TEMAN BARU

13 0 0

Kadang kala kita punya rahasia kecil

Yang membuat kita istimewa...

Setelah menemukan amplop merah muda berisi surat singkat Papa, Larasati menyusun rencana berkunjung ke Yogya, tempat teman rahasia bermukim. Larasati sempat heran juga, Papa menyimpan informasi di beberapa tempat, dengan cara berbeda pula. Cara yang mungkin tidak pernah diduga orang, bahkan mantan istri dan anak kandungnya, Laras.

Semalaman Larasati memikirkan rencananya. Sepulang sekolah ia akan ke Yogya menemui teman rahasia Papa berinisial AZ, yang berprofesi sebagai tukang becak di Stasiun Tugu. Laras tersenyum memikirkan kemungkinan backpacking lagi.

Tapi, mengingat Mama yg protektif akhir-akhir ini, ia agak khawatir juga dengan rencananya. Mama pasti akan berat hati mengijinkannya pergi sendirian. Buat Laras, bepergian dengan Mama itu berarti piknik, bukan backpacking investigasi seperti niatnya sekarang ini.

Larasati sudah memutuskan, pulang sekolah ia akan naik kereta Prambanan Eskpress Solo-Yogya, turun di Stasiun Tugu, mencari tukang becak berinisial AZ, tanya-tanya tentang Papa, lalu pulang. Selesai. Selanjutnya ia akan menyusun rencana.

Deal.

Esok paginya Laras masuk sekolah dengan semangat penuh, segudang rencana ada di benaknya. Inilah yang membuat Laras jadi tampak gembira, menarik perhatian Mama dan Simbok.

"Heran, Ndoro," bisik Simbok sambil menghidangkan nasi di meja makan.

Mama yang sudah duduk sambil membaca koran pagi, melirik dan tersenyum, "Heran kenapa?"

"Den Laras itu kok dari bangun pagi udah senyum-senyum, mandi sambil nyanyi-nyanyi, pakai baju sambil puter-puter badan!" Simbok memutar badan meniru Laras, membuat Mama tertawa terpingkal-pingkal.

"Apaan sih, Ma?" Laras muncul dengan rambut dibungkus handuk, lalu melongo melihat Simbok berputar seperti ballerina. "Oh, my God!"

Simbok menutup mulutnya dengan tangan keriput, "Eh...Simbok lucu ya, Den?"

"Ya, pantes jadi penari...." Ledek Laras sambil menyeruput teh manis dan duduk di hadapan Mama.

Simbok mengulum senyum, menatap Laras dengan bahagia, "Simbok dulu kan suka nari, Den..."

Laras menyendok nasi goreng ke mulutnya sambil senyam-senyum, "Sekarang juga masih pantes kok, jadi penari...." Laras menggantungkan kata-katanya, membuat Mama dan Simbok menatap dan menunggu.

"Penari... ularrrr...." Laras menyeringai sambil tertawa ngakak. Sebentar kemudian terbatuk-batuk. Gantian Mama dan Simbok tertawa geli. Laras cemberut sambil terbatuk-batuk. Mama mengangsurkan air minum tanpa berhenti tertawa.

Bahkan sampai mengantar sekolah pun Mama masih tertawa-tawa. Lama-lama Laras ikut ketawa juga. Ah, ternyata tidak apa-apa menertawakan diri sendiri setelah merasa malu, batin Laras.

Di sekolah, Laras tanpa sadar cengar-cengir sendiri mengingat rencananya. Yogya sudah memanggil-manggilnya dalam hati. I'm coming soon, bisik hati Laras.

Kelas Laras sudah penuh dengan siswa. Laras masuk dengan kalem, say hi sana-sini ke teman-temannya.

"Heh! Mesam-mesem sendirian!" Retno, teman sekelas Laras mendekat dan menyerahkan setumpuk kertas. "Nih! Tugas kamu yang belum dikerjakan, tapi ada yang udah kuisi jawabannya."

Backpacker SurpriseBaca cerita ini secara GRATIS!