Sahabat Ku

1 0 0
                                          


   

Pagi ini terasa sepi meskipun di sekelilingku ramai oleh mahasiwa dan mahasiswi yang lain.

Aku duduk di sebuah taman ,tempat biasa aku, Sally, Dea, ,Tia dan Reza duduk dan berkumpul. Kami bering berbagi cerita, membuat tugas ,atau sekedar ngobrol di tempat ini.

Membayangkan, tempat ini adalah tempat aku dan Sally pertama kali bertemu dan berkenalan.

Saat itu aku merasa tak akan ada wanita yang akan mau menjadi teman ku di kampus ini. Mengingat aku adalah pemuda miskin yang merantau dari kampung, yang bisa di bilang tak tau apa-apa dengan lingkungan sekitar dan cara bersosialisasi dengan teman-teman baru.

“hi… nama kamu siapa?” Tanya seorang gadis cantik.

“Nama ku Ardi” jawabku.

“oh Ardi ,asal kamu dari mana?” tanya lagi gadis itu.

“aku dari desa bedegung, desa kecil lumayan jauh dari sini, bisa butuh waktu tiga bulan untuk kesana kalau jalan kaki dari sini”

“siapa juga yang mau jalan kaki kesana… hihihihihiihi” jawabnya.

“hahahahaa iya bercanda kok”

“Kardimaaaaaaan……” teriak Reza dari jauh. Dia menghampiriku dan berkata “siapa ini man? Pacar baru lu?” tanya Reza.

“diem botol kecap! Dan nama aku Ardi..!” jawab ku.

“Iya iya Kardiman hahahahahaa…. Mana duit gue yang lu pinjem kemarin? Katanya mau baliki hari ini” sahut Reza

“eh botol kecap, bener-bener…” aku langsung menarik dompet dan memberikan semua uang yang ada di dalam dompet agar di monster kecap ini cepat pergi.

“Nih… aku balikin” jawab ku sambil memberikan semua uang yang ada dalam dompet ku.

“tapi ini kur…” sebelum Reza menyelesaikan ucapannya, aku segera membalikan tubuhnya.

Lalu berkata “ambil sisanya untuk mu sudah cepat sana, pergi”

“oke… bye” reza pergi membawa semua uang ku, berjalan sembari menghitung uang, wajahnya telihat senang. Terlihat seperti monster botol kecap menyebal yang ceria.

‘Biar lah semua uang ku di bawa monster kecap, yang penting aku terlihat keren di depan bidadari ini’ benak ku.

“Woi… Kardiman , ini baru setengah dari utang lu…. Sisa nya kapan?” si kampret monster botol kecap ini malah teriak bikin malu.

“besooook... nama ku Ardi..” jawab ku kesal.

“itu siapa?” tanya gadis itu.

“ah… itu temen… oh ya sampai dimana tadi?”

“Oh jadi nama kamu Kardiman” tanya gadis itu.

“Bukan-bukan, nama aku Ardi” tegasku.

“iya iya Kardi…” jawabnya.

“Aaaarrrdi…” jelas ku lagi.

“Iya kardi” gadis itu tetap bersikeras.

“yaudah kardi, dan nama kamu siapa?.. tempat asal kamu?” jawab ku pasrah.

“nama ku Sally, aku lahir dan besar di kota ini” jawabnya.

“Sally nama kamu indah banget”

“nama kamu juga lucu… kardiman hihihihihihhii”

Sejak saat itu aku mengenal sally dan akhirnya kami menjadi teman. Di taman ini, di taman kampus yang biasa kami jadikan tempat kumpul geng kami. Tapi sebentar lagi geng akan kehilangan salah satu personil.

“Di ,gimana keadaan ayah Sally ya?” tanya Dea. Tiba-tiba nafas bau Dea memecah kenangan indah ku.

“ga tau juga, semoga semoga sudah jauh membaik.” Jawab ku.

“sudah empat hari sejak ayahnya sakit, Sally gak masuk”

“Itu artinya tiga hari lagi Sally akan berangkat ke luar negri” jawab ku lagi.

Kami terdiam, suasana mendadak hening.

Dan aku melihat air mata Dea menetes. Sejujurnya aku juga ingin menangis hanya saja aku malu, karna banyak orang.

"kayaknya aku bakalan kangen banget sama sally" kata dea sembari menghapus air matanya.

"pulang nanti kita kerumah sakit ,kita lihat keadaan ayah sally" ajak ku. aku ingin sekali menghibur Dea tapi menghibur diri sendiri saja saat ini begitu sulit bagi ku.

“Ayoo... sekalian kita ajak yang lain” jawab Dea.

“oke... nanti aku temui Reza” balasku.

“Tolol...yaudah nanti aku yang nemui Tia... aku masuk kelas dulu” sahut Dea lalu pergi.

Melihat Dea perlahan mulai melangkah pergi aku bisa merasakan kesedihan yang dia rasakan. Terlebih sally adalah orang pertama dan satu-satunya yang berteman dengannya sejak pertama kali masuk kampus, lebih dari setahun yang lalu.

Aku membayangkan kami akan merasa kehilang satu sahabat.

Matahari ku sendiriTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang