DI DALAM KERETA

13 1 0

Pernahkah kau merasa

Dalam gerbong

Ada banyak suka

Juga duka

Seperti goyangan badan

Kereta yang meliuk sepanjang

Rel kukuh, berpasangan tak pernah

Bertemu, tetapi bersetia selalu

Sejajar....

Pagi itu penuh pengharapan bagi Laras, sepertinya semua disediakan untuk dipelajari. Pertemuan dengan Samsir cs, membawa titik terang baru pencarian informasi keberadaan Papa.

Laras suka memikirkan, di mana Papa kini berada, sedang apakah di sana? Bagaimana kondisinya, sehat atau lagi sakit, masih ingat sama Laras atau udah lupa.

Pengharapan Laras bertumpu pada informasi yang dimiliki Samsir. Laras sudah ngebet pengin tanya-tanya, tapi dia pasang strategi, agar tidak dicurigai, ngotot mencari seseorang. Takutnya Samsir malah nggak mau kasih info.

Tapi ada yang aneh, Respati, teman Samsir amat pendiam, sambil sesekali melirik ke Laras, seperti mencuri dengar percakapan. Laras merasa tidak nyaman dengannya, maka lebih baik baginya untuk menghindar, bahkan untuk sekedar untuk memandang.

Laras memilih duduk di dekat jendela. Sendirian. Papanya pernah bilang, tempat yang paling menyenangkan di dalam gerbong adalah di samping jendela atau di dekat pintu. Ternyata Samsir mengikutinya.

"Aku duduk sini aja, ya, Ras?" tanpa menunggu kesepakatan Laras, Samsir duduk di bangku di depannya. Ranselnya disimpan di samping. Mata Laras langsung tertumbuk pada ransel berinisial AZ. Sama seperti inisial seseorang yang hendak dicarinya.

Di seberang lajur, Tiwuk dan Izal duduk bersebelahan, terlibat percakapan serius, cenderung mesra. Sementara Respati menatap tajam pada Laras. Jengah juga dibuatnya, Laras mendengus kesal dan melempar pandang ke luar jendela.

"Kenapa?" usik Samsir sambil menyelipkan rokok di bibirnya. Tapi melihat Laras tak sadar menatap rokok, Samsir buru-buru batal merokok.

"Sori, ya..." sebatang rokok kembali disimpannya di kotak. Diam-diam diliriknya Laras.

"Kenapa?" balas Laras mengangkat alis.

"Kamu sendiri kenapa?" Samsir bersandar dan memandang Laras.

"Tuh, temenmu! Dari tadi ngeliatin aja!" Laras mengeluh juga sambil melirik ke arah Respati. Samsir menoleh.

"Oh. Itu," jawaban pendeknya membuat Laras semakin kesal.

"Itu kenapa?"

"Itu, ya... itu aja, karena kamunya cantik. Bisa-bisa kami rebutan. Aku dan Respati," Samsir menatap lembut. Laras tersipu. Bukan saatnya bicara rebutan cewek.

"Kamu mengingatkan kami pada seseorang," Samsir tersenyum simpul. "Tapi entah benar atau tidak, karena sepertinya tidak mungkin."

"Apaan, sih?" Laras terusik juga. Hatinya penasaran.

"Nggak, ah... Masa lalu.." Samsir mengelak sambil tertawa kecil.

Laras merengut. Tidak enak menjadi seseorang yang mengingatkan pada sosok lain. Emang wajahku pasaran, batin Laras kesal.

"Udah deh, ganti topic," pinta Laras.

Di Stasiun Purwosari, kereta melambat. Laras bergeser ke tengah, melihat-lihat pedagang asongan. Tenggorokannya mulai kering. Ia mencari-cari uang receh di tas pinggang. Dompet kecil diambil dan dirogohnya. Pada detik berikutnya, dompetnya disambar orang yang segera menghilang di antara penumpang yang mulai naik.

Backpacker SurpriseBaca cerita ini secara GRATIS!