JEJAK PAPAH

20 0 0

Kehilangan adalah

Saat yang paling menakutkan dalam hidup

Kehilangan adalah

Pencarian pada sesuatu

yang kita butuhkan, yang kita rindukan...

Angin berkesiur menggugurkan daun kering di taman.

Hari belum lagi siang. Matahari belum terik. Tapi hati Larasati terasa gersang, panas, kering, sepi, tak menentu.

Terbayang sosok Papa terluka dengan bekas darah seperti yang ditemui Laras di ruang depan rumah Papa. Membuatnya tak berani memasuki rumah itu sendirian.

Waktu terasa lama berjalan, sementara Laras masih menunggu dengan gundah di teras rumah dan studio Papanya.

Darmanto datang mengendarai motor butut pinjaman yang dulu dipakai mengantar Laras ke Pantai Karangsong, Indramayu. Laras bergegas menyodorkan kunci rumah dan meminta Darmanto membuka pintu.

"Kenapa, sih? kok takut?" Darmanto menerima kunci itu dengan pandangan heran.

Laras diam saja, dengan pandangan gelisah menyuruh Darmanto segera membuka pintu. Diam-diam Laras mengekor. Hatinya kebat-kebit karena harus melihat kembali ruang tamu rumah papahnya.

Darmanto membuka pintu perlahan. Cahaya matahari dari kaca dekat ventilasi membiaskan kondisi ruang depan yang acak-acakan. Lemari file terbuka dan isinya berhamburan di lantai. Keping-keping CD berisi koleksi foto acak-acakan di meja dekat komputer yang sering digunakan Papa Laras dalam proses editing foto. Laras dan Darmanto melangkah perlahan agar tidak menimbulkan bunyi berisik. Di rak buku ada bekas darah dan cetakan jari tangan. Ada juga bercak darah di lantai. Laras bergidik. Lidahnya kelu. Tapi ia berusaha memberanikan diri mencari keberadaan Papa.

Darmanto bersijingkat ke kamar mandi. Diperiksanya, lalu mengeleng ke Laras. Mereka beralih ke dapur dan menemukan gelas, piring menumpuk belum dicuci. Laras meminta Darmanto memeriksa kamar tidur yang pintunya terbuka sedikit. Mengendap-endap mereka memasuki kamar tidur yang cukup luas. Tidak ada orang di sana. Keadaannya sama, acak-acakan.

Laras memperhatikan sekeliling dengan teliti. Sementara Darmanto membuka lemari pakaian. Darmanto menggeleng ke Laras. Tidak ada siapa-siapa. Mereka kembali ke ruang depan. Di asbak ada sedikit abu rokok tanpa puntung. Laras mengerutkan kening. Heran.

Siapa yang merokok? Papa sudah lama berhenti merokok. Kalau Papa yang merokok, pasti ada puntungnya di asbak. Darmanto membereskan file berkas-berkas di lantai. Kebanyakan adalah berkas-berkas konsep kreatif yang diusulkan Papa Laras. Laras masih memperhatikan sekeliling. Pasti ada seseorang datang. Atau lebih dari satu orang. Laras menggumam.

"Tahu darimana?" Darmanto menoleh heran. Laras masih menatap lantai dekat sofa. Matanya menunjuk pada jejak sepatu yang mengering. Darmanto meletakkan kembali tumpukan kertas di tangannya. Lalu memilih ikut memperhatikan jejak yang di tunjukan Laras. Satu jejak mengarah ke kamar tidur, satu lagi ke sofa. Yang mengarah ke tempat tidur sebagian terhapus secara acak. Jejak itu tampak jelas di atas lantai yang berdebu.

"Papa kemarin bilang pembantunya sakit. Jadi enggak beres-beres rumah." Kata Laras memeriksa kolong meja dan sofa. Tak ada apa-apa.

"Kita bereskan dulu file-nya sambil kita lihat, mungkin ada petunjuk." Darmanto beranjak ke meja kerja Papa Laras. Laras masih masih memandang sekeliling. Menyisir ruang barangkali ada tanda-tanda yang sempat ditinggalkan Papa. Laras ingat saat-saat Papanya mengajak camping di hutan di lereng gunung. Saat itu, Laras terbangun di pagi hari tanpa Papa di dekatnya. Laras remaja panik dan berteriak-teriak. Sambil menangis memanggili Papanya. Setengah jam ia menunggu dengan ketakutan. Sampai kemudian ditemukannya sepotong bambu dengan gulungan kertas di dalamnya. Kertas itu berisi pesan, Papanya pergi untuk mengambil air di sungai terdekat. Dan bambu itu diletakkan dekat Laras tidur. Beberapa menit kemudian Papa datang dengan membawa air dalam kantung air minum dan segenggam ubi yang baru dicabut dari tanah. Laras menyalahkan Papanya karena pergi begitu saja.

"Papa selalu punya alasan saat pergi meninggalkan Laras. Lihatlah sekeliling dan temukan pesan-pesan Papa."

Laras tersadar. Jantungnya berdebar keras.

"Pasti ada sesuatu yang ditinggalkan Papa. Kita harus menemukannya, Dar!"

"Iya, iya!" Darmanto makin semangat membereskan berkas-berkas. Tiba-tiba ia berseru, "Ras, lihat!"

Laras mendekat dan melihat ke arah yang ditunjukkan Darmanto. Lampu stabilizer yang terletak di bawah meja computer masih menyala merah.

"Sepertinya komputer ini habis dipakai sebelumnya. Coba, Dar, nyalain!"

Darmanto menurut dan mulai mencari-cari berkas yang terakhir kali dibuka penggunanya.

"Aku mau lihat kamar." Laras beranjak ke kamar tidur. Di perhatikannya lagi kamar itu dari arah pintu. Ada yang ganjil, batinnya. Badcover jatuh ke lantai seperti sengaja di tarik. Laras melepas sepatunya. Dengan perlahan kakinya mencari sesuatu di karpet yang terhampar di antara ujung ranjang dan lemari pakaian. Di karpet itu tidak ada yang mencurigakan. Laras mengangkat badcover.

Pletak! Bunyi itu berasal dari kolong ranjang. Laras memeriksa kolong ranjang. Matanya terbelalak.

Thanks God! Alhamdulillah!

Hatinya amat gembira menemukan BlackBerry Papanya di situ. Laras mengibaskan badcover sekali lagi. Siapa tahu ada petunjuk lain. Tapi ternyata tidak ada. Dengan berdebar laras menghidupkan gadged dan membuka kotak pesan Papa. Laras membacai satu-persatu pesan yang belum dibuka. selain pesan berisi agenda kerja, ada beberapa pesan yang bernada ancaman. Selain itu ada juga pesan dari Mamanya, yang meminta Papa Laras lebih berhati-hati.

Laras membuka pesan yang terkirim. Dan hanya ada dua pesan tertuju pada nomor misterius yang semula mengancam Papanya. Pesan itu berisikan bahwa Papa akan menghapus semua foto yang berbahaya untuk 'Bos'.

Laras membuka draft yang disimpan Papanya dan terkejut saat membaca pesan di dalamnya yang ditujukan kepada Laras.

'Tolong amankan semua berkas Papa sesegera mungkin, begitu Papa menghilang.'

Laras mengenduskan nafas gelisah mencoba mengerti maksud Papa.

"Ras! Sini, deh!" Darmanto memanggil, "Cepetan!"

Laras bergegas menemui Darmanto yang terkejut melihat BlackBerry yang dipegangnya. "Sepertinya Papa sengaja ninggalin ini," Laras menimang gadget Papanya, "Supaya aku nemuin jejaknya."

"Sekarang lihat ini, Ras. Kamu kenal orang ini, enggak?" Darmanto menunjuk layar monitor.

"Foto ini sudah dihapus. Tapi Papamu punya program yang dapat memanggil kembali file yang sudah terhapus."

Laras menatap Darmanto serius. "Papa minta aku mengamankan seluruh berkas-berkasnya begitu Papa tidak ditemukan."

Darmanto mengangguk. "Kalau begitu, ayo, kita harus bergerak cepat!"

Berdua mereka membereskan berkas Papa ke dalam kardus bekas pembungkus printer. Darmanto mengambil hardisk internal dan eksternal komputer itu.

Laras menelepon taxi. Filing cabinet milik Papa berisi cetakan foto-foto diangkut juga. Laras membawa jejak Papa ke rumahnya. Ia bertekad menemukan keberadaan Papa.

Laras berpikir, mau tidak mau Mama dan Eyang Putri harus diberitahu. Malah, Laras mempunyai ide ingin menyewa detektif swasta untuk melacak hilangnya Papa.

Darmanto menahan tawa mendengar niat Laras, "Ehm... detektif swasta, ya..."

"Ini bukan lelucon!" cetus Laras kesal.

Darmanto hanya bisa mengangguk setuju sambil membantu menurunkan berkas dari bagasi taxi ke teras rumah Laras. Satpam di rumah Laras pun ikut sibuk, dengan pandangan heran.

"Jangan tanya-tanya dulu, Pak... Larasnya lagi bete..." bisik Darmanto ke Pak Satpam.

"Oooo..." Pak Satpam mengangguk mengerti.

Laras seperti tak peduli, di otaknya hanya ada tekad keras membaja untuk memburu keberadaan Papa...

***

Backpacker SurpriseBaca cerita ini secara GRATIS!