ANAK TANGGA PERTAMA

31 1 7
                                                  

Kisahnya bermula saat pertama aku masuk kampus ternama di kota.

Karna aku hanya seorang anak desa yang baru pertama ke kota , aku sedikit kesulitan untuk berinteraksi dengan teman dan orang sekitar, akupun sedikit bingung dengan tempat seperti ini, jauh di bandingkan desa kecil ku.

Namun aku bertemu Sally , Dea , Tia dan Reza. Teman-teman ku ,atau bisa di katakan hanya mereka teman ku.

Reza ,Awal kami berteman sejak aku dan Reza di kira copet waktu mau minta nomor cewek pas jalan-jalan di salah satu mall di kota ini. Waktu itu aku berniat membeli buku disalah satu pusat perbelanjaan, pada akhirnya tersesat ke tempat hiburan. Taimzone, tempat terbaik untuk menghabiskan waktu, setelah puas main balap mobil dan perang-perangan aku melihat Reza yang waktu itu belum ku kenal. Seorang pria pendek berkulit hitam, persis seperti botol kecap.

Saat itu aku melihat Reza sedang ngobrol dengan seorang gadis remaja berpakain sekolah, gadis cantik itu terlihat takut. Raut wajahnya memperlihatkan kecemasan. Aku merasa gadis itu butuh pertolong dari seorang pahlawan seperti ku, dan insting hero ku mengatakan aku harus menjauhkan gadis cantik itu dari Monster kecap tersebut.

Akhirnya dengan gagah berani aku berjalan menuju gadis tersebut.

Tenang gadis kecil, aku akan menyelamatkan mu , dalam hati ku.

Se-tibanya aku di antara gadis cantik dan monster kecap. Gadis tersebut justru berteriak.

"Tolooooooooong!!!....." dan perhatian orang-orang di sekitar pun mulai tertuju kearah kami, salah satu dari mereka berteriak.

"copeeeet... mereka berdua copet!"... yang lainnya berteriak "tangkap mereka... panggil sekuriti"

Reza si monster kecap pun langsung kabur menyelamatkan diri.

Aku Cuma planga-plongo bingung...

Hah? Berdua? ,gumamku. Dan sedikit berfikir, berusaha menyerap perkataan orang-orang tadi.

Tak lama dari itu semua orang di sekitar mulai mengelilingiku. Salah satu dari mereka berteriak... "bakar-bakar...."

Hah? Apa salahku? ,dalam hati ku masih bertanya dengan keadaan yang mulai kacau.

Akhirnya aku di bawa ke Pos keamaan. Tak lama itu pun Reza datang dengan wajah yang memar, dan tangan di borgol.

"sumpah pak gue bukan copet, beneran pak" jelas Reza.

Kami mulai di interogasi, aku coba menjelaskan ,Reza dan aku bahkan belum saling kenal. Tapi tetap mereka tidak mempercayaiku sedikitpun.

Kami di paksa menunjukan kartu tanda penduduk dan kartu pengenal. Dan dipaksa untuk mengaku.

Sampai tak lama dari itu akhirnya gadis cantik tersebut, di datang kan sebagai korban sekaligus saksi. Gadis tersebut menjelaskan, bahwa Reza terus meminta nomer handphone nya tapi, gadis itu menolak memberikannya, na'as saat aku mendekat gadis itu berteriak karna panik. Reza yang terus memaksa, seakan ingin merebut handphone gadis tersebut.

Akhirnya pihak keamanan percaya dan meminta maaf padaku.

Dan reza juga di lepaskan. "Tapi pak ,gue udah babak belur di pukuli gini..." keluh Reza.

"Itu salah sendiri ,kenapa kamu kabur" jawab salah seorang sekuriti disana.

Akhirnya kami berdua di lepaskan dan Reza menuju ke puskesmas terdekat, sedangkan aku langsung menuju rumah. Kami sempat ngobrol di perjalanan. Akhirnya kami sadar ternyata kami satu kampus.

"Nama mu Reza kan?" tanya ku.

"iya benar, dan lu Kardi kan ?"

"Ardi..." jelasku.

"Kardiman kan?" tegasnya.

"Loh kok kamu tahu?"

