1

523K 24.2K 692
                                              

Rokok  (Check)

Kaleng bir (Check)

Arsen melirik Kevin dan Faza. Memberi dua jempol pada para sahabatnya yang duduk ngemper di depan gerbang rumah. "Hiji, loro, tilu. Tarik Mang!" Kevin memukul pantat galon air sebanyak tiga kali, lalu disusul dengan suara cempreng Arsen. "eta terangkanlah... Eta terangkanlah... Mama Arsen galak, Eta terangkanlah." Arsen menunjuk Faza selaku master backing vocal agar bangkit.

"Eta... Eta terangkanlaaahh..." Arsen menaikkan setengah bar nada. Lalu, "Icik kiwir.. Icik Kiwir.." sang backing vocal mengeluarkan suara emasnya membuat Arsen terbahak.

Faza emang paling mantep kalau disuruh jadi backing vocal. Arsen mengulurkan tangan pada Kevin, memberi kode kalau sahabatnya itu harus ikut berjoget.

Lengkap sudah konser tunggal ala Arsen. Bodo amat kalau nanti satpam komplek Kevin negor lagi. Arsen nggak perduli! Tukang bikin onar udah mendarah daging di hidupnya. Jadi urusan di damprat pikir belakangan aja. Penting happy-happy dulu.

"Lagi.. Lagi.." kata Faza membuat Arsen kembali membuka mulut, nerusin lagunya yang memang belum selesai. " Ampunilaaaaahhhhhhhh," teriakkan menggema Arsen lalu ikuti oleh Kevin dan Faza sebelum ketiganya terbahak bersamaan.

"Ibab! Udahan. Aib Mama-Papah gue, Anjing!"

Lah, baru sadar si Arsen. Kan biasanya juga lanjut sampai kata 'Mama-Papa sukanya ena-ena'. Kevin dan Faza menggeleng bersamaan. Tumben sekalikan Arsen cut bagian penting dari lagu ter-hits dalam play list anak itu.

Membalikkan badan, Arsen diam. Perasaan rumah di depannya sepi banget. Yang punya rumah pada kemana coba? Sia-sia dong dia main ke tempat Kevin.

"Heh Combro! Ngapain lo liatin rumah Rachell sampai segitunya? Nungguin tuh anak keluar?" Arsen melayangkan tangan ke kepala Faza. Anak Ashar Magrib dan mulut lemesnya paling yahud emang kalau bikin malu. Kenapa sih pakai di sebut segala. Kalau udah tahu ya diem kan bisa!

"Udah sih Fa biarin. Arsen kan emang malu-malu kucing anaknya. Tinggal bilang suka aja repot. Dia tiap hari ngerjain Rachell kan biar selalu deket sama tuh anak."

'Kampret. Kalau aja bunuh temen sendiri nggak bakal kena damprat Mak-Mak mereka yang galak. Gue bunuh nih ibab-ibab.'

"Ckck.. Nggak ketolong temen lo Kev. Gue mau pesen kamar di RSJ ah. Kali aja Arsen cepet gilanya. Secara kita pada tahu nih siapa cowok yang di taksir sama Rachell."

Jari-jari Arsen terkepal. Pengen banget Arsen maskerin bibir Faza pake cabe. Lambe turah banget. Nggak tahu apa hati Arsen dari beberapa bulan lalu udah nyut-nyutan. Lagian Rachell pake nembak Marchellino segala. Arsen kan jadi patah hati.

"Bener sih. Booking RSJ dulu secara saingan sama Bang El tuh ber..." Faza yang nggak peka sama kode kiriman Kevin terus aja ngomong sampai-sampai nggak sadar kalau muka Arsen udah merah nahan amarah.

Brakk!! Bibir Faza mengatup. Suaranya tiba-tiba ilang sewaktu Arsen nendang motor sport milik anak itu.

"Bacot lagi gih!" tantang Arsen dan Faza cepat-cepat menggelengkan kepala. Marahnya Arsen itu nggak ketolong. Jadi dari pada kehilangan kepala, Faza mending tahu diri kalau Arsen emang lagi patah hati.

Arsen menghembuskan nafas sekali. Susah juga jadi budak cinta ternyata. Makan hati mulu tiap hari, mana saingannya sama Abang sendiri. Padahal nih dibanding manusia yang bernama Marchellino Darmawan itu jelas dia lebih ganteng. Arsen merasa lebih muda juga dan pasti masih single. Nggak kaya Marchellino. Udah tua, punya tunangan lagi. Rabun mata si Rachell emang.

"Hell.. Rachell." Arsen mengedarkan mata cepat, mencari keberada manusia yang baru saja Faza panggil. Bukan menemukan sosok gadis pujaan Arsen malah mendapatkan bahakan dari Faza dan Kevin.

"Ngakak gue, Lord! Cinta mati beneran nih anak Kev." Tawa Faza mengudara. Anak itu bahkan sampai terpingkal sembari memegangi perut melihat wajah bodoh Arsen. Boro-boro ada Rachell. La wong kabar terakhir yang Faza dengar dari Kevin Rachell sekeluarga nginep di tempat Omanya.

"Sen.. Sen.." Arsen mengumpat dalam hati. Ia tak habis pikir kenapa bisa tahan untuk tak melayangkan bogem mentah pada ke dua sahabatnya. Kalau urusan sama nama Rachell, nggak tahu kenapa jiwa buli Arsen menciut seketika. Mirip orang bego udah pokoknya.

"Si Rachell kemana sih? Biasa juga joget-joget dia jam segini." Decak kesal Arsen membuat Kevin terkekeh. Tak mau di anggap sahabat durhaka Kevin akhirnya memberi tahu jika posisi Rachell saat ini berada tepat di depan rumah Arsen.

"Hah? Kok bisa?"

"Lemot ya lo kalau urusan Rachell. Gue tanya deh. Rumah Omanya Rachell di mana?"

"Depan rumah gue." Astaga! Demi dewa! Sebesar apa sih pesona Rachell sampai bisa buat tukang onar Angkasa Jaya jadi bego. Jawaban polos Arsen benar-benar di luar ekpekstasi Kevin. Luar biasa sekali tingkat bucin si Arsen.

"Bentar.. Wait! Dia di rumah Omanya?" Kevin mengangguk, begitu pula dengan Faza.

"Si Anjing! Terus ngapain gue ke sini, Ibab!"

Kevin dan Faza membelai dada naik-turun. Secara bersamaan mereka beristigfar. Sungguh sangat cerdas Arsen. Pantas saja anak itu tidak naik kelas sampai dua kali.

"Pager sialan! Sia-sia bensin mobil gue!"

"Goblok! Lo bawa motor." Arsen terkekeh. Benar juga kata Faza. "Ya Maaf Fa, kan gue lagi emosi. Typo dikit wajar lah. Amarah bergejolak nih." Menampakkan gigi putihnya Arsen memberi kan dua jari ke udara pada Faza.

"Tante Icha.. Tante Icha," menggelengkan kepala Faza lantas melanjutkan ucapannya, "Arsen lope yu pul nih sama tetangga depan rumah Mas Kepin. Faza hamilin aja apa ya biar Arsen masuk RSJ." Jeritan lalu terdengar saat kepalan jari-jari Arsen mendarat di kepala belakang Faza.

"Langkahin dulu mayat gue, Tapir!"

"Tiduran cepet, gue langkahin sekarang juga."

"Ya Allah maafin sahabat Arsen. Dia emang suka pengen mendahului takdir gitu anaknya Ya Allah." Arsen memasang muka melas. Siapa tahu kan Allah tiba-tiba aja ngutuk Faza jadi batu akik. Lumayan buat di jual buat modal ngajak Rachell malem mingguan tahun depan.

Kok tahun depan?

Iya! Nggak salah baca. Kan tahun depan Marchellino udah kawin, si Rachell patah hati kan ya. Lumayan waktu-waktu rapuh gitu Arsen deketin. Kasih minuman, teller, hamilin. Kelar deh! Langsung ijab Kabul pasti.

"Heh! Mikir jorok ya lo?" Arsen menggeleng. Tahu aja emang anak si Magrib kalau otaknya lagi mikir yang ena-ena.

"Udah gue mau balik dulu."

"Lah nggak jadi nginep lo Sen?" Arsen menggeleng sebagai jawaban pertanyaan Kevin. Kan nggak ada alasan. Ngapain pake ngidep segala. Mending dia balik, siapin teropong buat ngintipin Rachell.

"Yee, Vin. Dia nginep kan biar bisa liatin Rachell. Mana mau dia kalau udah tahu tuh cewek lagi di depan rumahnya."

'Beh.. Cabein juga deh mulut Faza. Kecil-kecil pinter juga otaknya. Nggak salah emang kalau ikut akselerasi. Di makanin apa kali sama Om Ashar.' Faza memang lebih muda dibandingkan Arsen dan Kevin, tapi otak anak itu tidak bisa diragukan lagi kecerdasyannya. Kepintaran Ashar dibuktikan dengan hasil akselerasi dimana ketiga anak adam itu satu kelas saat ini.

"Diem lo ibab! Bacot mulu. Mending lo tuh doain gue dapetin si Rachell. Menderita gue di tolak mulu."

Faza berdecak. 'Gimana si Arsen mau diterima, tiap hari selalu aja gangguin Rachell. Emang otak sinting gimana sih. Tobat deh punya temen macem Arsen. Katanya aja play boy, cinta mah tetep nyangkut di Rachell seorang.'

"Perkosa aja udah!"

"Ye si goblok!" maki Kevin sambil menoyor kepala Faza. Bagi Kevin saran Faza sungguh diluar nalar.

'Ya Allah. Akhirnya ada yang dukung gue buat ena-enain Rachell. Temen tuh gini. Kasih solusi paling mutakhir bukan malah doa-doa aja. The best emang lo Fa. Nggak salah gue sohib'an sama lo Fa.. Fa.' Arsen melayangkan dua jempot ke wajah Faza. Hatinya berbunga karena mendapat dukungan.


Di Paksa Kawin! (Open P.O)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang