Song of Karangsong Beach

63 3 1


Lidah ombak menjilat murka

Buih putihnya membasuh umpat

Angin laut bawa amarah

Butir pasir berbisik lirih

Membenamkanku dalam kelibat

dan hantaman kisah

Ke mana lagi ku dapat bersauh

Menghempaskan gelombang rindu

tak tentu arah...

Larasati menjadi aneh. Darmanto merasakan hal itu.

Berjalan lurus menjauhi rumah Papanya, setelah menemu kekecewaan tanpa dapat memecah tangis agar menganak sungai. Langkah Laras bagai hentakan perkusi dalam irama keras. Seperti cadas, jika dihantam akan pecah berkeping-keping.

Mata gadis itu beku, sebeku hatinya.

Darmanto mengekor dengan motor, dan meminta Laras membonceng. Tanpa berkata sepatah pun Laras naik dan melingkarkan tangannya ke backpack Darmanto, dengan kepala bersandar di tutupnya.

"Lebih baik bicara dulu sama Papa," seru Darmanto mengalahkan deru jalanan.

"Udah!" Laras memotong setengah berteriak. "Terus aja ke timur!"

"Ya! Tapi ke mana?" Darmanto agak jengkel menghadapi gadis keras kepala macam Laras.

"Pantai! Bawa gue ke pantai, Dar! Gue pengen tereak-tereak!" Laras tak peduli dengan sesama pengendara yang keheranan.

"Dasar! Keras kepala!" Darmanto mengarahkan motornya ke timur.

"Apa tadi lo bilang?" Laras mendorong bahu Dar.

"Elonya kepala batu!" Darmanto berteriak dan memacu motornya membelah malam.

Mereka tidak bicara lagi setelah itu, sampai tiba di Indramayu tengah malam. Darmanto langsung menuju pantai Karangsong.

"Puas-puasin lo di sini. Mau marah silakan. Mau nangis silakan. Gadis kepala batu," Darmanto memarkir motor di sebuah penginapan dekat pantai. Seorang satpam menghampiri.

"Mau nginep, Mas?" kantuknya bersaing dengan senyum ramah, girang dengan rezeki yang datang malam-malam.

"Iya, Pak. Dua kamar," Darmanto menggeser backpack, isyarat agar Laras turun dari motor.

"Dua?" Satpam itu bengong. Mungkin biasanya anak muda nyari peluang sekamar, ini malah pisah.

"Iya, Pak. Masih ada, nggak?" Darmanto melirik Laras yang diam tak peduli.

"Oh, iya, masih ada. Mari, ke kantor," Satpam itu menunjukkan jalan ke resepsionis yang lengang. Darmanto menggandeng Laras yang lebih mirip kerbau dicocok hidungnya.

Seorang pemuda muncul di balik meja resepsionis, masih dengan mata setengah menutup.

"Dua kamar."

Kali ini si pemuda yang heran. Satpam mengangkat bahu dan keluar ruangan.

"Silakan diisi buku tamu, dan minta tolong boleh lihat ka te pe..."

Darmanto mengeluarkan dua lembar seratus ribuan, mengisi buku tamu dengan cepat dan menerima kembali KTP-nya.

"Silakan lewat sini," pemuda itu menatap heran pada Laras yang cuek.

Dua kamar ukuran kecil terbuka. Darmanto mengantar Laras masuk kamarnya, dan memastikan gadis itu sadar untuk mengunci kamarnya sendiri, sementara ia berada di kamar sebelah.

Backpacker SurpriseBaca cerita ini secara GRATIS!