Chapter 142 : Percakapan Larut Malam

1.6K 103 4

Translator: https://www.wattpad.com/user/Musuyaba

Editing: Harazuo

ED note: sudah diedit ;)

Chapter 142: Percakapan Larut Malam

_____________________________

Malam telah larut, dan ini waktunya semua orang telah tertidur, Aquinas berdiri sendiri di teras, menatap langit bintang sambil memegang segelas anggur di tangannya.

Setelah meminumnya perlahan, ia pelan-pelan menutup matanya.

"... Berpikir jika kau kembali ke negeri ini." (Aquinas)

Dia berkata sambil tetap berdiri di sana, seolah dia sedang bermonolog. Lalu, bayangan kecil muncul di belakangnya. Wajah yang diterangi cahaya bulan, sehingga bisa terlihat dengan jelas.

Mata Aquinas terbuka perlahan, dia sudah cukup tahu seorang tersebut, dan bicara.

"Liliyn?" (Aquinas)

Ya, seseorang yang muncul itu adalah Liliyn.

"Hmph, aku tak kembali karena menginginkan" (Liliyn)

Aquinas menatap wajah Liliyn. Dengan kerutan di kening saat ia berbicara seperti sedang dalam mood yang buru, Aquinas hanya melihatnya tak lebih dari seorang anak kecil.

"Hmm, tetapi aku cukup terkejut. Bersama dengan seseorang yang seperti itu. Apa ada peristiwa aneh yang telah terjadi?" (Aquinas)

"Apa pedulimu?" (Liliyn)

"Apa itu kalimat yang cocok untuk kakak laki-lakimu?" (Aquinas)

"Jangan menganggapku anak kecil! Aku tak pernah menganggapmu sebagai kakakku!" (Liliyn)

"Hmm... kau masih tetap saja berkata seperti itu... huh?" (Aquinas)

Aquinas terlihat seperti menyadari sesuatu, memfokuskan tatapan ke belakang Liliyn. Namun, seolah-olah Liliyn sudah mengetahui keberadaan itu, dengan santai mengangkat bahunya.

"Baiklah, baik-baik saja untuk menunjukkan dirimu." (Liliyn)

Seseorang muncul dari bayangan, mematuhi perintah tuannya, dan dia adalah Silva.

"Sepertinya kau memiliki pengawal yang cekatan juga." (Aquinas)

Aquinas menatap Silva dengan kagum.

"Hmph, dia hanya cemas." (Liliyn)

Silva, tidak seperti dia biasanya, tetap tenang dan berdiri dekat Liliyn dengan wajah serius. Itu terlihat seperti dia menyadari Liliyn pergi dari ruangannya dan mengikutinya sebagai pengawalnya.

"Kupikir kau kembali karena keinginanmu sendiri meski sangat membenci negeri ini... Kurasa itu menunjukan ketenaran seseorang yang bernama Hiiro." (Aquinas)

"Siapa tahu? Pikirkan sendiri." (Liliyn)

Liliyn terkekeh saat dia memberi jawaban yang tidak jelals. Setelah menatapnya, Aquinas tersenyum ramah.

"Sepertinya Hiiro mendapat daya tarik dari orang yang agak merepotkan." (Aquinas)

"A... A-A-A-A-Apa maksudmu daya tarik!? M... M-M-M-M-Mengapa aku harus tertarik dengan orang seperti itu!? Tidak mungkin! Aku ingin kau menarik kata-kata yang keluarkan segera!" (LIliyn)

Dia menunjuk dan meneriaki Aquinas, wajahnya menjadi merah padam karena malu, tetapi Aquinas hanya melihat dengan terkejut.

"Ini... Aku hanya berkata setengah bercanda untuk sedikit menggodamu, tetapi itu terlihat jika aku tidak sepenuhnya salah." (Aquinas)

Konjiki no Wordmaster - Arc 3: Perang Antar RasBaca cerita ini secara GRATIS!