BACKPACKING AGAIN!

13 1 0

Seringkali kita tak dapat melukiskan

angin berhembus sepoi

gemericik air sungai

rinai hujan, bahkan

kesedihan hati

: sebab kita adalah makhluk penggembira

dan pelupa.

Larasati menjadi rajin sekolah akhir-akhir ini, dengan satu alasan: ujian semester. Perubahan sikap yang disyukuri Mama, Eyang Putri dan teman-temannya, termasuk Chandra. Tapi ada juga yang sebal, siapa lagi kalau bukan Boni, yang menganggap Laras adalah rival abadi dalam mendapatkan Chandra.

"Haduuuuh... doaku terkabul! Mbak Laras mau belajar dengan khusyuk!" Retno berseru dengan sikap berlebihan, sepertinya baru melihat Larasati menekuni buku di bangkunya. Padahal Laras lagi serius.

Teman yang lain, Iin dan Tatik ikut merubung. Laras jadi kesal. Dia memang bukan murid pintar, tapi dengan konsentrasi, biasanya pelajaran jadi lebih mudah masuk.

Biasanya. Laras mendengus kesal. Cuma dia yang ikut remedial tiga pelajaran. Salah satunya matematika. Itu juga karena kurang teliti, terburu-buru ingin cepat selesai, iri hati melihat teman-teman lain udah pada ngacir keluar kelas.

Pasal lainnya, Laras nggak mau nyontek! Padahal kalau mau, udah dari awal ditawari teman-teman sekelas. Mereka menganggap Laras mengalami kesulitan serius mengerjakan ujian. Padahal, bukan karena nggak bisa maka Laras jadi lama mengerjakan. Tapi karena pikirannya dipenuhi banyak hal. Papa yang ngasih teka-teki, rencana liburan, dan tiba-tiba dia rindu pada seseorang.

Wiiih... sempet-sempetnya ujian mikirin rindu, batin Laras menampar ingatan melankoliknya.

"Gggrrrhhh... kalian memang makhluk paling menyebalkan kalo lagi gini! Gue musti siap-siap ke kantor guru nih!" Laras kesal dan beranjak keluar kelas. "Doain gue yaaaa!!" pintanya serius pada teman sekelas.

"Yaaa! Semoga amalmu diterima di sisi Tuhaaaan!" ada aja yang nyeletuk ngawur.

Laras tidak peduli. Sambil jalan ke kantor guru dia masih baca buku.

Bug!! Seseorang tertabrak. Tepatnya menabrak Laras, karena dia berjalan di sebelah kiri. Betul?

"Iiih!! Elo lagi! Biang keladi!" rutuk suara manja itu. Boni. Membuat Laras harus menoleh.

Boni berdiri dengan angkuhnya, memakai kacamata lensa ungu, tapi tak mampu menyembunyikan sembab mata. Boni habis menangis hebat, atau lagi bengkak mata? Laras mengira-ira dengan simpati.

"Mata lo kenapa, Bon?"

Boni tambah marah.

"Heh! Anak nggak tahu diuntung! Gara-gara bapak lo, Papa masuk penjara, tahu! Bapak sama anak, berkongsi buat jatuhin keluarga gue! Ngancurin hidup gue!"

Boni murka.

Wajahnya yang putih memerah, seperti abis dikukus!

"Bapak lo dipenjara? Apa urusannya sama bapak gue?" Laras bengong. Kepalanya sakit lagi. Bahaya! Kalo amnesianya muncul lagi, gawat! Bisa ngerjain apa nanti di remediasi!

Batinnya mengingatkan, tenang, Ras, kuncinya tenang dulu, supaya aliran darah lancar ke otak, jadi suplai oksigen cukup, jadi organ tubuh bisa bekerja dengan baik.

Backpacker SurpriseBaca cerita ini secara GRATIS!