Ada yang berbeda dengan Tobias. Aku merasakannya. Sikapnya memang tidak berubah, perlakuannya padaku pun masih semanis biasanya. Tapi dari bahasa tubuhnya aku tahu ada yang tidak beres dengannya.

Aku terbiasa menilai seseorang dari bahasa tubuh mereka, itu sangat berguna bagi reporter sepertiku. Dan dengan pengalaman tidak terbatasku, aku yakin Tobias menyembunyikan sesuatu.

Kejadiannya akhir pekan kemarin, seperti biasa dia menginap di apartemenku. Malam saat aku terjaga, Tobias tidak berada di ranjang. Aku segera bangun dan mengenakan kaos milik Tobias yang kutemukan, beranjak keluar dari kamar.

Suara samar yang terdengar dari arah pantry membawa kakiku ke sana, tapi saat mendengar lebih jelas secara reflek langkahku terhenti. Tobias sedang menelepon seseorang. Di tengah malam seperti ini? Siapa? Dan yang membuatku curiga, dia berbicara sambil berbisik seolah tidak ingin ada yang mendengar percakapannya.

Beberapa patah kata yang bisa kudengar membuatku mengerutkan kening.

"Tolong kau atur...."

"Ini penting."

"Aku harus melakukannya."

"Tidak. Jangan beri tahu dia...."

Tobias menggunakan kata ganti perempuan saat mengatakan 'dia'. Itu berarti ada seorang wanita yang tidak ingin Tobias tahu tentang sesuatu. Tapi tentang apa itu? Dan siapa wanita itu?

Aku berjingkat kembali ke kamar. Akan terlihat canggung jika aku menemui Tobias sekarang. Dengan pikiran yang berkecamuk, aku naik ke ranjang dan mencoba tidur lagi. Sejak itu, aku mencoba mencari tahu apa yang disembunyikan Tobias. Walau sampai sekarang, tidak ada petunjuk sama sekali yang bisa kudapatkan.

"Kau tidak lupa acara hari ini kan, Em?" Andrew berseru dari kubikelnya saat melihatku.

"Tentu saja tidak," sahutku kesal. Akhir-akhir ini Andrew selalu mengingatkan tentang tugasku mewawancarai Chase Chester, seolah aku akan melupakan pekerjaan itu jika dia tidak mengingatkanku.

Aku sudah bertemu dengan Alli dan bosnya dua hari lalu, dari situ aku tahu The Daily mendapat hak eksklusif untuk meliput penyanyi yang baru naik daun itu. Entah dengan cara apa mereka melakukannya, karena yang aku dengar, Chese Chester agak susah dibujuk. Dan hari ini aku harus menemui Allison Clay lagi, untuk mematangkan acara kami yang akan ditayangkan secara langsung, lusa.

Kami sepakat Alli yang akan menjemputku, meski sebenarnya aku lebih suka naik kendaraanku sendiri dan menemuinya di satu tempat. Alli membawaku ke Nick's Café, sebuah restoran kecil yang sudah berumur hampir tujuh puluh tahun. Aku tidak mengerti kenapa dia mengajakku ke sini sementara di gedung tempatku bekerja ada puluhan restoran yang jauh lebih baik.

"Kau tidak akan pernah mencintai sesuatu jika belum pernah mengenalnya, kan?" ujar Alli tersenyum sambil membuka pintu mobil.

Aku memperhatikan bangunan persegi satu lantai yang terlihat biasa saja. Dindingnya dicat putih dan di bagian atas tertulis "NICK'S CAFÉ" dengan huruf besar-besar berwarna merah. Alli mengajakku duduk di kursi yang diletakkan di sisi sebelah kanan restoran. Sangat dekat dengan jalan raya, hanya dibatasi pagar kayu pendek yang juga dicat putih.

"Aku mencintai tempat ini, pastraminya sangat enak, pancake-nya lembut dan lezat, tapi yang paling luar biasa itu cabainya. Aku yakin Nick's Café hanya membeli cabai terbaik di dunia," bisik Alli sambil membuka buku menu, lalu dia melambaikan tangan memanggil pelayan.

"Kau suka pedas?" tanyaku mengerutkan hidung. Makanan pedas membuat [erutku mulas.

Alli hanya melirikku sambil mengedipkan mata sebagai jawaban, kemudian dia mengeluarkan tablet dari tasnya. Dari gerakan-gerakan wanita itu, aku tahu Alli seorang yang cekatan dan bertangan dingin. The Daily beruntung memiliki pegawai seperti dia.

Young SummerRead this story for FREE!