"Qil, ke karnaval yok,"
'Kapan, Sye?'
"Sekarang, bisa?"
'Emmm, bisa sih. Ya udah, gue ke rumah lo ya,'

Sye bergegas pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Tak sampai sepuluh menit, Sye sudah keluar dari kamar mandi dan langsung merias diri.

Kaos putih lengan pendek dipadukan dengan rok mini berwarna biru laut, rambut yang sengaja dibiarkan terurai namun tetap mengenakan kacamat bulatnya tak menghilangkan kesan culun dalam dirinya.

"Non, ada temennya di bawah non," panggil Bi Inem sambil mengetuk pintu kamar Sye.

"Iya, Bi, Sye bentar lagi turun," teriak Sye dari dalam kamar.

Sye keluar dan langsung turun ke lantai satu menemui Qilla yang sudah menunggu dari empat menit yang lalu.

"Yok," ajak Sye bergembira.

"Hmm," Qilla memutarkan bola matanya karena Sye yang tak sadar apa yang ia lakukan.

♦♦♦
Sye langsung berlari ke arah pintu masuk seturunnya dari mobil. Dipandanginya para penjual makanan satu persatu. Rasanya ingin sekali Sye menjajali makanan dari semua penjual di situ, namun perutnya menolak untuk makan terlalu banyak.

Sye melihat sebuah permainan tembak-tembakan yang berhadiah boneka sapi berwarna biru. Sye tertarik dengan permainan itu dan berniat untuk mencobanya demi mendapatkan boneka sapi itu.

Ditembaknya peluru pertama dan gagal. Tembakan kedua hasilnya masih tetap nihil. Tepat pada tembakan ketiga, boneka itu resmi menjadi miliknya.

"Yeay! Qil, gue dapet Qil," sorak sorai Sye.

"Hebat, Sye," puji Qilla kepada sahabatnya itu.

"Es krim yuk, Qil," ajak Sye.

"Yok,"

Dibelinya dua cone es krim dengan varian rasa yang berbeda. Sye dengan es krim stroberinya dan Qilla dengan es krim anggurnya.

Mereka berjalan menyusuri lapangan karnaval yang sangat luas. Melihat-lihat wahana yang ada di sana.

BUKK!!!

Tubuh Sye bertabrakan dengan seorang laki-laki yang bertubuh kekar. Es krim yang digenggamnya jatuh begitu saja mengenai boneka sapi barunya yang menyebabkan noda merah muda di boneka itu.

"Mata lo di dengkul ya?" omel cowok itu.

Sye yang kecewa karena bonekanya kotor, hanya bisa menunduk mendengarkan olokan dari laki-laki itu.

"Kalo orang tanya tuh dijawab," ucap laki-laki itu.

"Bentar deh, lo si Culun itu bukan sih?" laki-laki itu menerka.

Sye mengangkat kepalanya ketika mendengar kata 'culun' dari laki-laki itu. Sye terkejut ketika mengetahui bahwa orang yang menabraknya adalah rivalnya. Namun kali ini, Sye sedang tidak ingin beradu mulut. Rasa emosinya berganti sendu.

"Kak Faldo yang nabrak aku sampe boneka aku kotor?" Sye menunduk setelah mengucapkan kalimat itu.

"Cuma boneka doang? Heh, lo tuh gila kali ya? Boneka sapi kaya gini lo tangisin? Nggak waras kali lo ya?" Faldo mengolok dengan nada setengah naik.

Love Is Miracle [COMPLETED]Where stories live. Discover now