Janji Ku Untuk Ayah Ku

31 0 2
                                          

Hari itu sama seperti hari-hari yang lain, matahari pagi terbit dari arah timur sebagai pertanda mulainya kegiatan kami hari ini.

"bu aku berangkat"aku segera pamit menggendong tas sekolah ku.

Melangkah keluar rumah dengan seragam rapi setelah di strika ibu dan baunya sangat harum juga celana seragam biruku tampak cerah dan bersih, serta sepatu baru yang ayah belikan untuk tu minggu lalu.

Sudah biasa aku berangkat sekolah berjalan kaki, tapi bukan menuju kesekolah malah ketempat lain.

Kalau ayah tau dia bisa marah lagi dan ibu akan mengoceh sepanjang hari.

Tapi aku gak peduli karna saat itu aku merasa sudah menjadi pria dewasa yang bebas menentukan kemana kaki ku melangkah, sama seperti ayah.

Ayah ku seorang kuli bangunan, ia biasanya berangkat sejak subuh dan pulang ketika menjelang malam karna jarak dari rumah lumayan jauh.

Kami tinggal di pinggiran kota kecil yang baru berkembang dan ibuku hanya mampu bekerja sebagai buruh cuci pakaian karna dia harus mengasuh adik ku yang baru berusia tiga tahun kala itu, adik ku yang ke dua baru saja masuk sekolah dasar tahun itu.

Ketika aku sampai disuatu tempat setelah berjalan cukup jauh dan bersiap melakukan kegiatan ku hari itu. Aku lekas melepas seragam sekolah dan sepatuku, lalu merapikannya didalam tas dan aku mulai bekerja.

yah... saat itu aku berfikir akan lebih baik jika aku mendapatkan uang.

Jadi aku bekerja di salah satu tempat, aku bekerja di Steam motor agak jauh dari rumah agar tetangga ku tidak tau dan memberi tahu ayah.
Begitu pikir ku.

Mencuci beberapa motor dari pagi sampai siang hari lalu pulang agar ibu tidak curiga, sorenya aku akan menjadi kuli angkut.

Benar-benar menyenangkan bisa mengumpulkan uang dengan keringatku sendiri.

Tapi suatu hari guru ku menanyakan pada ayah karna aku sering bolos ,dan ayah tahu aku malah bekerja.
Saat itu ayah marah besar padaku.

Kata-kata yang ayah ucapkan terus ku ingat sampai saat ini.

"ayah bekerja setiap hari, berangkat sejak matahari belum datang dan pulang setelah matahari pulang, ayah bekerja keras hanya untuk keluarga ayah, karna ayah ingin anak-anak ayah memiliki pendidikan yang layak, tidak seperti ayahnya. agar nanti kalian bisa memiliki pekerjaan yang layak tidak seperti ayahnya, karena, Pendidikan yang baik akan merubah nasib keluarga kita" saat ayah mengatakan itu aku melihat matanya berbinar seperti ia menahan tangisnya, benar-benar tak bisa ku lupakan.

Bodohnya aku, saat itu aku tetap saja bolos, tetap merasa ini pilihan ku dan aku memilih bekerja dari pada sekolah. cukup membeli beras dan membantu meringankan beban ayah ku pikir aku tidak salah.

Sampai suatu hari saat aku pulang, rumah ku di penuhi orang banyak, ibu ku menangis sejadi-jadinya. Saat ibu melihat ku ia memeluk ku dengan erat ia mengatakan jika ayah telah pergi. pergi untuk selamanya.

Terjadi kecelakaan saat ayah bekerja dan dokter dirumah sakit tidak bisa membantu ayah, tetangga ku sudah menjemputku disekolah tapi saat itu aku tidak berada disekolah,karna aku bolos lagi.

Saat itu aku benar-benar hancur, aku mengeluarkan uang di saku celanaku, hasil aku bekerja hari ini dan ku lemparkan begitu saja sebagai pertanda betapa menyesalnya aku hari itu, tubuhku tak bisa bergerak saat itu bahkan air mataku tak mau menetes, meskipun sangat sedih dan sangat ingin menangis.

Seandainya waktu itu aku mendengarkan ayah, setidaknya aku bisa membuat ayah senang dengan nilai sekolah ku sempurnah, bukan tumpukan uang receh yang hanya membuat ayah semakin marah.

Hari itu merubah ku, hari itu menciptakan diriku yang baru.

***

Matahari ku sendiriTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang