TEKA-TEKI BONI

19 0 0

Jangan menyerah begitu saja

Sebab kebenaran harus ditegakkan

Sampai kapanpun...

(pesan batin Larasati buat Papanya, yang sekarang entah di mana)

Kicau burung di pagi hari meramaikan kamar di paviliun sebuah rumah berhalaman asri nan luas. Di paviliun itulah Larasati berada, menyimpan berkas-berkas yang diambilnya dari rumah Papa.

Termasuk BlackBerry milik Papanya, yang kini tengah ditimangnya dengan bimbang. Dua hari ini, sepulang sekolah, ia mengutak-atik gadget itu, mencari-cari petunjuk keberadaan Papa yang lenyap dari rumahnya.

Mama dan Eyang Putri sudah tahu perihal Papa menghilang, juga Om Santo, adik kandung Mama. Tapi buntutnya tidak seperti yang diharapkan Laras.

Mama berencana lapor polisi. Tapi, adik Mamanya cenderung menyalahkan mantan kakak iparnya yang kembali hadir di tengah keluarga mereka. Bahkan sepertinya Om Santo lebih suka jika Papa Laras tetap menghilang, dengan tidak peduli apakah harus lapor polisi atau tidak.

Larasati tidak berdaya menghadapi Om-nya yang keras kepala. Tapi untunglah Mama masih punya keberanian untuk membela Papa, mantan suaminya. Dengan suara bergetar, Mama melarang Om Santo untuk menjelek-jelekkan Papa di depan Laras. Om Santo, yang biasanya mendebat, kali itu diam seribu basa menghadapi kakaknya.

Lain lagi Eyang Putri. Seingat Laras, jarang sekali Eyang berada di pihak Papa. Kali itu Eyang bersikap netral, dan sesekali memuji Papa yang disebutnya "mirip Eyang Kakung karena gagah berani". Soal lapor polisi atau tidak, dikembalikan pada Mama Laras.

Bingung dengan carut-marut keluarga, Laras memilih menyendiri di kamarnya, pelan-pelan membongkar berkas Papa. Komputer Papa terpasang di kamarnya, dengan digeletakkan di lantai. Meski kamarnya jadi sesak, Laras tidak keberatan sama sekali. Justru dengan begitu ia merasa Papa tetap dekat.

Sebenarnya Laras ingin diskusi dengan Darmanto, lelaki yang beberapa minggu belakangan ini menemaninya. Tapi sayang, Dar harus ke Yogya untuk mengurus bisnisnya yang tengah menerima proyek alat-alat outbond.

"Ras!" Mama berseru dari ruang tengah rumah.

"Ya, Ma! Bentar lagi, tanggung nih!" Laras melongokkan kepala dari jendela kamar. Dibereskannya berkas-berkas Papa sebelum meninggalkan kamar.

"Laras, Cah Ayu, sini, deh, Mama mau ngomong!" Mama sedang duduk menghadapi televisi. Simbok bersimpuh di sampingnya, setia memijit kaki Mama.

Melihat teve yang menayangkan berita, Laras agak takut juga, jangan-jangan ada kabar Papa masuk teve.

"Mama dengar berita apa?" Laras menatap bergantian antara Mama dan monitor teve. "Berita tentang Papa?"

Mama tersenyum sedikit dan menggeleng. Keriangan yang biasa terpancar di wajahnya memudar. Cahaya matanya pun redup. Sayu. Sedih Laras melihat Mama seperti itu.

"Ras, Ndhuk, cah ayu.." Mama menatap Laras lembut. Ada lengkung hitam di bawah mata Mama. Sepertinya dua hari ini Mama pun kurang tidur. Laras masih diam mendengarkan dan menunggu.

"Mama pikir, sudah saatnya kita melapor ke polisi, Ras. Biar mereka yang bekerja. Kita serahkan bukti-bukti yang ada, supaya dilacak di mana Papamu berada..."

Laras membayangkan semua arsip dan dokumen Papa akan berpindah tangan, termasuk gadget milik Papa. Laras sendiri belum tuntas mengutak-atiknya.

"Boleh saja, Ma. Tapi BlackBerry Papa tetap dipegang sama Laras," bola mata Laras mengarah tepat mata Mama, meminta dengan sangat.

Backpacker SurpriseBaca cerita ini secara GRATIS!