Part 10✔

2.3K 103 1

"Cinta tidak dapat dipaksa. Karena nantinya dia sendirilah yang akan menemukan siapa yang tepat menjadi pengisinya."

~~~

Waktu menunjukkan pukul 21.15 dan Faldo sedang bersiap untuk memulai kebiasaannya yaitu clubbing dengan Rey dan Bisma. Kaos hitam dengan celana jeans panjang yang dipadukan dengan jaket kulit berwarna coklat menjadi pilihan fashionnya malam ini.

To : Bisma
Gue berangkat sekarang.

Faldo memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celananya dan langsung meraih kunci mobil di atas meja nakasnya lalu bergegas turun ke lantai satu untuk berpamitan dengan kedua orangtuanya.

“Yah, Bun, Faldo ijin keluar dulu ya sama temen-temen,” pamit Faldo pada ayah dan bundanya.

“Mau kemana, Sayang?” Bunda duduk di sofa sembari menyeruput teh yang baru saja dibuat.

“Emm, itu Bun, tadi Rey ngajakin bikin project buat tugas sekolah,” Faldo kembali berbohong untuk kesekian kalinya.

“Oh, bagus dong. Ya udah kamu hati-hati ya, Sayang,” Bunda mengusap punggung Faldo dengan penuh kasih sayang.

“Faldo jalan dulu, Yah, Bun.” pamit Faldo seraya meninggalkan kedua orangtuanya.

“Hati-hati, Do,” Ayah berujar kepada Faldo yang sudah meninggalkan mereka.

Jalanan Jakarta dilalui Faldo dengan sangat beringas. Disalipnya setiap mobil yang selalu menghambat perjalanannya. Tak peduli akan resiko yang nantinya akan dihadapi karena ulahnya, Faldo malah terus melakukan aksi ugal-ugalannya di tengah jalanan Jakarta yang ramai malam itu.

Tak sampai satu jam, Faldo sudah sampai di club. Kedatangannya disambut oleh beberapa pria bertubuh kekar dengan seragam hitam yang melengkapi.

“Wasap bro,” Faldo mengangkat tangannya untuk menyapa kedua temannya itu.

“Udah siap mabuk nih?” ledek Rey pada Faldo seolah sudah mengetahui apa yang akan terjadi malam ini. “Mau minum berapa botol?” lanjutnya seraya meneguk segelas bir di tangannya.

“Sedikit aja buat malem ini,” Faldo menjawab dengan nada yang sangat santai. “Heh, gue pesen satu ya,” ucapnya pada seorang barista yang ada di hadapannya.

“Gimana, Do?” Bisma membuka pembicaraan diantara mereka. “Masih belum nemuin yang pas juga?” Bisma kembali mengungkit masalah hati kepada Faldo.

Faldo mengedikkan bahunya. “Masih belum ada yang pas aja gitu sama tipe gue,” jelasnya seraya meletakkan gelas birnya di atas meja.

“Kenapa nggak lo terima aja si Rebecca?” Rey menaikkan satu alisnya yang disertai dengan senyum miringnya. “Secara dia kan udah ngincer lo dari SMP tapi lo malah selalu kasar sama dia. Iya sih gue tau kalo ayah bunda lo nggak bakal setuju kalo lo terikat hubungan sama Rebecca, tapi kan apa salahnya nyoba?” Rey kembali berujar panjang lebar.

“Kalo gue mau sama Rebecca, udah dari dulu gue embat tuh cewek. Tapi nyatanya? Secuilpun gue nggak ada rasa Rey sama dia. Cinta itu nggak bisa dipaksain, karena nantinya dia bakal nemuin siapa yang tepat jadi pengisinya.” Faldo kembali meneguk birnya lalu pergi ke arah kerumunan orang-orang yang sedang menari tak beraturan.

Love Is Miracle [COMPLETED]Read this story for FREE!