan meraung kesetanan selama tiga hari lamanya sampai ia berhenti dengan sendirinya. Air matanya mengering. Hatinya seperti membatu dan jiwanya seolah pergi meninggalkan Jungkook dan raganya. Jungkook hidup tapi serasa mati. Sejak saat itu Jungkook tak pernah bisa menangis lagi.
Jungkook hidup hanya untuk menunggu kematian datang menghampiri. Jungkook lelah. Ia tak punya siapa-siapa lagi di dunia. Berulang kali ia mencoba mati tapi tak bisa. Tuhan selalu punya cara menggagalkan rencananya. Hingga malam itu, Jungkook benar-benar berada di ambang batasnya. Ia benar-benar ingin cepat menyusul keluarganya. Ia nekad berdiri di tengah rel kereta yang siap melintas, merentangkan tangan dan tersenyum saat lampu kereta mulai menyinari tubuhnya. Tapi, lagi, untuk kesekian kalinya Tuhan menggagalkan rencananya. Ia terpelanting ke sisi samping rel bersama seseorang yang memeluk erat tubuhnya. Park Jimin. Dan Jungkook tak sadarkan diri setelah itu.
-
Keesokan harinya, Jungkook terbangun dalam ruangan persegi bernuansa putih, lengkap dengan aroma obat dan infus yang menancap di tangan kirinya. Jungkook bingung. Terakhir kali yang dapat ia ingat adalah dirinya yang berdiri di tengah rel kereta. Bagaimana bisa ia berakhir disini? Derit pintu terbuka membuyarkan lamunannya. Sosok pria tampan berpipi gembil menghampirinya.
"Kau sudah sadar?"
Jungkook hanya diam menatap pria yang berdiri disampingnya. Siapa orang ini? Apa dia malaikat? begitu pikir Jungkook.
"Kenapa diam saja? Apa ada yang sakit? Beritahu aku, eoh", ucap laki-laki itu. Jelas sekali nada kekhawatiran terselip dalam kalimatnya. Bahkan ia terlihat sudah hampir menangis. Jungkook tetap diam dan hanya mengedipkan matanya. Ia masih terlalu bingung.
"Ah ayolah. Kenapa kau diam saja? Apa.. Apa kepalamu sakit? Apa ada luka serius di tubuhmu? Apa... Ah jangan diam saja, jawab aku!". laki-laki itu kini benar-benar sudah menangis. Jungkook tentu saja terkejut. Ia bingung harus berbuat apa.
"Aku baik-baik saja"
laki-laki itu seketika berhenti menangis. Jungkook tersenyum kikuk ke arahnya.
"Benarkah?"
Jungkook mengangguk sebagai jawaban. Laki-laki itu menghapus sisa air mata di wajahnya lalu menarik kursi dan duduk di sampingnya. Ia mulai menceritakan banyak hal. Siapa namanya, berapa umurnya, termasuk kejadian malam itu. Ia baru berhenti saat dokter datang untuk memeriksa keadaan Jungkook.
Dua hari setelahnya, Jungkook sudah keluar dari rumah sakit. Jungkook berniat pulang ke rumahnya namun berakhir di sebuah rumah milik Jimin. Ia memaksa Jungkook untuk tinggal bersamanya. Tentu saja Jungkook menolak pada awalnya. Namun, lagi-lagi Park Jimin menangis di depannya dan Jungkook tidak bisa untuk bilang tidak karna hal itu. Sejak saat itu, mereka berdua tinggal bersama. Melewati hari-hari bersama. Jungkook tak kesulitan beradaptasi karna Jimin orang yang benar-benar baik terlepas dari sifat cengengnya.
YOU ARE READING
CRYIN
Short StoryJungkook yang tak pernah menangis dan Jimin yang berhasil membuat Jungkook menangis. "Laki-laki tidak menangis, hyung" - Jungkook "Jungkook-aa. Kau tahu kenapa Tuhan menciptakan air mata?" - Jimin
