24 END

2.4K 149 2

Tidak ada yang berubah, Rachel tetaplah Rachel yang dulu. Hanya saja status gadis itu telah berubah, dia menjadi Rachel tunangan Daryl. Sehingga tidak ada lagi yang berani menggodainya di lokasi proyek.

"Saya dapat sms dari Pak Daryl. Jangan pernah ngajak Mbak Rachel karaokean lagi. Kesel tau" kata Yudis. Dia sedang mengadu pada Rachel. Sebelumnya juga Daryl pernah menelpon Yudis dan mengomel karena mengajak Rachel nonton di bioskop.

"Keselkan? Saya juga kesel gak bisa keluyuran. Jalan-jalan juga harus ada dia"

Daryl tidak bisa meninggalkan Rachel keluyuran sendiri. Setidaknya harus ada Bibi Noor yang menemani gadis itu, alasan Daryl cuma satu. Dia cemburu.

"Paling nanti siang Pak Daryl datang ngeliatin tunangannya" goda Yudis. Mereka sudah sering melakukan permainan kecil sehubungan kedatangan Daryl. Yaitu menebak apakah pria itu akan datang atau tidak.

"Apaan sih. Hari ini dia sibuk ngurusin masalah proyek ini, kayaknya gak bakalan datang" kata Rachel.

Di tempat lain Daryl terlihat sibuk dengan ponselnya. Salah satu proyek pembangunan hotel yang ditangani R'O Construction mengalami kendala, yaitu proyek tempat Tim Rachel bekerja. Pihak pemerintah setempat mendapat gugatan dari seorang warga. Bima yang merupakan pengawas dari proyek itu diberitahukan oleh pejabat setempat. Sebelumnya Bima memang sempat diberitahukan kalau ada kendala dalam pengurusan IMB, tetapi dia tidak tahu kalau kendala yang dimaksud adalah belum adanya persetujuan dari salah seorang warga disana.

"Bagaimana proses pembangunan disana?"

Raya mengecek beberapa catatannya. Disana adalah input semua perkembangan proyek yang dimiliki R'O Construction.

"Sudah 50%"

Jika sudah 50% sangat sayang jika proyek ini dihentikan. Sebagai pihak pembangunan, R'O Construction akan merugi. Ini semua salah bagian kuasa hukum dari pemilik hotel itu. R'O Construction tidak tahu menahu masalah IMB, mereka sudah diberitahukan oleh pemilik hotel itu bahwa semuanya sudah diurus. Yang dilakukan pihak R'O Construction hanyalah membangun bangunan itu.

"Saya akan ke lokasi proyek"

Daryl merasa kepalanya berat. Dia merasa ini semua seperti déjà vu. Daryl pernah memimpikan hal ini. Sepanjang perjalanan menuju lokasi proyek dia menatap jalanan, samar-samar dia berusaha menemukan hal yang janggal. Dia berharap menemukan sesuatu yang tidak sesuai dengan mimpinya. Daryl berdoa semoga tidak terjadi kejadian buruk seperti di mimpinya.

Setelah satu setengah jam perjalanan. Akhirnya Daryl tiba di lokasi proyek. tidak lupa dia menggunakan helm dan sepatu proyek seperti yang lainnya. Dia memang sempat ditempatkan sebagai pengawas proyek selama setahun, sama seperti Bima. Dan akhirnya dia ditarik oleh Ayahnya sebagai CEO.

"Daryl, kamu harusnya gak perlu sampai turun ke lokasi" Daryl kaget. Perkataan Bima sama persis seperti yang dimimpikannya.

Daryl memutar otak. Pria itu mencari cara agar kejadian di dunia nyata tidak sama seperti di mimpinya. "Aku pikir sebelum proyek kita dihentikan, lebih baik aku turun tangan duluan. Kalau CEO sendiri yang datang, aku pikir mereka akan sedikit segan" itu yang dikatakan Daryl dalam mimpinya. Jika dia merubah kata-kata itu, mungkin kejadian berikutnya akan berubah.

"Tenang saja. Aku punya cara sendiri, semoga saja berhasil" kata Daryl. Bima menghela napas.

"Semoga saja berhasil" benar dugaan Daryl. Kejadian berikutnya tidak sama seperti yang ada di mimpinya.

Disana sudah ada warga dan pejabat setempat yang menunggu kedatangan Daryl. Daryl perlu melakukan negosiasi selagi pengurusan IMB dilakukan. Selama satu jam mereka megobrol. Daryl mencoba menegosiasikan dengan warga disana. Begitu juga Bima yang duduk menemani Daryl.

"Kami sudah membuat perjanjian dengan pemilik hotel, IMB mereka yang urus. Dan dari pemilik hotel katanya pengurusan IMB sudah beres. Kami hanya bertanggung jawab untuk membangun hotel. Hanya sebatas membangun sampai bangunan ini berdiri. Kami tidak tahu kalau belum mendapat pesetujuan ijin membangun dari Ibu" kata Daryl. Dia memutar semua katanya agar tidak sama persis seperti di dalam mimpinya.

