KOTAK POS RAHASIA

11 3 0

Pedih sungguh

Jika yang kaucari hilang lalu

Sementara jejak tak menentu

Apa dayaku

Tak ingin langkah surut

Untuk sekedar bertemu

Dan selalu

Malam itu, Laras bicara dengan Mamanya di teras samping rumah. Bulan tampak sendirian di langit, berselimut cahaya buram. Seburam harapan Laras merayu Mamanya untuk ikut menyelidiki rahasia Papa.

"Mama udah lama nggak tahu segala urusan Papa, Ras.." Mama menatap Laras minta pengertian.

"Siapa tahu ini titik terangnya, Ma..." Laras mengernyitkan hidung. "Please..."

"Ya, itu juga mungkin, tapi gimana caranya kita bisa mengakses ke sana? Kita nggak punya kunci kotak pos itu, Ras!" Mama mengangkat bahu.

Laras berpikir keras. Dia juga nggak tahu caranya. Tapi dasar keras kepala, ada saja ide gila di benaknya.

"Mama suap aja deh, petugas kantor posnya, biar ngasih kunci kotak pos Papa...." Sembarangan Laras bicara.

"Hus! Jangan pernah ngomong kayak gitu!" Mama memencet hidung Laras. "Saru! Ndak pantes! Haram! Pamali! Dilarang!"

Laras melet-melet karena hidungnya terjepit jari-jari Mama. "Abisnya, Laras udah nemuin jalan, Mama nggak mau bantu..."

"Nemuin jalan dengan jalan mentraktir temenmu foya-foya?" ledek Mama.

Laras meringis, mengingat uang tabungannya harus dirogoh empat ratus ribu buat bayar makan Boni di Rainbow's Café, sore sebelumnya.

"Iya deh, Ma... nggak lagi-lagi gitu..."

"Ya udah, tanggung sendiri, karena itu tabunganmu, yang Mama simpan buat bekal kamu kuliah nanti!"

Rupanya Mama masih kesal dengan kecerobohan Laras mengelola uang.

"Minta ganti sama Eyang, pasti dikasih deh, Ma..."

"Meski Eyang nurut aja kamu mintain uang, Mama nggak ngijinin. Kamu harus tahu cari uang itu susah, Ras. Jangan dihambur-hamburkan."

Berdua mereka diam. Laras tahu dia salah. Kekayaan Eyang Putri tidak mempengaruhi kemandirian Mama, yang memilih hidup sebagai single parent yang sederhana.

Harusnya aku sadari itu, batin Laras penuh sesal.

"Maafin Laras ya, Ma..." Laras memeluk Mama. Erat. Saat ini cuma ada Mama, sementara Papa entah di mana. Tanpa sadar Laras menitikkan air mata.

"Ya, maafin Mama juga, ya.." Mama menghapus air mata Laras dengan penuh kasih. "Besok kita cari berkas-berkas Papa sebagai pemilik Kotak Pos..."

Laras tersenyum lebar. Dipeluknya Mama dengan suka cita. Tak sabar menunggu hari berganti.

Di langit sana, bulan memperjelas cahayanya.

***

Esok harinya, Mama Laras menyempatkan diri membongkar berkas penting milik mantan suaminya, bersama Laras yang tampak getol memburu informasi, bahkan sengaja bolos sekolah. Nasehat Mama agar tidak usah membolos tidak digubris.

"Sekali ini aku berniat bolos, Ma," begitu alasan Laras dengan yakin. "Aku punya alasan untuk itu."

Beberapa kardus yang ada di kamar Laras mereka teliti. Amplop besar kecil dibuka satu per satu. Tiba-tiba Laras menemukan sebuah amplop kecil warna merah muda, bertulis deretan tiga digit angka. Dibukanya dengan heran.

Backpacker SurpriseBaca cerita ini secara GRATIS!