BERSETERU

12 0 0

Mereka yang dapat dan harus kamu percayai

adalah

orangtua

serta

orang-orang yang baik hati,

yang benar –benar tulus....

Perkelahian malam-malam di dekat City Hall, Balaikota Solo, antara Larasati-Papanya melawan Papa Boni-para bodyguardnya dilerai oleh orang-orang lewat. Mereka tidak tega melihat Laras dijatuhkan di rerumputan.

Mungkin mereka kasihan melihat gadis semanis Larasati tidak berdaya menghadapi lelaki-lelaki kekar dan sangar yang berprofesi sebagai bodyguard Papa Boni. Dan ternyata para bodyguard itu cukup takut ancaman para pejalan yang akan memanggil polisi.

Laras dan Papanya berterima kasih pada para pejalan, yang dengan keras mengusir Papa Boni beserta cecunguknya. Tetapi Papa Boni sempat melontarkan ancaman keras buat Papa Laras.

"Tunggu tanggal mainnya, Petualang! Hati-hati dengan hidup lo!" Papa Boni berteriak dari kaca mobilnya.

Papa Laras mengatupkan rahangnya menahan marah.

"Laporin aja ke polisi, Pak!" seorang pejalan memberi saran.

"Iya! Itu sudah ancaman terbuka. Saksinya banyak, kami-kami ini!" sahut yang lain.

Papa Laras tersenyum dan mengangguk penuh terima kasih. Pejalan itu pun berlalu.

"Sakitnya sebelah mana, Ras?" Papa memegang lengan Laras dengan hati-hati. "Ada tulang yang sakit, nggak?"

Laras menggeleng. Pipinya perih. Ada memar dan luka baret di situ. Laras meringis. Perih. Seperih hatinya. Di benak Laras cuma ada satu nama: Boni.

Esoknya, Laras berkeras masuk sekolah, meski Papa, Mama dan Eyang Putri sudah melarang. Tapi ada urusan yang harus Laras tuntaskan.

Sebelum bel masuk, Laras menyambangi kelas Boni. Gadis itu tengah bercanda dengan genk-nya. Laras menerobos pandangan heran teman sekelas Boni, menuju titik sasaran.

"Bon! Aku mau bicara."

Boni mencibir, "Bicara aja, napa!"

"Mau kukabarkan berita tentang bapak kamu, di kelas ini?" Laras sudah menabung gendering, membuat Boni mengerutkan kening.

"Mau bicara di mana, lo?" suara Boni mengejek, meski ada kecemasan di dalamnya.

"Di belakang sekolah," Laras mencekal lengan Boni dan mengajak keluar. Boni mengaduh dan memukul-mukul tangan Laras.

"Yang laen, jangan ikut campur!" Laras berseru ke genk Boni yang hendak membela bosnya.

Di belakang sekolah memang sepi, tempat yang aman bagi yang pengen pacaran, tapi berbahaya jika ketahuan. Dan setiap saat, entah kapan, ada saja guru yang memeriksa area itu. Jadi, nggak ada yang berani ketemuan sama pacar di situ.

"Lo mau ngomong apaan, sih!" sembur Boni gusar begitu Laras melepas cekalannya.

"Bapak lo udah nyerang Bokap gue semalam. Alasannya gue selalu gangguin elo.." Laras menatap tajam mata Boni yang melirik sana-sini, mencari celah untuk menghindar.

"Yeee... meneketehe...gue nggak ada urusannya dengan elo dan bokap elo. Kalau bokap gue marah anaknya digangguin, wajar doooong!" Boni mencibir sambil memainkan ujung rambutnya.

Backpacker SurpriseBaca cerita ini secara GRATIS!