Gi

9 0 0

Tap tap tap..
Derap langkah kaki seorang gadis menggema sepanjang koridor sekolah, padahal hari masih sangat pagi namun dengan tergesa-gesa gadis ini menapaki setiap anak tangga yang membawanya menuju atap sekolah.
Libra Okta Lingga itulah nama yang tertera pada seragam gadis tersebut.
Sesampainya di atap sekolah dia menanggalkan ranselnya di sebuah bangku, lalu merogoh ransel tersebut dan mengambil sesuatu, itu sebuah kamera polaroid.
Cekrek..
Dengan santai dia membidik sang fajar yang baru saja terbangun dari tidurnya. Tanpa menunggu lama sebuah kertas bergambarkan sang fajar pun langsung keluar dengan sendirinya namun memang belum terlihat sempurna.
Libra menarik gambarnya dan mengeluarkan pulpen yang telah dia sediakan sejak tadi. Lalu dia menuliskan tanggal hari ini yaitu 09 Januari 2017 dan dia memasukan foto itu kedalam sebuah buku album pada covernya tertulis "Cinta Libra". Libra membuka lembaran pertama disana ada sebuah foto usang yang menampilkan 3 anak kecil dan salah satunya adalah perempuan.
Entah apa maksud dari semua ini.
Setelah Libra rasa cukup untuk hari ini, kemudian dia kembali membereskan kamera dan ranselnya. Dia melihat jam yang setia menggenggam pergelangan tangannya itu sudah menunjukkan pukul 06.15 pagi. Sekolah sudah mulai ramai rupanya.
Kemudian Libra pun bergegas untuk pergi ke kelasnya.
Sesampainya di kelas
"Pagi Libra" seseorang menyapanya dengan senyuman.
"Pagi" senyum Libra tak kalah manis membalasnya.
"Habis dari atap?" ucap seseorang itu lagi seakan tahu rutinitas Libra.
"Tebakanmu tepat sekali, Nazwa" jawab Libra dengan senyuman namun kali ini terlihat seperti senyum kecut.
"Ah maafkan aku jika ucapanku itu salah" sesal gadis bernama Nazwa itu.
"Tak apa aku mengerti, lupakan saja. Hhh~" ucap Libra diiringi tawa kecil sembari berjalan menuju mejanya.
Waktu berjalan begitu cepat, semua murid sudah mulai berdatangan. Dan bel masuk pun berbunyi. Namun kelas Libra tetap saja gaduh, karena belum ada satupun guru yang masuk.
Tap..tap..tap derap langkah kaki menggema mendekati kelas Libra, dan langkah itu semakin jelas ketika seseorang membuka pintu dan membuat keadaan hening seketika. 
Di balik pintu terlihat seorang wanita paruh baya yang tak lain tak bukan adalah wali kelas Libra diikuti oleh seorang pemuda yang tingginya melebihi wanita itu sendiri sehingga pemuda itu terlihat sangat jelas di belakangnya. Wali kelas Libra bernama Widya biasa di sapa Miss Widya karena memang dia guru bahasa inggris di sekolah ini.
"Morning students" sapa Miss Widya dengan penuh semangat.
"Morning miss..." jawab serempak para murid termasuk Libra.
"Selamat datang kembali ke sekolah, bagaimana liburan kalian?" tanya Miss Widya dengan antusias.
"Garing miss"
"Seruu miss"
"Gak puas miss  karena kurang lama"
"Saya cuma liburan dikasur" begitulah rata-rata jawaban para murid yang seketika membuat Miss Widya terkekeh mendengarnya.
"Baik-baik simpan dulu cerita tentang liburan kalian itu, sebelumnya miss ada kabar baik untuk kalian semua" ucap Miss Widya
"Kabar baik apa miss?" seru salah satu murid.
"Kelas ini mendapat kesempatan mewakili sekolah dalam ajang perlombaan film pendek tingkat nasional" seru Miss Widya dengan lantang dan jelas.
"Serius miss? Kita lolos ke tingkat nasional?" tanya Libra dengan penuh harap.
"Wah gak nyangka perjuangan kita gak sia-sia" seru seorang lainnya.
"Tapi bukan hanya itu kabar baiknya" ucap Miss Widya penuh makna.
"Ada lagi Miss? Wah mimpi apa semalaman aku ya" tanya seorang murid laki-laki
"Mimpi ketiban duren kali" jawab Libra dengan asal. Tanpa Libra sadari pemuda yang ada dibelakang Miss Widya terus memperhatikannya.
"Hahaha" semua murid tertawa tak terkecuali Miss Widya.
"Sudah sudah, kabar baik yang kedua adalah kelas kita kedatangan murid baru. Ayo perkenalkan dirimu pada teman-teman" suruh Miss Widya pada pemuda yang dia panggil Gian itu.
Pemuda itu maju dan berdiri di depan para murid. Beberapa murid perempuan berbisik karena terpana dengan ketampanan pemuda itu, dan tak sedikit murid laki-laki yang juga berbisik dengan iri.
"Perkenalkan nama saya Giannoval Saputra kalian bisa memanggil saya Gian, saya berasal dari Bandung. Mohon kerjasamanya" ucapnya diiringi senyum yang membuat beberapa gadis disana meleleh seketika.
Di saat gadis lain terpana melihat Gian, lain halnya dengan Libra dia hanya diam tanpa menatapnya sedikitpun.
"Baik Gian selamat bergabung di kelas ini, miss harap kau betah berada disini. Kau boleh duduk di sebelah Ridho, yang bernama Ridho acungkan tangan"
"Disini.." Ridho mengacungkan tangannya, dan Gian pun berjalan menuju mejanya.
