Agatha

175K 4.8K 32
                                        

Agatha adalah perempuan berumur 25 yang bekerja sebagai kepala Laboratorium di salah satu pabrik obat terbesar di Indonesia. Ia mendapatkan posisi itu karena kepintaran nya di bidang science dan karena kejengahan orang tua nya karena hanya itu satu-satunya hal yang Agatha bisa lakukan tanpa kesalahan. Orang tua nya membeli sebuah pabrik obat dan menjadikan nya kepala Lab.

Ayah nya bernama Djoko Adhidarmo, seorang pengusaha kaya dibidang export-import dan ibu nya bernama Liliana Sitompul, salah seorang pengacara yang disegani karena kemampuan nya memenangkan berbagai macam kasus. Pasangan ini menikah karena mereka mempunyai satu visi dan misi yang jelas. Menjadi sukses dan kaya raya.

Agatha adalah anak terakhir dari 3 bersaudara. 2 kakak laki-lakinya menjadi kebanggaan orang tua nya. Bagaimana tidak? Kakak pertamanya mengikuti jejak sang ayah, menjadi pengusaha sukses sedangkan kakak nya yang kedua mengikuti jejak sang ibu, menjadi pengacara handal yang kini tengah melanjutkan S2 diluar negeri.

Agatha tinggal disebuah apartemen mewah walaupun dari penampilan nya ia lebih pantas tinggal di kos-kosan murahan dipinggiran kota. Rambutnya lurus, hitam membosankan. Ia lebih sering memakai baju berbahan sweater, berkerah tinggi walupun udara Jakarta saat itu sedang amat panas lengkap dengan celana kain hitam.

Seperti hari ini, ia mendapat kabar dari asisten ibu nya bahwa hari ini akan ada acara kumpul keluarga. Agatha membuka lemari baju nya, atau lebih tepat itu disebut ruangan yang khusus berisi baju-baju dan sepatu. Semua berwarna hitam dan putih. Ia memilih baju berkerah tinggi bewarna putih, berlengan pendek, dipadukan dengan blazer hitam dan celana kain hitam bergaris putih. Ia memakai flat shoe dari Prada bewarna hitam mengkilat. Melihat dirinya dari pantulan cermin, ia mengikat rambutnya seperti balerina.

Agatha bergegas ke sebuah restoran bintang lima yang menjadi lokasi pertemuan dengan keluarga nya. Semua orang sudah disana. Ayah, ibu dan dua kakak nya sedang tertawa sambil minum wine. Ia menghampiri keluarga nya. Menyadari kehadiran nya, mereka terdiam dan suasana menjadi senyap.

"Hai sayang, duduk disini" ibu nya menunjuk satu-satu nya kursi kosong tepat disebelahya.

"Sooo.. Gimana kerja?" Sambung kakak tertuanya bernama Orion.

"Baik.. Semua baik.. Mas tau? Aku rasa aku harus meng-import bahan obat dari amerika, ku rasa mas Rion bisa bantu? Oiya, mam kurasa aku butuh bantuan..." Belum selesai Agatha bicara tiba-tiba tangan nya menyentuh gelas wine yang langsung tumpah dibajunya.

"Clumsy as usual.." Sambung kakak nya yang kedua, bernama Romeo. "Kamu bisa ga sih tha, ga goblok sekaliiii aja?!" Sambungnya lagi

"Mami dan Bapak mendapat laporan. Katanya kau mengacau lagi di pabrik.. Kali ini menguji coba sesuatu yang membuat tangan seseorang terbakar?" Kata ibu nya. "Kau mulai gila.. Mami kira kau cuma lambat mikir...."

"Sudah lah mam.." Potong ayah nya sambil memegang tangan ibu nya, "kita kan sudah sepakat. Kita ga usah memojokan dia lagi.. Sayang? Agatha sayang?"

Agatha menatap wajah ayah nya dengan raut wajah kebingungan. Semua nya terlalu cepat baginya.. Wine, Mas Rion, Bang Romi, mami yang marah dan sekarang ayah nya.

"Errr.. Ya pak?" Matanya menatap wajah ayah nya.

"Bapak dan mami mu sudah sepakat. Menyediakan semuanya untuk kamu bukan lah hal yang baik. Jadi... Sekarang.. Bapak dan mami mu akan jual pabrik obat itu, kamu harus berusaha sendiri mencari jalan untuk hidup. Bapak sama mami tetep bantu uang kok.. Apartemen, mobil, kartu kredit mu masih bapak dan mami mu kasih. Tapi untuk karir, bapak dan mami mu sepakat. Kita ndak akan ikut campur. Kamu ngerti nak apa yang bapak omongin?" Ayah nya menjelaskan dengan suara jelas yang agak lambat sembari melihat wajah putri satu-satu nya itu.

Agatha hanya bisa terdiam. Otaknya bekerja keras mencerna semua nya.. Setelah agak lama berpikir, dengan bantuan kedua kakaknya yang ikut menjelaskan akhirnya Agatha mengerti. Bahwa ia kehilangan karirnya. Karirnya adalah segalanya untuk nya dan wajahnya tampak pucat seketika saat ia memahami hal itu.

Ku rasa, aku benar-benar habis kali ini.
Katanya dalam hati.

Posesif (Tamat)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang