URUSIN URUSANMU SENDIRI, LARAS...

29 2 0

Akulah perempuan

Dijaga dua arjuna gagah berani

Siap sedia bertarung demi sebuah janji

Menjaga aku dan segala milikku

Membuatku merasa terhormat

Sebagai perempuan

Angin laut menampar-nampar rambut gondrong Darmanto dan Papa Larasati, yang berjalan gagah menuju kamar penginapan di Pantai Karangsong. Langkah mereka tenang, seperti Indian di film-film western, membuat Laras terpesona.

Di seberang sana, di depan kamar penginapan Laras dan Dar, tujuh lelaki dengan backpack besar di punggung menunggu tak kalah gagah. Malam meliukkan genderang perang, meniup aroma perseteruan lelaki.

Laras bergidik pelan, membayangkan perkelahian dua lawan tujuh. Meski Laras tahu Papa dan Dar punya kemampuan bela diri, tak urung terbit kecemasan di hatinya.

"Tenang, Pa, kalo perlu Laras ikut tarung," Laras berbisik di samping Papanya, mencoba mencairkan suasana.

"Tidak ada pertarungan, Ras," Papa menoleh dan tersenyum. "Tidak semua urusan lelaki diselesaikan dengan berantem. Lelaki juga punya otak selain otot..."

"Yaaa... nggak seru kalo nggak berantem, Pa!" Laras pura-pura kecewa, padahal di hatinya bersorak girang, Papanya masih mengandalkan otak dibanding otot.

"Ada apa, nih?" Papa Laras menyapa tujuh lelaki di hadapannya sambil menyalami dengan senyum ramah.

Resepsionis yang muncul kemudian menyela kikuk, "Ini tamu yang sudah booking duluan, Pak.."

"Oh, ya.. kami sebentar lagi selesai packing. Minta waktu sebentar, ya!" Papa menoleh ke Dar.

"Ya, paling sejam lagi. Tungguin, ya!" Dar memberi isyarat pada Laras untuk bergerak.

Laras melangkah ke kamarnya dan menutup pintu. Diam-diam sambil membereskan barang-barangnya, ia menguping pembicaraan di luar.

"Besok pagi, ya? Boleh ikutan nggak, kami bertiga?" suara Papa masih terdengar ramah. Bahkan lalu ditimpali Darmanto yang siap membantu kegiatan tujuh lelaki itu.

"Sebenarnya kami nggak ada masalah apa-apa sama keluarga Om," sebuah suara empuk menyahut. Laras merasa familiar dengan suara itu, seolah ada yang menyeretnya ke belakang. Sesaat kepalanya terasa pening. Begitulah jika ia terlalu keras mengingat.

"Cuma kesal dan kecewa aja, terutama ke pihak penginapan, sudah booking jauh-jauh hari, tapi nggak dapat kamar," suara itu terdengar lagi. Laras penasaran sungguh.

"Ya.. kita maklumin aja.." Papa menyabarkan.

"Nggak bisa begitu aja, Om.." sergah suara lain. Telinga Laras seperti tegak mendengarnya.

"Kami udah nyiapin event ini berbulan-bulan yang lalu, Om!"

"Oh, bagus, itu! Om percaya kalian pasti sudah mempersiapkan sebaik mungkin. Urusan penginapan pastilah bisa diatasi.."

"Kami udah telanjur malu, Om. Tadi juga ada orang pemerintahan yang ngecek persiapan di sini. Lihat ada masalah, dia kan ngancem nggak bakalan nurunin uang operasional, Om..."

"Ehm... jadi begitu! Tapi kalian kan bisa protes dan sebagainya... Masa pemuda kayak kalian nggak punya power!"

"Iya sih..."

Backpacker SurpriseBaca cerita ini secara GRATIS!