"Tidak Dad, I can't be jealous"

Masih saja mengelak, batin Johan. Pria paru baya itu menyentuh bahu anaknya. Johan menatap anaknya tulus dan berkata,

"You grew up with Rachel. You spend time together. Dad tidak heran jika kamu menyukai gadis itu"

Mungkinkah itu jawaban dari semua pertanyaannya selama ini. Kenapa dia bisa cemburu pada pria lain yang dekat dengan gadis itu? mungkin karena dia telah tinggal bersama gadis itu hingga tanpa sadar tumbuh rasa cinta sebagai seorang pria.

"You and she have no blood relationship. Dad also didn't adopt Rachel. Tidak ada alasan untuk melarangmu bersama dengannya"

Tidak ada alasan bagi mereka berdua untuk tidak menjalin hubungan. Kali ini Daryl tersenyum. Mungkin dia terlalu gengsi mengakui isi hatinya. Dia jadi malu pada Ayahnya yang malah menjelaskan isi hatinya. Dia juga malu pada Bibi Noor yang selama ini selalu menggodanya. Apakah perasaannya terlihat jelas? Tanya Daryl pada dirinya.

"You should be smarter looking for the girl's heart. Don't pressure her, just make her believe you"

Ayahnya telah memberi dukungan. Jika dia tidak ingin gadis itu memilih orang lain, tentu dia harus lebih berjuang. Daryl melemparkan senyum pada Johan. Dia tidak perlu mengakui perasaannya pada pria paru baya itu, karena pria paru baya itu duluan yang mengetahui perasaannya.

"Thankyou Dad"

...

Asap mengepul di atas pembakaran. Rachel dibantu Johan mengipas-ngipas ikan agar tetap masak. Sementara Bibi Noor menyiapkan minuman.

"Apa kau sudah memikirkannya?"

Rachel tahu arah pembicaraan mereka. Dia juga memikirkan hal itu. apa yang perlu dia lakukan setelah ini. Rachel juga ingin tahu kabar Ibu kandungnya disana. Dia ingin melihat wajah wanita itu.

"Belum tahu Dad. Aku belum memikirkan hal itu"

Entah mengapa Johan merasa lega. Dia tidak ingin anak gadisnya itu pergi meninggalkan dia.

"She's your birth mother. Tetapi Ayah selalu menganggapmu sebagai anak kandung. Ayah tidak membeda-bedakanmu dengan Daryl. Here your house too. Dad always open the door for you, Rachel"

"Thankyou"

Hanya mereka berdua disitu. Rachel memeluk ayahnya singkat. Dia sangat berterima kasih karena Johan selalu menerima kehadirannya. Bagaimanapun juga Rachel selalu merasakan kehangatan seorang Ayah pada sosok Johan. Rachel tidak ingin meninggalkan orang sebaik Johan.

Daryl duduk di tepi perapian bersama Bibi Noor menunggu makanan datang. Mereka berdua mengobrol seperti biasa. Hanya Bibi Noor yang bisa mengoceh panjang lebar padanya.

Tempat rekreasi yang mereka datangi biasa digunakan untuk acara camping. Tetapi mereka tidak akan menginap, cukup sampai makan malam kemudian kembali pulang ke rumah.

"Hei, what are you talking about? Are you talking about me?" tanya Johan yang ikut bergabung. Bibi Noor tidak terlalu fasih berbahasa inggris sehingga dia menatap Daryl meminta diterjemahkan.

"Ayah tanya apa yang saya dan bibi bicarakan" jelas Daryl. Bibi Noor ber'oh'ria.

"Saya sama Mas Daryl bicarain tentang rumor di tempat ini Tuan. Bibi pernah dengar katanya ada anak muda yang pernah bunuh diri di tempat ini" Johan merinding. Sementara Daryl kelihatan tak perduli tentang rumor seperti itu. Dia tidak percaya dengan yang namanya hantu.

"Daryl, temani adikmu disana. Dia sendirian membakar ikan" kata Johan sambil mengedipkan matanya. Bibi Noor juga ikutan melempar senyum aneh pada Daryl. Tanpa babibu, Daryl langsung menuju tempat Rachel.

Dari jauh pria itu melihat Rachel yang masih menjaga kondisi batu bara. Sesekali Rachel memegang jari tangannya. Daryl mendekat,

"What happened to your finger?" tanya Daryl khawatir. Rachel menggeleng dan berusaha menyembunyikan jari tangannya. Lantas Daryl mengecek jari tangan gadis itu.

"Astaga! Harusnya kamu lebih hati-hati"

Daryl membersihkan luka di tangan Rachel. Sebelumnya Rachel ingin membelah badan ikan agar bisa matang ke dalam. Tetapi tak sengaja jarinya teriris. Rachel tidak sempat membersihkan lukanya itu. Beruntung Daryl datang lebih cepat.

"Kalau infeksi bisa bahaya" kata Daryl. Nada suaranya datar sama seperti wajahnya yang tidak menunjukkan ekspresi apa-apa. Pria itu sibuk membersihkan jari Rachel dengan air mineral.

"Lukanya dalam banget. Lihat, darahnya masih ada yang keluar"

Deg, tangan gadis itu berubah kaku. Rachel memperhatikan Daryl yang mengisap darah di jarinya. Entah mengapa ada rasa yang tak biasa pada Rachel. 




Painelli udah part 12 aja wkwkwk, Vote dan komen yaa muah

APOLOGYBaca cerita ini secara GRATIS!