"Nah itu dia Pak. Proyek ini belum disetujui sama saya. Saya keberatan" kata wanita paru baya itu. Dia salah seorang tetangga yang memiliki usaha motel kecil.

"Sampai saat ini saya belum dapat menghubungi kuasa hukum dari pemilik hotel, namanya Pak Tjakra. Bagaimana kalau staf saya yang akan menghubungkan Ibu langsung ke Pak Tjakra? Ibu bisa langsung ngomel-ngomel ke dia"

"Silahkan. Tetapi saya ingin pekerjaan kalian dihentikan sampai masalah saya dengan pemilik hotel ini selesai" Aneh, perkataan Ibu itu sama persis dengan mimpinya. Padahal Daryl sudah memutar semua kalimatnya.

"Tidak apa-apa, saya bisa menghentikan pembangunan proyek ini sesuai kemauan Ibu. Tapi Ibu yang ngasih makan keluarga mereka" kata Daryl sambil menunjuk beberapa buruh bangunan yang sedang kerja.

"Bu R'O Construction juga merasa dibohongi. Kita berdua sama-sama rugi, apalagi buruh kontrak disini. Saran saya, biarin kami tetap bekerja dan bangunan ini jadi selagi Ibu mengurus masalah IMB ini. Toh, kalaupun dari pihak Ibu yang menang, Ibu gak rugi kami juga gak rugi. Yang penting kami sudah selesai membangun bangunan ini dan buruh-buruh ini bisa pulang bawa duit" Daryl dapat melihat raut wajah Ibu itu berubah.

Akhirnya masalah terselesaikan. Daryl berhasil menyelesaikan negosiasi. Ibu itu setuju dan membiarkan pembangunan tetap berlangsung sementara dia akan menyelesaikan persoalan IMB.

"Terima kasih" kata Daryl sembari berjabat tangan dengan Ibu tersebut.

Setelah berdiskusi singkat dengan Bima dan memberi masukan kecil pada pekerja yang lain, pria itu merasakan sesuatu yang ganjil. Dimana gadis itu? kenapa dia tidak melihat gadis itu.

"Dimana Rachel?" tanya Daryl.

"Dia di lantai tujuh" kenapa harus sama persis dengan mimpinya, batin Daryl. Pria itu sudah berkeringat dingin. Jantungnya pula ikut berdetak keras. Daryl langsung berlarian ke lantai tujuh.

Rasanya dia ingin menghentikan waktu, seandainya saja dia punya kekuatan itu. Daryl tidak bisa tenang. Dia tidak ingin kehilangan seseorang di tengah-tengah kebahagiaannya. Kini dia berlarian sambil berdoa kepada Tuhan.

"Jangan pisahkan aku dengan gadis itu"

Benar saja, ada Rachel yang sedang mengawasi pemasangan baja ringan. Dilihat dari belakang pun Daryl tahu kalau itu Rachel. Entah mengapa pria itu meneteskan air matanya. Kenapa dia merasa akan segera terjadi sesuatu yang buruk. Mengapa di saat-saat seperti ini Daryl menjadi pesimis. Daryl melihat gadis itu melepas helmnya di lantai. Rachel mengikat tali sepatunya.

"Rachel" panggil pria itu. Rachel menengok, Daryl tidak yakin apakah gadis itu sedang melemparkan senyum atau tidak, mata pria itu kabur karena air matanya.

"Hei, kenapa menangis?"

Rachel mendekat, gadis itu memeluk Daryl erat. Daryl balas memeluk gadis itu.

"Tidak apa-apa. Semuanya akan baik-baik saja" gumam Daryl. Pria itu sedang mengingatkan dirinya agar tidak perlu mengkhawatirkan apa-apa.

Mimpi buruknya berhenti disitu. Tidak ada kejadian berikutnya. Daryl merasa lega. Dia belum siap meninggalkan gadis itu. Dan ternyata Tuhan mengabulkan doanya.

"Terima kasih karena tidak memisahkan aku dengan gadis itu" kata Daryl dalam hati.

"Kenapa kamu nangis?" tanya Rachel. Gadis itu menangkup wajah Daryl dan menghapus air mata yang menetes.

"Ini semua karena kamu. Lihat, kamu sudah berhasil buat saya menangis"

Rachel tidak tahu apa maksud pria itu. Lantas gadis itu kembali memeluk Daryl. Dia tidak tahu apa salah yang dia perbuat, yang jelas dia ingin menenangkan pria itu.

"Saya mimpi ditinggalin kamu. Kamu meninggal di hadapan saya. Dan semua kejadian di mimpi sama persis seperti hari ini" kata Daryl membuat Rachel tertegun. Dia tak habis pikir kejadian itu membuat Daryl yang jarang menangis bisa menitikan air matanya demi Rachel.

"Saya minta maaf karena sudah buat kamu nangis. Tetapi kamu jangan khawatir, saya gak akan pernah buat kamu nangis lagi. Saya akan selalu ada di samping kamu dan tidak akan pernah meninggalkan kamu, karena"

"Kelak saya dan kamu akan berubah menjadi kita untuk selama-lamanya"

Selesai

APOLOGYBaca cerita ini secara GRATIS!