Tapi pandangan Gian tak pernah lari dari Libra, ada apa sebenarnya? Libra pun merasa bahwa Gian terus memperhatikannya. Namun dia kembali larut dalam buku yang ada digenggamannya.
Pelajaran berlangsung dengan damai, tak ada yang berkutit sedikitpun suasana sangat hening hanya suara Miss Widya yang terdengar. Hingga suara bel istirahat membuyarkan konsentrasi mereka.
"Baik sampai disini dulu ada pertanyaan?" tanya Miss Widya sebelum mengakhiri pelajaran.
"Tidak miss" semua murid berteriak kompak.
"Yasudah, selamat beristirahat dan jadilah anak yang baik" pesan Miss Widya untuk semua.
"Baik miss" kembali berteriak secara serempak.
Libra merasakan ada langkah kaki mendekat padanya, dan benar saja Gian sudah berada dihadapannya sekarang.
"Apa kabar?" sapa Gian dengan tenang
"Masih berani muncul di hadapanku?" balas Libra dengan tanya
Entah hati siapa yang tengah pecah dan siapa yang memecahkannya disini, waktu masih saja membisu namun terlihat sekali keduanya memiliki luka yang teramat dalam.
"Libra.." seseorang memanggil Libra menoleh dan mendapati Siska memanggilnya dari arah pintu
Libra pun berdiri dan beranjak pergi namun sebuah tangan menahannya.
"Lepasin gue" ucap Libra dengan penekanan. Semua murid yang masih berada diruangan itu melihat kearah mereka penuh tanya.
"Tapi.." ucap pemilik tangan yang menahannya, Libra merasakan genggaman itu semakin melemah bersamaan dengan ambruknya pemuda disampingnya siapa lagi jika bukan Gian.
"Noval.." teriak Libra membuat seisi kelas dan orang-orang yang sedang berlalu lalang diluar kaget dengan apa yang mereka lihat.
"Panggil ambulance" seseorang berteriak membuat suasana semakin ricuh,
"Ada apa ini" Miss Widya datang dan melihat seorang pemuda tergeletak dan darah mengaliri hidungnya
"Gian, apa yang terjadi? Semuanya jangan panik kembali ke kelas kalian masing-masing" perintah Miss Widya pada murid-murid yang ikut mengerubungi Gian.
Petugas ambulance datang dan segera membawa Gian kerumah sakit. Libra yang saat itu menyaksikan kejadiannya hanya bisa termenung tanpa mengucapkan sepatah katapun.
Sepulang sekolah Libra tak langsung kerumah namun ia pergi kesuatu tempat. Danau ah lebih tepatnya rumah pohon yang berada ditepi danau. Saat tiba disana Libra melihat seorang pemuda yang sejak tadi menjadi perhatian utama dalam pikirannya.
Libra ingin lari namun sepertinya pemuda tersebut menyadari kehadiran Libra dan berusaha mengejarnya.
"Ra..tunggu" dengan gontai pemuda yang tak lain adalah Gian itu mengejar Libra, namun langkah Libra lebih gesit dibandingkan Gian yang masih lemah itu.
"Plis Ra.." lirih Gian melihat Libra semakin menjauh dari pandangannya. Sakit yang teramat kembali melanda kepala Gian, tapi kali ini dia tak boleh menyerah.
Pandangan Gian mulai pudar, tak mudah memang untuk melawan rasa sakit yang diciptakan oleh Tuhan terlebih lagi rasa sakit yang dirasakan itu adalah bentuk kasih sayang Tuhan pada umatnya.
Pertahanan Gian mulai goyah dia tak bisa menopang tubuhnya sendiri dan hampir terjatuh, hampir? Ya seseorang menangkap tubuhnya tepat waktu hingga dia tak terjatuh.
"Libra.." ucap Gian yang kini berada di pangkuan Libra.
Libra yang sedari kemarin memendam emosinya kini meluapkan semua itu dengan airmata yang membanjiri pipinya.
"Jangan nangis, aku minta maaf jangan nangis Ra. Plis jangan nangis aku minta maaf maafin aku" ucap Gian berusaha bangkit sejajar dengan Libra yang tengah duduk.
"Apa yang harus aku lakuin supaya kamu berhenti nangis Ra? Apa aku harus pergi selamanya. Ah iya kayanya itu yang terbaik" Gian bangkit dari duduknya namun gagal tubuhnya yang lemah menolak niatnya itu.
"Bodoh, lemah. Ayo bangun Gian loe pasti bisa, loe harus pergi selamanya dari hidup Libra dari dunia ini setelah apa yang loe lakuin sama Lingga" racau Gian yang masih berusaha untuk berdiri.
Tangis Libra semakin menjadi, namun tanpa disadari dia meraih tangan Gian dan mulai memukul-mukul dada pemuda dihadapannya.
"Pukul Ra pukul yang kenceng, kalo itu bisa ngebuat dosa aku ke kakakmu itu berkurang walaupun aku sangat yakin dosa ini akan terus melekat dalam diri aku"
Pukulan Libra bukannya semakin kencang namun menjadi pelan.
"Udah Gi udah" dan untuk pertama kalinya lagi Gian dapat mendengar suara Libra yang dulu sering dia dengar.
"Aku yang terlalu buta dan tuli karena kehilangan” lanjut Libra.
Gian terdiam, kini hanya isakan tangis yang sedang berlomba dengan suara sang angin.
Waktu seakan mengerti yang terjadi, ia pun tanpa sadar memutar kembali arahnya dan berusaha menampilkan kisah kelam di masa lalu.