"tadikan kita di suruh nunjukin kartu pengenal di pos keamanan mall"

"Iya lupa... hahahahaha... tapi panggil aku Ardi saja"

"oke ,Kardiman... hahahahahaha"

Akhirnya dari kejadian itu kami saling kenal dan menjadi teman. Seorang Hero yang berteman dengan monster botol kecap.

Orang pertama yang menegur ku di kampus ini , Aku berteman dengen seorang gadis manis yang bernama Sally, dia gadis yang ramah.

Mata kuliah ku sudah habis jadi ku putuskan untuk duduk di sebuah tempat mirip taman di dalam kampus ,lalu Sally menghampiri ku, dia menegurku seolah kami sudah saling kenal.

Aku mambalasnya dengan senyum.

Saat itu aku merasa sangat senang karena sejak saat itu kami menjadi dekat, dia sahabat terbaikku ,kami sering belajar bersama dan melakukan kegiatan bersama, dia mengenalkan ku dengan temannya yang bernama Dea.

Dea juga baik dan ramah ,Dea pun gadis yang cantik tapi sayangnya dia gadis yang jorok dan kasar.

Kadang dia pergi kekampus tanpa mandi dan gosok gigi. Hembusan nafas yang Dea keluarkan dari rongga mulutnya bisa membuat anak satu kampus panik, mengira ada gas pipa pertamina bocor.

Ya seharusnya dia gosok gigi sebelum kekampus agar mulutnya gak membawa polusi.

Selain itu, aku juga bertemu dengan si lemot Tia. Tia gadis yang pintar, membuat orang lain emosi. Keadaan bisa menjadi panas karna Tia, bahkan dengan kekuatannya Tia bisa dengan sekejap membuat orang lain marah, darah tinggi kambuh, stroke, dan amarah yang tak terkendali dan gangguan janin, ah nggak, itu berlebihan. Tapi, Itu lah kehebatan gadis ini.

Aku mengontrak rumah tak jauh dari kampus ku, di sana juga aku bertemu dengan Sita anak juragan kontrakan gadis kaya yang cantik, yang cerewet, sombong namun sangat baik hati, karna aku sering menunggak kontrakan dan Sita selalu membela ku ketika di paksa membayar oleh ayah nya, dia juga sering membantu orang-orang di sekitar kontrakan ku ini.

Sayang nya aku bukan level nya untuk berkenalan dan menjadi temannya.

Seperti biasa, sepulang dari kampus aku akan bersiap untuk berangkat kerja, sekarang ini aku bekerja di sebuah restoran yang cukup terkenal di kota ini. Restoran yang juga tidak jauh dari kontrakan ku, aku sungguh beruntung karna bang Dika (pacar nya Sita anak juragan kontrakan), dia menerima ku bekerja di restoran miliknya, aku sangat senang karna aku sangat membutuhkan pekerjaan ini, karna di kampung adik ku masih melanjutkan sekolahnya, ibu ku sudah tua dan renta sebagai seorang buruh, gaji nya tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan, terlebih lagi biaya ku di kota yang membengkak. Ayah ku sudah wafat tujuh tahun lalu dalam kecelakaan kerja, sejak itu aku menjadi tulang punggung keluarga,sejak aku duduk di bangku sekolah menengah pertama.

Selain memenuhi kebutuhan keluarga dan membiayai adik ku sekolah dasar, aku harus tetap melanjutkan sokolah. Beruntungnya aku mendapatkan beasiswa sampai sarjana di kampus terkenal di kota.

Itu menjadi secerca harapan bagi ku dan keluarga ku. Serta harapan ayah ku yang sangat ingin aku lanjutkan sekolah sampai sarjana. Meskipun keadaan ekonomi kami terpuruk.

"Pendidikan yang tinggi akan merubah nasib keluarga kita" kata-kata almarhum ayah ku yang sampai saat ini masih ter-ngiang di dalam kepalaku.

Beasiswa ini akan menjadi anak tangga pertama ku. Menuju impian ku, mensejahterakan keluarga ku kelak dan impian ayah ku, agar aku melanjutkan pendidikan menuju sarjana.

***

Matahari ku sendiriTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang