9. Bertemu Sakti

122 7 0

"Om, ini bener kan alamatnya?" Sendirian, Bima menelusuri alamat yang diberikan Dorman Hutapea selaku titah rumah barunya.

"Ya benarlah, anak muda! Mana mungkin kukasikan alamat palsu." jawab Dorman keras-keras via kontak telepon. "Itu kan ada namanya, kau cari dia dengan alamat itu."

Bima memperhatikan urutan alamat yang tampak di layar. Nama jalan, kecamatan, samapai nomor rumah yang tertera.Tertulis "Sakti", baru Bima tersadar, itu adalah sebuah nama seseorang. Dia terhubung dengan orang itu seterusnya.

Kurir pembawa barang-barang telah berangkat lebih dulu. Mereka melaju seperti bajing kelaparan. Bima yang sukanya menyetir sambil santai-santai, didahului sedari awal. Angin menerbangkan hawa murung yang ditinggalkan Bima di Jakarta. Pelukan hangat Alex, lambaian terkahir Mbok Darmi, pelan-pelan menjadi masa lalu. Jingga di ufuk mulai berarak turun. Bima bertekad, dia harus tiba sebelum malam.

***

Jalanan mulus legam berubah cadas. Jalan yang berlubang, menganga serupa hantaman benda ruang angkasa. Berkali-kali, Bima terguncang sendirian di mobi mungil bermuatan minimalis itu. Musik yang dinyalakan Bima melalui lingkar jaringan internet, ngadat terputus-putus. Memantau suasana perkampungan di sekelilingnya, Bima mulai tidak enak rasa.

"Jalan Masjid, Lorong gelap..." Bima terbata membaca alamat itu sekali lagi.

Ih serem amat, masjid di lorong gelap. Lampu jalan berangsur menyala, kedipan-kedipan kuning sederhana. Bima terpaku pada plang jalan yang amat kusam, nyaris hancur. Dengan sisa-sisa cat warna hitam, Tertulis "Jln Masjid", mobil menikung ragu-ragu. Belum melihat tanda-tanda masjid sesuai harapannya.

Jalan masjid, harusnya da masjidnya dong.

Anak-anak bersarung berkeliaran. Mereka keluar yang entah dari mana datangnya. Ia mencari-cari arah tujuan diantara jalan setapak kecil yang diselubungi gulita. Belum pekat betul, namun entah rute apa di ujung jalan sana. Pohon sukun berlomba rimbun dengan alang-alang. Ketika melihat salah satu pria dewasa berjalan tergopoh-gopoh dengan tongkatnya, buru-buru Bima meminggirkan kendaraan. Tak peduli seringkih apa kakek tua itu, Bima memutuskan untuk bertanya sekarang.

Sang kakek tua terbungkuk. Bima mencondongkan badan, berlagak santun.

"Maaf Pak, alamat ini dimana ya?" Bima merogoh catatan yang ia cari-cari, dan membacakan detail alamat itu selengkap-lengkapnya. Tanpa sepatah kata, tangan si kakek tua menunjuk ujung jalan, tepat di sisi kanan mobil Bima yang terparkir. Condong dan membungkuk pula, Bima beranjak dari hadapan si kakek yang sepertinya tidak begitu menyenangi kehadiran orang asing.

Rumah tua dengan dua lantai. Gelapnya malam, tak manyamarkan dinding putih kusam yang mengelupas. Sungguh kontras dengan halaman rumah yang terawat baik. Bunga anggrek bulan menggantung di jajaran depan rumah itu. Pemilik rumah ini agaknya tipe orang yang setengah hati, atau berpenghasilan rendah yang menyenangi keteraturan. Orkestra serangga bernyanyi dari rerumputan yang terhampar. Tempat itu..... Lembab, dan sunyi.

Inikah rumahku? Tiba-tiba Bima membuang segala pikirannya tentang rumah itu. Bagaimana pun, rumah yang menerimanya adalah rumah terbaik. Takkan ada yang sudi menampung orang yang tak jelas berasal usul. Bima melongok tanda-tanda kehidupan di tempat asing itu. Berharap kali ini bukan kakek tua lagi, atau yang lebih seram dari itu.

Dari pintu rumah yang terbuka sebagian, lampu putih terang benderang. Keluar seorang pemuda dengan mengagetkan. Celana panjang hitam cingkrang hitam dan kaos oblong hitam kumal, mata sang pemuda terbelalak.

"Ya Allah...," pekik pemuda itu, "maaf, saya nggak sadar ada yang datang."

"Oh nggak papa,,,," Bima berusaha tidak terkejut, "beneran, nggak papa."

Pemuda itu berkelilipan mata seperti raut muka orang yang sungkan hati. Ataukah itu semacam delik peringatan kepada Bima yang tak berucap salam ke rumah orang.

"Saya Bima," ucap Bima kemudian, "Saya cari alamat ini" ungkapnya seraya menyodorkan catatan alamat di layar gawai. "Apa benar disini?"

"Ohh Mas Bima..." pekik pemuda itu dengan suara bulat menggemaskan. Yang megingatkan Bima pada suara-suara lincah penyiar radio kebanyakan. "Ya Mas, disini. Ya... beginilah". Tatapan pemuda itu lurus memancarkan pengetahuan. Setelah kekentalan suara, kali ini tatapan yang sangat bersahabat membuat Bima nyaman.

"Saya Sakti Wardhana," bertambah hangat, ia menyodorkan tangan kanan, "panggil Sakti aja."

"Oh ya, aku Bima" Benar-benar mengeluarkan aura, Bima bahkan tak sanggup mengungkap nama panjangnya di hadapan pemuda di tempat barunya itu. Pemuda yan bernama Sakti itu mengajaknya masuk dan bergegas membawakan barang-barang yang tersisa. Rumah besar yang bersekat-sekat. Dominasi putih, salah satu kepolosan yang Bima sukai. Dia disambut berkardus-kardus barang yang sudah dia kenali, barang-barangnya sendiri.

"Letak disini dulu aja ya, Mas.Kita ke ruang sebelah, yang lebih enakan." ujar Sakti yang sepertinya jauh lebih lelah dari perjalanan Bima kali ini. Entah karena aura pemuda itu atau aura rumah itu, Bima menuruti dan mengikuti saja langkahnya. Termasuk berliku-liku di rumah besar itu. Batu-batu setapak terhubung ke ruang lain di rumah itu. Kali ini ruang dengan pintu geser serupa rumah orang Jepang.

Sreekk..... Ketika pintu geser itu terbuka, Bima disambut bebauan aroma lembar-lembaran tua. Pandangannya terpana pada ruang sederhana dengan langit-langit dengan semesta aksara. Buku-buku berjajar dimakan zaman. Tak peduli itu apa, Bima tidak melewatkan kesan keteraturan yang unik itu.

"Yeah, wow.... " ungkap Bima tak tertahankan.

"Saya yang merancang tempat ini, " dengan bangga, Sakti membeberkan, "tentu saja dengan persetujuan Pak Alfi."

"Wow! Hebat kamu..... Anak kuliahan? Jurusan desain interior?"

"Hooo... Bukan Mas, aslinya anak Sastra Indonesia."

"Tapi bisa ya bikin yang gini-gini..." Bima tidak sabar memuji lelaki manis itu. Benar-benar menggemaskan.

"Bisa aja, Mas. Tinggal nyontek di internet. Dananya, dapat suntikan dari Pak Alfi. Alhamdulillah."

Pak Alfi... lagi-lagi dia mendengar nama itu. Siapa dia? Dorman Hutapea tidak pernah menyebut-nyebut namanya. Sakti mengajaknya berkeliling, bercakap-cakap tentang kedamaian di rumah itu. Tentang rumah tanpa penghuni. Tentang rumah separuh perpustakaan baca cendikia. Tentang rumah perbisnisan yang tidak begitu menarik dari sisi keuangannya. Dunia literasi di bawah pengetahuan anak sastra. Juga tentang seorang mahasiwa yang berwawasan visual, yang enak diajak bicara, terlebih Bima yang memang anak seni rupa. Rak-rak buku itu bertuliskan nomro panggil dan aksara. Sebagian laci diukir nama-nama. Pandangan Bima terhenti ketika menangkap sebuah nama. Mustafa. Bima tak kuasa menyembunyikan reaksi kejutnya kali ini.

"Siapa itu Mustafa?" tanya Bima pada Sakti yang masih terus mengikuti langkahnya.

"Oh, itu Pak Alfi." Dengan santainya, Sakti menjawab. "Seperti yang saya katakan tadi. Pak Alfi, orang yang menanggungjawabi rumah ini. Nama aslinya, Alfian Mustafa."

Sialan...!!

Bima memegang kerah oblong Sakti dengan kerasnya. Nafas Bima memburu. Seolah marah, hancur, hampir mati penasaran.

"Antarkan aku ke rumahnya!"

Wajah Bima yang seputih pualam, memerah tak tertahankan. Sakti dibuatnya ketakutan.

Tamu macam apa ini? []

The Sketch of BimAddictionBaca cerita ini secara GRATIS!