Kebiasaan buruk dan Bagong

16 0 0
                                          

Dashhh...Pecah isinya berhamburan kemana-mana.

Ku pecahkan salah satu celengan ku, karna hari ini aku sudah gak sabar lagi.

Sekarang aku masuk semester 3 dalam kuliah ku, dan hari ini aku terbakar semangat karna tabungan ku. Ku rasa sudah cukup untuk membeli sebuah kendara roda dua, lebih tepatnya si 'mengkredit' karna tabungan ini ternyata baru cukup memenuhi DP nya, tapi ini sudah lebih dari cukup untuk membuat ku senang dan ini akan menjadi kabar gembira untuk ibu di kampung.

Aku tidak bermaskud merepotkan bang Dika, tapi untuk hari ini aku akan meminjam motor restaurantnya untuk pergi ke deler motor terdekat, untuk memilih motor yang nantinya akan aku beli.

Ku pikir bang Dika gak akan marah ,karna dia orang yang sangat baik, jadi aku gak perlu izin lagi.

Tanpa pikir panjang aku membawa salah satu motor dari Restaurant milik bang Dika, motor dengan box besar di bangku belakangnya ,yang biasa di pakai untuk mengantarkan pesanan pelanggan.

Aku segera menuju dealer motor terdeket, karna sudah gak sabar.

Saat pertama kali aku masuk ,seorang wanita berparas cantik berpakaian seksi mulai menghampiri ku.

"mas, nganter makan siang ya?" tanya wanita itu.

Sial ,mungkin harusnya aku gak bawa motor restaurant dan gak perlu pakek seragam kerja. Gumamku.

"Bukan mbak, aku mau beli motor" balas ku.

"oh maaf mas, silahkan" jawab wanita cantik itu ,sambil mengarahkan tangannya ke arah motor-motor yang mereka panjang.

Aku melihat ada banyak sekali motor bagus yang mereka jual, rasanya ingin ku belikan satu untuk ibu di kampung. Tapi setelah ku pikir-pikir lebih baik jangan, aku takut ibu ugal-ugalan.

"ini mas, silahkan" kata wanita cantik itu sambil memberikan brosur dan seketika memecah khayalan ku saat melihat motor-motor bagus di hadapan ku.

"ah, iya mbak ,terima kasih" jawab ku.

Sebenarnya aku tidak yakin ingin membeli sebuah motor, bukan karna tidak ingin.

Tapi aku memiliki sebuah kebiasaan buruk, yang mungkin sangat berbahaya jika aku membeli sebuah motor, karna kebiasaan ku itu, yaitu 'tersesat'.

Entah kenapa, tetapi aku sering sekali tersesat padahal seingat ku jalan yang ku pilih itu benar, dan bahkan aku pernah tersesat di kampus ku sendiri, serius.

Terkadang aku tersesat ketempat yang sebenarnya memang aku ingin kesana, tapi tujuan ku sebenarnya bukan kesana. Misalnya ,seperti saat aku bertemu Reza yang waktu itu aku ingin membeli buku. Setelah lelah memutari mall aku malah sampai di tempat bermain 'taimzone' dan bertemu dengan Reza.

Aku juga pernah tersesat di sebuah toko buku di sebuah mall, saat itu aku tengah membeli sebuah buku untuk tugas kuliah bersama Sally dan Dea.

Dia mengajak ku ke sebuah mall dan kami masuk ke salah satu toko buku lumayan megah, aku melihat berbagai macam judul buku yang membuat ku penasaran ingin membacanya, sampai aku tidak sadar kalau aku sudah terpisah dari Sally dan Dea.

Awalnya aku merasa biasa saja karna pikir ku, konyol tersesat di tempat seperti ini.

Aku mulai panik ketika sudah hampir satu jam memutari toko buku itu tapi kembali di tempat yang sama.

Dan sampai akhirnya aku menemukan tanda 'EXIT' yang bergantung di depan sebuah pintu kaca besar.

Yah Pintu keluar. Aku bermaksud akan menunggu mereka di dekat pintu toko, dan di depan toko tersebut ada sebuah bangku panjang. Jadi ku pikir lebih baik aku menunggu Sally dan Dea disana saja.

Tapi saat tiba disana ,aku melihat Sally dan Dea duduk manis tengah menikmati secangkir eskrim.

Aku merasa sangat lega,dan langsung menghampiri mereka.

Sally menyapaku "Kardi..."

"Apa sudah dapat bukunya? Tadi aku lihat kamu berputar-putar, memangnya nyari buku apa sih?", tanya Sally.

Aku terdiam sejenak 'mereka pasti akan tertawa dan aku pun akan menjadi bahan ejekan jika mereka tau aku tersesat' pikir ku.

"sepertinya tidak ada buku bagus yang bisa ku beli disini" jawab ku.

"oh yasudah kita pulang aja, aku dan Sally sudah mendapatkan buku yang kita cari untuk tugas minggu depan" Dea membalas. Sentak aku menutup hidung ku.

Dan saat itu, ku pikir aku 'aman' dari kebiasaan atau kebodohan ku itu. Untung saja aku pandai 'ngeless'.

Karna mengingat hal itulah, aku jadi ragu untuk membeli sebuah motor, aku takut, kalau nanti bisa saja aku tersesat lagi di toko buku itu.

Setelah melihat-lihat di deler motor ini sepertinya aku tidak menemukan motor yang cocok untuk ku jadi aku memutuskan untuk mencari deler lain, maksudnya uang ku milik belum 'cukup' bahkan untuk membayar DP motor di sini.

Pada akhirnya aku sampai di sebuah dealer merek ternama yang lain, dan bersyukurnya aku sampai disini tanpa tersesat. Itu karna dealer ini berada tepat di depan dealer motor tadi.

Akhirnya pilihan ku jatuh kesebuah sepeda motor keren bewarna merah yang menurutku sih keren, setelah bernegosiasi akhirnya aku menyetujui harga yang ku pikir uang ku cukup, dan segera mengurus persyaratan untuk memebeli (baca: kredit) motor keren itu.

Aku sekarang sangat senang karna aku akan berangkat ke kampus mengendarai si Bagong (Bagong adalah nama motor baru ku) , aku merasa sangat bangga menunggangi si Bagong yang keren ini.

Walaupun tak sebanding dengan teman-teman ku yang lain di kampus ini. Karna aku kuliah di sebuah kampus mewah, ternama tentu saja orang-orang di sini adalah orang yang 'mampu' atau bisa di bilang kaya ,tapi menurut ku aku sudah cukup bangga, aku tidak mengkhawatirkan itu sama sekali, justru yang aku khawatirkan adalah aku lupa memarkirkan motor ku ini, pada saat pulang kuliah.

Tapi sepertinya itu tidak mungkin mengingat di sini motor ku adalah yang paling mudah di lihat, atau bisa di bilang yang paling beda, karna mahasiswa lain bawa mobil.

Matahari ku sendiriTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang