Part 8✔

2.6K 112 0

"Fisik dan penampilan hanyalah kepuasan mata. Sedangkan perasaan adalah kepuasan hati. Sebenarnya, apa yang dibutuhkan dari sebuah cinta? Kepuasan mata atau kepuasan hati?"

~~~

Sejenak menghilangkan rasa penat karena kejadian tadi di karnaval, Sye menonton televisi untuk melemaskan urat-urat otaknya yang sedari tadi menegang karena kakak kelasnya itu.

"Non, mau Bibi buatkan susu?" tawar Bi Inem.

"Nggak perlu, Bi, Sye lagi nggak haus. Makasih ya, Bi," tolak Sye dengan nada yang sopan.

"Atau mau Bibi pijit saja?" tawar Bi Inem untuk yang kedua kalinya.

"Nggak juga deh, Bi. Emm, mending Bibi sekarang istirahat aja deh," Sye tersenyum dengan bibi kesayangannya itu.

"Siap, Non." ledek Bi Inem sembari berlalu meninggalkan Sye.

Sye mulai bosan jika harus menonton televisi terlalu lama. Dimatikannya televisi itu lalu berpalingnya pandangan mata Sye ke arah ponselnya yang bergetar.

Sye menaiki anak tangga menuju kamarnya di lantai dua sambil membuka notifikasi ponselnya. Ditutupnya pintu kamar dengan sangat halus. Dijatuhkannya asal tubuhnya ke atas kasur kingsize kesayangannya.

From : Unknown
Hai, cantik!

"Siapa nih? Kok nggak ke save nomernya?" Sye penasaran dengan si pengirim pesan tersebut.

To : Unknown
Siapa?

Sye menjawab pesan itu dengan singkat namun dapat menjawab kebingungannya tentang siapa sebenarnya pengirim itu.

Unknown : Galak amat si, princess.
Sye : Siapa sih lo?
Unknown : Tenang, gue nggak bakal nyakitin lo.
Sye : Terus lo siapa?
Unknown : Jodoh lo kali wkwkwk.
Sye : Saik.
Unknown : Lo bakal tahu siapa gue, kalau waktunya udah tiba.

Sye tak menghiraukan balasan terakhir dari si 'unknown' itu. Ia lelah. Lelah fisik, lelah pikiran, dan juga lelah perasaan. Kelelahannya hari ini membuat Sye terlelap dengan ponsel yang masih digenggamnya.

♦♦♦

Sye menuruni anak tangga menuju lantai satu untuk mencari makanan di dapur setelah tidurnya berhasil merampas rasa kenyangnya. Belum sampai Sye di dapur, tiba-tiba ia dikejutkan oleh panggilan seorang wanita yang tak lain adalah maminya.

"Syeila," panggil Sarah.

"Eh, iya, Mi?" sontak Sye menoleh dan menjawab sapaan itu.

"Nanti malam ikut Mami sama Papi, yuk,"

"Kemana, Mi?" Sye bingung dengan ajakan Sarah.

"Ke acara pertemuan relasi-relasi bisnis Mami sama Papi, mau ya?" rayu Sarah supaya anaknya itu mau pergi dengannya. "Nanti Mami beliin bunga baru deh," pancing Sarah.

Mata Sye membulat, mulutnya terbuka lebar, hatinya bersorak sorai ketika mendengar 'bunga baru'. Sye langsung mengangguk tanda mengiyakan ajakan Sarah.

"Oke, Sye ikut, Mi," ucapnya meyakinkan.

"Oke, Princess,"

Love Is Miracle [COMPLETED]Read this story for FREE!