Part 7✔

2.6K 113 0

"Jerih payah seseorang lebih berharga dibandingkan dengan apapun yang terbeli oleh uang."

~~~

Minggu yang cerah mempersembahkan sinarnya untuk seluruh penjuru dunia. Sinar matahari yang menusuk menembus tirai jendela kamar Sye berhasil membangunkan gadis cantik pagi itu. Dilihatnya sayup-sayup sudut demi sudut kamarnya. Ia terduduk di atas ranjang sambil mengumpulkan nyawanya yang masih tertinggal di alam mimpi.

Sye bergegas pergi ke kamar mandi untuk mencuci wajah dan menggosok gigi. Setelah selesai, Sye keluar dari kamar mandi lalu meraih jepit rambut di atas meja nakasnya dan mencepol rambutnya asal.

Dituruninya satu persatu anak tangga menuju lantai satu. Dicarinya sebuah teko air untuk menyiram tanaman kesayangannya.

Muncul sebuah senyuman lebar ketika Sye melihat bunga-bunganya tumbuh dengan subur dan indah. Sye memang penggemar bunga sejati, terutama pada bunga Candytuft. Candytuft yang manis dan cantik saat dipandang mata.

Kecintaannya terhadap bunga tak sebanding dengan kecintaannya terhadap Tuhan dan keluarganya. Ibaratnya, kecintaannya terhadap bunga hanyalah hobi semata. Sedangkan kecintannya terhadap Tuhan dan keluarga adalah kewajiban.

"Pagi, bunga-bungaku yang cantik," Sye tersenyum lebar sambil menyapa tanaman bunganya.

Disiraminya tanaman bunga itu dengan urut mulai dari bunga lokal hingga bunga impor. Obsesinya terhadap bunga memang sudah turun-temurun dari keluarganya. Mami Sye sangat menyukai bunga. Omanya pun sama, sangat menyukai bunga.

WUSS...

Sye menoleh ketika mendengar suara seperti sesuatu terbang lalu jatuh. Dilihatnya sebuah selebaran di depan gerbang rumahnya. Diambilnya selebaran itu lalu dibacanya.

Selebaran yang Sye nantikan selama ini. Selebaran karnaval tahunan. Sye bersorak sorai ketika mengetahui ada karnaval tahunan.
Sye bergegas masuk kedalam rumah lalu menaiki anak tangga menuju kamar Bang Carlos, kakaknya.

"Bangg!!! Abangg!!! Buka pintunya dong," pinta Sye dari balik pintu kamar abangnya.

"Ada apa, Sye?" tanya abangnya sembari membuka kenop pintu.

"Karnaval yok, udah lama nggak ke sana nih," rengek Sye pada Abang kesayangannya itu.

"Karnaval? Karnaval apaan?" tanya abangnya bingung.

"Itu loh bang, karnaval yang diadain tiap tahun," jelas Sye pada abangnya.

"Oohh,"

"Mau ya bang? Temenin Sye," Sye memohon pada abangnya.

"Ya, abang sih mau-mau aja, tapi abang udah ada janji sama Tresya," tolak abangnya secara halus.

"Kak Tresya lagi? Pacar mulu, adeknya kapan?" sindir Sye sembari berlalu pergi dari hadapan abangnya.

Carlos hanya terkekeh melihat tingkah adik manisnya itu.

Sye yang sedikit kesal dengan abangnya, memutuskan untuk mengajak Una. Namun hasilnya tetap saja nihil, Una sudah pergi ke puncak dengan keluarganya. Hanya ada satu orang lagi yang bisa ia ajak pergi, Qilla. Sye menelpon Qilla untuk mengajaknya pergi ke karnaval.

Love Is Miracle [COMPLETED]Read this story for FREE!