Dua remaja laki-laki tengah asyik bermain basket tanpa menghiraukan gadis seusianya yang sedang membidik dengan benda kesayangannya kamera polaroid itu pada mereka.
Tanpa sengaja bola melambung jauh tepat ditepian jalan oleh salah seorang dari mereka.
Kenapa? teriak gadis dengan kamera polaroidnya itu.
Bolanya kelempar jauh dek,bentar biar kakak ambilin”
Noval kan yang lempar kak, kenapa kakak yang harus ambil?
Iya Ga biar aku aja yang ambil
Udah biar aku aja, kamu jagain adekku ya ucap Lingga langsung berlari kearah jalan.
Mungkin itu adalah ucapan terakhir yang didengar oleh Giannoval dari mulut sang sahabat sebelum akhirnya Lingga yang tak lain adalah kakak Libra Okta Lingga itu dipanggil sang Pencipta.

Dan bodohnya lagi setelah kepergian Lingga, Gian menghilang tanpa jejak. Membuat Libra semakin geram dan dengan terpaksa menyimpan rasa benci yang tak ia inginkan pada Gian.
Ga maafin gue, karena baru sekarang gue beraniin diri buat dateng kesini. Tiga tahun gue hidup dalam rasa bersalah ucap Gian menatap nisan bernamakan Lingga Putra.
"Kamu jahat Gi"
Itu suara Libra dan siapa sangka sejak tadi dia berdiri disana menatapnya dengan penuh kecewa.
Gian beranjak dari duduknya dan mulai menghampiri Libra.
Maaf Ra, tiga tahun hanya kata itu yang selalu menemani aku dalam ruangan yang bagiku seperti penjara daripada ruangan yang katanya dapat menyembuhkan itu dan mungkin itu adalah alasan perpisahan antara kita
Libra tak dapat membendung kesedihannya, dengan segala kekuatannya dia berjalan melewati sosok Gian menuju gundukan tanah di depannya. Di tangannya pula tersimpan sebuah kertas yang tak lagi berbentuk, berkat genggaman kekesalan tangan mungil itu.
Kertas itu terjatuh menampakan beberapa bait kalimat indah namun menyayat hati.

"Aku tahu maafku takkan pernah kau terima dengan alasan apapun, aku hanya ingin berterimakasih karena kamu telah menjadi gadis tangguh meski terdapat kerapuhan di dalamnya. Namun sekali lagi aku berterimakasih untuk setiap tangisanmu di malam hari yang menjadi alasan mengapa hatiku seperti tersayat-sayat selama tiga tahun terkaparku.
Dan itu masih tak cukup.. hingga rasanya Tuhan menyuruhku untuk segera pulang mengambil maaf yang seharusnya ku pinta sejak lama
Gi"

The End

Ruangan itu berubah gelap untuk sejenak, namun sedetik kemudian lampu-lampu kembali menyala.
Semua penonton bersorak dalam isak tangis yang masih tersisa di pipi mereka. (alunan musik menyala).
"Gi.. kamu itu rapuhku, juga kuatku." ucap Libra dalam hati di tengah keramaian ini.

Selesai!

DWIGIBaca cerita ini secara GRATIS!