6

2.6K 285 7

.
.
.

Sudah 2 hari setelah kejadian itu. Daniel tidak pernah melihat Rara dirumah sakit ataupun mengunjungi Nino. Jujur saja hatinya saat ini sangat resah. Apa lagi saat melihat Rara benar benar mengikuti perintahnya pergi dari apartementnya.

"Niel, apa kau tidak mau menghubungi Rara?" Tanya manager Jung. Daniel hanya menggelengkan kepalanya lesu.

"Eom...ma"

"Nino" ucap Daniel mendekati Nino yang baru saja siuman.

"A..ppa"

"Hyung panggilkan dokter" ucap Daniel kemudian manage Jung langsung pergi.

---

"Bagaimana uisa-nim?"

"Kondisinya baik saat ini. Aku pikir jika Nino banyak istirahat dia bisa cepat pulang"

"Syukurlah. Kamsahamnida uisa-nim"

"Ne" dokter tersebut kemudian pergi.

"Appa" panggil Nino.

"Ne Nino. Appa disini" ucap Daniel mendekati Nino.

"Eomma eodiga?"

Pertanyaan itu cukup membuat Daniel terdiam. Daniel bingun, bagaimana dirinya harus menjawab pertanyaan anaknya itu.

"Appa, eomma eodiga?"

"Eomma sedang sibuk sayang. Nanti eomma akan kemari" ucap Daniel bohong. Nino hanya mengangguk.

---

Sudah 3 hari ini Nino selalu menayakan eommanya. Daniel kehabisan akal membuat alasan untuk meyakinkan Nino.

"Appa, eomma eodiga~" ucap Nino akan menangis.

"Nino eomma sedang pergi membeli..."

"Appa bohong, bohong!" Sekarang Nino menangis.

"Nino" Daniel hendak menggendong anaknya itu, namun Nino menolak dan memukul tangan Daniel.

"Appa bohong! Bohong!! Hueee eomma~ hiskk eomma~"

"Nino! Eomma sudah pergi" ucap Daniel sedikit kesal. Nino mendengar itu berhenti menangis.

Manager Jung mendekati Daniel.
"Daniel, apa yang kau katakan barusan pada Nino" bentak manager Jung sedikit berbisik.

"Eomma? Eomma~" Nino dengan cepat turun dan pergi berlari keluar.

"Nino~ Kang Nino" ucap Daniel sambil mengejar anaknya itu.

"Eomma huuueee eomma" Nino berlari mencari ibunya itu.

Daniel menangkap Nino dan menggendong paksa Nino. Nino brutal menolak gendongan Daniel, namun kekuatan Nino tidak sebanding dengan Daniel yang merupakan ayahnya itu.

"Lepaskan appa, lepaskan!" Daniel diam tak membalas.

"APPA!"

Daniel mendudukan Nino ditempat tidurnya.
"Appa jahat, appa jahat. Nino ingin beltemu eomma"

"Nino, eomma sudah pergi. Appa juga tidak tau. Sekarang Nino bersama appa saja ne"

"Shileo~. Nino ingin belsama eomma. Appa ayo kita cali eomma"

Daniel hanya bisa diam menatap anaknya itu.

---

"Eomma" igau Nino.

"Eomma" Nino terbangun dari tidur siangnya kemudian Nino melihat sekitar.

Nino turun dari tempat tidurnya kemudian keluar.
"Eomma~ eomma~" lirih Nino.

Tak lama setelah itu Daniel yang tertidurpun bangun dan menyadari Nino tidak berada di tempat tidurnya.

"Nino?" Daniel mencari Nino di kamar mandi namun tak ada siapapun"

"NINO! KANG NINO NEO EODIGA?!"

"Ada apa?"

"Hyung, kita harus mencari Nino sekarang juga. Nino menghilang"

Kemudian merekan mencari Nino ke berbagian penjuru ruangan rumah sakit.

Daniel yang mulai putus asa mencari anaknya itu mengusap mukanya kasar. Sudah hampir 30 menit tapi dirinya belum menemukan anaknya.
"Nino, neo ediga? Appa sangat takut terjadi sesuatu padamu" lirih Daniel.

"Eomma hueeee eomma"

"Suara itu" lirih Daniel. Daniel melihat kesamping. Terlihat anaknya tengah berjalan sambil menangis tersendu sendu.

"Nino" Daniel dengan cepat nendekati Nino.

"Nino sayang" Daniel mensejajarkan tubuhnya kemudian memeluk anaknya sejenak.

"Nino kemana saja? Appa sangat khawatir sayang" ucap Daniel.

"Appa, Nino ingin eomma" ucap Nino terisak.

Daniel mengangguk.
"Ne, appa akan mencari eomma. Appa akan menbawa eomma kepada Nino"

"Yakso"

"Ne, appa yakso"

Nino mengangguk. Daniel langsung memeluk anaknya kembali.

---

Daniel menatap anaknya yang tengah tertidur pulas.

"Niel, kau harus membawa Rara Kemari"

Daniel mengehelas nafas frustasi.
"Hyung, haruskah?"

"Niel, Nino membutuhkan Rara. Kau ingin Nino baik baik saja bukan?"

Daniel menghelas nafas berat.
"Bagaimana dia langsung menuruti apa yang aku katakan" ucap Daniel frustasi.

"Aku tau, kau tidak bisa merelakannya bukan?" Daniel hanya terdiam.

"Niel, seharusnya kau jangan katakan itu pada Rara"

"Entahlah hyung. Aku tidak ingin memikirkannya"

"Niel, kau yakin akan bercerai dengan Rara?" Tanya manager Jung.

"Mungkin" ucap Daniel kemudian pergi membawa kunci mobilnya.

Daniel berjalan dengan tatapan kosong. Daniel tidak bisa mengingkari dirinya merindukan Rara, namun juga kecewa dengan Rara yang dengah mudahnya lalai menjaga anak laki laki mereka.

"Aku harus bagaimana Rara. Kau yang mempersulitku" lirih Daniel sambil ngusap mukanya kasar.

"Aku akan bercerai dengamu? Atau bertahan?" Lirih Daniel dengan frustasi.

.
.
.

Terimakasih sudah membaca, vote dan coment^^

Maaf untuk kali ini lebih sedikit dan konfliknya gak bagus seperti sebelum sequel karna ide ini muncul begitu aja biar sequelnya gak datar 😂😂

My Nurse - Kang DanielBaca cerita ini secara GRATIS!